Orientasi Festival Seni Keagamaan yang Ke-3

September 26, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Subdit Pemberdayaan Umat pada Direktur Urusan Ditjen Bimas Hindu menyelengagarakan kegiatan Orientasi Festival Seni Keagamaan yang Ke 3 yang di selenggarakan di Hotel Grand Cempaka Jakarta, Minggu (15/9).

Dalam himbauan Dirjen Bimas Hindu para Seniman dan para ketua sanggar seni keagamaan untuk memikirkan pesiapan penyelenggaraan Festival Seni Keagamaan Hindu yang ke 3 yang akan dilaksanakan 2 tahun kedepan tapi paling tidak kita semua berpikir bahwa penyelenggaraan Festival Seni Keagamaan harus ada dan penyelenggaran kedepan itu harus lebih baik dari sebelumnya, mengapa saya harus mengatakan itu’ ujar Yudha Triguna.

Dirjen berpesan kepada para peserta Orientasi Festival Seni Keagamaan khususnya para Narasumber untuk memberikan celah munculnya kreatifitas, inovasi kesenian yang tidak jauh dari maksud penyelenggaraan Festival Seni Keagamaan.

Akhir dari sambutan Yudha Triguna selama 2 hari kedepan Orientasi ini khusus mendiskusikan dan mengharapkan memberikan pendapat saran kepada kami dipusat untuk merumuskan kriteria-kriteria, disamping yang sudah berlangsung selama ini sehingga acara ini orientasi memperoleh manfaat bagi direktorat maupun lembaga seni, serta mampu membangun budaya seni sebagai bagian pembangunan rohani umat Hindu dan mampu mengisi aktifitas seni yang modern.

Sumber: Bimas Hindu

Candi Baru Ditemukan di Dieng

September 26, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Sebuah bangunan candi ditemukan secara tak sengaja di Dataran Tinggi Dieng. Candi ini terletak di ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut.

“Ini merupakan candi tertinggi yang ada di dataran tinggi Dieng,” kata staf Unit Pelaksana Teknis Daerah Pariwisata Dieng, Saroji, Rabu 25 September 2013.

Ia mengatakan, candi tersebut ditemukan pada Ahad 22 September 2013 secara tak sengaja. Candi itu terletak di Bukit Pangonan, sebelah selatan kawasan Candi Arjuna Dieng.

Saat itu, kata Saroji, ia sedang mencari lokasi untuk melihat matahari terbenam. Selama ini, di Dieng sudah ada dua titik melihat matahari terbit dan terbenam yakni bukit Sikunir dan Prau.

Kepala UPTD Pariwisata Dieng, Ibnu Hasan mengatakan, bangunan candi selama ini tak terlihat karena tertutup semak-semak. “Berbeda dengan candi-candi yang lebih dahulu ditemukan, candi baru ini bentuknya jauh lebih kecil dibandingkan candi-candi yang berada di kawasan candi Arjuna,” katanya.

Candi baru ini, kata dia, merupakan satu-satunya bangunan candi yang ditemukan berada di atas bukit. Berbeda dengan 10 candi peninggalan agama Hindu yang ada di Dieng yang dibangun di lembah. Menurut dia, candi baru ini merupakan candi tertinggi di Dieng.

“Lokasi Candi diperkirakan berada di ketinggian 2500 diatas permukaan laut. Dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam mendaki untuk mencapai lokasi ini dari bagian bawah bukit. Untuk sementara, penemuan ini masih diselidiki oleh Balai Budaya Cagar Budaya untuk diketahui lebih lanjut segala sesuatu mengenai candi baru ini,” katanya.

Arkeolog dari Balai Budaya Cagar Budaya (BBCB) Jawa Tengah Winda Artista Harimurti mengatakan, dilihat dari bentuknya, bangunan kuno tersebut memang menyerupai sebuah candi. Selain ada wujud kala di pintu depanya, lanjutnya, bangunan kuno tersebut juga menyerupai bangunan Candi-Candi Dieng.

“Mengacu pada wujud ditemukan nampaknya bangunan kuno ini memang merupakan bangunan candi. Namun untuk memastikannya, dari masa apa, apakah seperti ini wujudnya atau apakah candi ini merupakan bangunan lepas atau menjadi bagian dari sebuah situs masih diperlukan observasi tambahan,” katanya.

Selain itu, sambungnya, bangunan tubuh dari Candi belum kelihatan sepenuhnya. Lebih-lebih bagian kaki, yang berada di kedalaman tanah juga belum tampak. Ia mengaku belum bisa memastikan dari masa apa candi ini dibuat dan mengapa dibangun di atas gunung. Namun melihat dari posisi candi dan struktur bangunannya, imbuhnya, hampir dipastikan telah ada campur tangan manusia.

“Biasanya bangunan candi berada di tengah dan di puncak bukit, bukan terletak di pinggiran. Namun yang ditemui di lokasi, bangunan berada di pinggir puncak bukit. Bukti lain dari telah adanya campur tangan manusia adalah struktur bangunan candi yang tidak simetris serta ada bagian dinding yang terbalik dalam pemasangannya,” katanya.

Sumber: TEMPO

Penetapan Pura Besakih sebagai KSPN Langgar Bhisama Kesucian Pura

September 24, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Penetapan Pura Besakih sebagai KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) bertentangan dengan Perda No. 16/2009 tentang RUTRW (Rencana Umum Tata Ruang Wilayah) Provinsi Bali, khususnya yang berkaitan dengan Bhisama PHDI No. 11/Kep/PHDI/1994 tentang Kesucian Pura serta Kawasan Suci dan Kawasan Tempat Suci. Karena itu, PP No. 50/2011 tersebut harus direvisi oleh pemerintah. Demikian penegasan Putu Wirata Dwikora, Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, dalam siaran persnya yang diterima Bali Post, Senin (24/9) kemarin.

Kata dia, sebagai tindak lanjut aspirasi umat Hindu yang menolak penetapan Pura Besakih sebagai KSPN, pihaknya segera berkoordinasi dengan elemen masyarakat Bali lain, guna merumuskan langkah agar PP 50/2011 tersebut direvisi. Tidak hanya menyangkut status Pura Besakih yang ditetapkan sebagai KSPN, juga TNBB (Taman Nasional Bali Barat) yang ditetapkan sebagai KSPN. Kalau benar bahwa nama Besakih dan TNBB merupakan usulan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, sebaiknya usulan tersebut ditarik kembali, agar PP-nya bisa direvisi. Sebab, menurut Perda RUTRW Bali tersebut, untuk Pura Sad Kahyangan, radius kawasan sucinya adalah 5 km, dan dalam konteks Perda dan Bhisama tersebut, Gunung Agung merupakan kawasan suci dan Pura Besakih adalah Kawasan Tempat Suci. Apa yang boleh dibangun dalam radius kawasan suci dan kawasan tempat suci tersebut, terbagi dalam zona inti (Maha Wana) yang merupakan hutan lindung dan tanaman keras yang tidak boleh dibangun, zona penyangga (Tapa Wana) yang merupakan kawasan pembangunan pura, dharma sala, bale untuk pemangku dan sejenisnya, dan zona pemanfaatan (Sri Wana) yang merupakan kawasan untuk pangempon pura, pertanian, peternakan, dan sejenisnya.

Sementara menurut UU Kepariwisataan No. 10 Tahun 2009 dan PP No. 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional, yang dimaksud dengan KSPN adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.

Selanjutnya dalam Pasal 25 PP 50/2011 diatur tentang pembangunan prasarana umum, fasilitas umum dan fasilitas pariwisata. Termasuk prasarana umum di antaranya fasilitas olahraga, fasilitas rekreasi, fasilitas ibadah, dan lain-lain. Termasuk fasilitas pariwisata meliputi fasilitas akomodasi, dan lain-lain.

”Kalau dicermati dengan baik, penetapan Pura Besakih sebagai KSPN tentu bertentangan dengan isi Perda RUTRW, khususnya terkait Bhisama Kesucian Pura. Sebab, KSPN tersebut sama sekali tidak mengatur zonasi, dan kalau dilihat dari peta Lampiran III Daftar KSPN dan Peta PP No. 50 Tahun 2011, yang bisa dikembangkan dalam kaitan penetapan Besakih sebagai KSPN, sama sekali tidak menunjukkan adanya perlindungan kawasan suci dan kawasan tempat suci,” kata Putu Wirata.

Pasal 25 PP 50/2011 tersebut bertabrakan dengan Bhisama Kesucian Pura serta pasal-pasal lain Perda RUTRW Bali. Karena, di penjelasan Pasal 25 dimungkinkan membangun fasilitas olahraga, misalnya saja membangun lapangan golf seperti yang pernah diwacanakan di sekitar Besakih tetapi ditolak keras masyarakat, fasilitas rekreasi seperti cafe-cafe dengan pelayan seksi, dan fasilitas lainnya yang tidak sejalan dengan suasana kesucian Dang Kahyangan sebagai tempat suci. Lagi pula, konsep Tri Wana jelas mengatur zonasi yang substansinya berbeda dan akan bertabrakan kalau Besakih dijadikan KSPN. Karena itu, penolakan umat Hindu terhadap penetapan Pura Besakih sebagai KSPN, sangat beralasan.

Sumber: Bali Post

Kontestan Miss World 2013 Peringati Hari Perdamaian Dunia, Pemuka dari Enam Agama Nilai Positif

September 23, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Hari perdamaian dunia yang jatuh pada 21 September 2013 tidak hanya berkesan bagi para kontestan Miss World 2013. Para pemuka dari enam agama di Indonesia juga merasakan hal yang sama.

Ya, memperingati hari perdamaian dunia, kontestan Miss World melakukan doa bersama di Gong Perdamaian, Desa Budaya Kertalangu, Denpasar, Bali. Tentu momen tersebut menjadi sesuatu yang cukup langka terjadi.

H. Ahmad Kosim selaku pemuka agama Islam mengatakan bahwa sudah seharusnya sebagai umat manusia bisa saling menghargai. “Agama merupakan sebuah keyakinan, tidak perlu dipertentangkan. Jadi sebagai warga Indonesia, sudah seharusnya wajib menghargai tamu yang datang, dalam hal ini kontestan Miss World 2013 dengan tanpa membedakan agama ataupun suku karena yang terpenting kita bisa menunjukkan etika yang baik kepada mereka,” tuturnya.

Perwakilan dari agama Buddha, Suhu Nyana Maetri mengatakan bahwa acara doa bersama tersebut memiliki banyak makna. “Ini adalah salah satu cara untuk mendukung perdamaian dunia, saling mengasihi sesama. Jadi, momen ini sangat luar biasa dan kami sangat menyambut baik dengan adanya agenda doa bersama untuk perdamaian. Apalagi ini juga momen yang sangat langka,” terangnya.

Santiroh, perwakilan Konghuchu mengatakan bahwa acara doa bersama yang dilakukan dengan para kontestan Miss World sangat luar biasa. “Ini luar biasa. Kita semua diciptakan berbeda-beda, tapi inilah yang mewarnai dunia.
Harapannya ini bisa diikuti oleh orang lain karena saat ini kita sedang mengalami krisis keteladanan,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Acarya Rasa Prabu, perwakilan agama Hindu menuturkan, sudah menjadi tugas semua orang untuk menjaga perdamaian dunia. “Sudah menjadi tugas kita untuk berdoa demi kedamaian dan kesejahteraan di dunia,” ucapnya.

Sementara perwakilan agama Katholik, Romo Evensius Dewantoro mengatakan, kehadiran kontestan Miss World merupakan duta yang diutus menyebar kebaikan. “Mereka ini datang dari negaranya masing-masing sebagai duta cinta untuk berbuat baik,” tambahnya.

“Program ini bagus, semoga ke depan Bali bisa menjadi penggagas perdamaian dunia,” imbuh Budiarsa, pemuka agama Kristen Protestan.

Sumber: okezone.com

Minim, Penyuluh Agama Hindu

September 19, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Perkembangan Hindu dewasa ini menunjukkan dinamika yang cukup menggembirakan. Saat ini, jumlah umat Hindu yang tersebar di seluruh Indonesia mencapai sekitar 10 juta jiwa. Perkembangan kuantitas umat ini, tentu saja wajib disikapi secara seksama dengan membuat program-program pembinaan umat yang mampu mewadahi kebutuhan-kebutuhan umat dalam tataran praktis.

Sayangnya, jumlah penyuluh agama Hindu masih sangat minim. Di seluruh Indonesia, jumlah tenaga penyuluh agama Hindu yang berstatus PNS hanya tercatat 198 orang. Dirjen Bimas Hindu Departeman Agama Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, M.S. mengatakan hal itu kepada Bali Post, Rabu (18/9) kemarin.

Yudha Triguna mengakui, ketersediaan tenaga penyuluh agama Hindu yang sangat minim itu merupakan permasalahan yang cukup krusial dalam menggulirkan aktivitas pembinaan umat. Ditegaskannya, jumlah tenaga penyuluh itu sangat timpang dengan jumlah umat yang mencapai 10 juta jiwa. Ini berarti, dua orang penyuluh harus melayani minimal satu juta umat. Padahal, satu orang penyuluh agama idealnya melayani 100 orang umat. ”Sungguh rasio yang sangat timpang. Terus terang, kami sangat kekurangan tenaga penyuluh agama Hindu,” katanya.

Mantan Rektor Universitas Hindu Indonesia ini menambahkan, kelangkaan tenaga penyuluh agama Hindu itu merupakan salah satu tantangan dalam menggulirkan program pembinaan umat. Apalagi, umat Hindu di Indonesia sebagian besar bermukim di desa-desa terpencil dan berprofesi sebagai petani. Dengan karakteristik umat seperti ini, tentu saja keberadaan tenaga penyuluh agama Hindu dalam jumlah yang memadai sangat vital. ”Ini memang persoalan serius bagi kita. Di pihak lain, jatah dan kemampuan pemerintah sangat terbatas untuk hal ini (perekrutan tenaga penyuluh agama Hindu-red),” ujarnya.

Apabila hanya mengandalkan kemampuan pemerintah, kata dia, rasio ideal bahkan rasio yang mendekati ideal sekali pun sangat sulit direalisasikan dalam rentang waktu yang cepat. Menyikapi hal ini, pihaknya berharap umat Hindu yang secara ekonomi tergolong mapan ikut memikirkan permasalahan ini. Harapan serupa juga ditujukan kepada lembaga sosial keagamaan agar ikut berpartisipasi aktif untuk mengatasi permasalahan tersebut. ”Selama ini, kami juga berupaya merekrut tenaga penyuluh agama Hindu di luar PNS. Mereka ini benar-benar ngayah karena kami baru mampu memberi insentif Rp 100 ribu/bulan. Ini memang jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan tugas berat yang mereka pikul,” ujarnya.

Sumber: Bali Post

Peradah Gelar Program Pembiayaan Mitra Binaan di Dusun Ceto

September 17, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) menggelar aksi sosial berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Aksi tersebut direalisasikan lewat program Pembiayaan Mitra Binaan Nusantara (PMBN) yang dimulai sejak Mei 2013.

Gede Ariawan, Ketua Program PMBN, mengatakan program ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi pemuda dan masyarakat pada umumnya. “Kemandirian ekonomi merupakan fondasi bagi peningkatan kualitas hidup mulai dari kebutuhan pokok hingga kebutuhan akan pendidikan,” jelas Ariawan dalam keterangan tertulisnya kepada Tribunnews.com, Selasa (17/9/2013).

PMBN yaitu program pengembangan dan pembinaan masyarakat di daerah pedesaan untuk mengembangkan potensi daerah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bentuk dari program ini di Dusun Ceto adalah penyuluhan atau pelatihan tentang pertanian dan kerajinan patung yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat Dusun Ceto.

Potensi ini dapat terus dikembangkan sehingga memiliki potensi untuk pengembangan eko wisata yang terpadu. Dusun Ceto terkenal dengan wisata religi yang memukau serta diperkaya dengan kawasan hijau pedesaan di sekitarnya.

Kawasan ini juga didukung dengan potensi di sekitar Ceto seperti perkebunan teh, kubis, sayur hijau, wortel, dan tanaman pangan lainnya yang mampu hidup di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut.

Apabila kedua sektor tersebut dikembangkan, maka dapat meningkatkan perekonomian di daerah tersebut.

PMBN merupakan suatu program bantuan kemitraan untuk pengembangan wirausaha dalam rangka peningkatan produktivitas masyarakat.

Pelaksanaan program PMBN dimulai dari pendampingan dan pelatihan, perencanaan usaha, perhitungan modal dan operasional, pembuatan proposal hingga kunjungan langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil dari usaha yang telah menerima bantuan.

Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan di Dusun Ceto untuk meningkatkan kesejahteraan tidak hanya di sektor kerajinan dan pertanian namun juga di sektor pariwisata.

Hal ini dilakukan mengingat potensi pariwisata di daerah ini sangatlah menjual. Candi Ceto merupakan candi yang sakral dan menjadi tempat peribadatan bagi masyarakat sekitar yang didukung dengan kawasan yang berbukit, sejuk, dan berkabut. Candi Ceto merupakan destinasi wisata yang menarik di Jawa Tengah.

Sumber: TRIBUNnews.com

Pemilihan Keluarga Sukinah Teladan Tingkat Nasional Tahun 2013

September 16, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Bertempat di Hotel OASIS Amir Jakarta, Dirjen Hindu Prof Dr. I.B. Yudha Triguna MS, secara resmi membuka Pemilihan Keluarga Sukhinah 2013, Senin (19/8)

Dalam sambutanya Bapak Yudha Triguna Mengharapkan bahwa, Tujuan Utama Perkawinan Menurut Pandangan Agama Hindu Adalah untuk mendapat anak suputra yang dapat menyelamatkan leluhurnya dari Neraka, Jadi dalam keluarga hindu di harapkan terlahir anak yang suputra yaitu anak yang berbudi luhur, berpengetahuan dan bijaksana (Pradnjana dan Sadhu). Dengan demikian maka perencanaan membangun keluarga Sukhinah (Sejahtera) secara lahir dan bathin dapat terwujud. Beliau mengutip Manawa Dharma Sastra IX.101. yang menyatakan Hendaknya laki laki dan perempuan yang terkait dengan perkawinan mengusahakan dengan tidak jemu jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lainya. Dan Manawa Dharma Sastra IX.102 yang berbunyi Hendaknya hubungan suami istri yang setia berlangsung sampai mati, hukum ini harus dianggap sebagai hukum yang tertinggi bagi suami istri. Terhadap anak anaknya yang terlahir, orang tua berkewajiban membesarkanya, memberikan perlindungan, pendidikan sampai penyelenggaraan perkawinan, dengan demikian akan terbentuk putra putri yang bermoral, berakhlak mulia serta berguna bagi Nusa dan Bangsa, Negara dan Agama begitu juga kehidupan keluarga menjadi Harmonis, Bahagia dan Sejahtera, Keluarga seperti ini lah di dalam Agama Hindu disebut dengan KELUARGA SUKHINAH.

Sementara Itu Ketua Panitia Bapak I Putu Suhartama, S,Ag, MM dalam sambutanya mengatakan bahwa Pemilihan Keluarga Sukhinah yang diadakan kali ini mengundang dari 33 provinsi seluruh Indonesia untuk ikut hadir dalam seleksi , namun yang hadir hanya 25 Peserta. Adapun tujuan pemilihan Keluarga Sukhinah adalah untuk mewujudkan Keteladan bagi Keluarga Hindu, Untuk membangun Keluarga Sukhinah melalui penanaman nilai nilai ajaran agama, Terselenggaranya Pemilihan Keluarga Sukhinah Teladan Tingkat Nasional tahun 2013 sesuai dengan Keputusan Pembuat Komitmen Direktorat Urusan Agama Hindu No DJ.V/Dt.V.I/PPK/28/2013.

Kesan-kesan dari Peserta disampaikan oleh Wakil Peserta Keluarga Sukhinah dari Jawa Tengah bapak Bambang Wahyudi GS, yang beda dari Peserta Pemilihan Keluarga Sukhinah II ini adalah karena telah berhasil Membuat Hymne Lagu Keluarga Sukhinah II dan membentuk Alumni Keluarga Sukhinah yang diketuai oleh Ibu Ni Nengah lani S.Sos dari Bali di dampingi oleh Dra Dwi Rahmawati Juwita Sekretaris dari Jatim dan Ibu I Wayan Rasti SH, S.Ag, M.Ag Bendahara dari NTB.

Adapun Pasangan Keluarga Sukhinah Teladan Nasional 2013 yang terpilih sebagai Berikut :

JUARA 1
Drs Nyoman Murba Widana. Made Metu Dahana,SH.MH <> Ni Wayan Rasti, SH,S.Ag,. M.Ag. dari ProvNTB
JUARA 2
DR. Ing. Ir. Putu Mahayana Santika <> Dra Soematri MM , dari Prov BanteN
JUARA 3
Ir. I Made Suwetja MM<> Ni Wayan Suarsithi, dari Prov Lampung Juara 3
JUARA HARAPAN 1
I Made Konia Warditha<>Ni Nengah Lani, dari PROV BALI
JUARA HARAPAN 2
I Gede Diun Arthana SH <> Dra. Dwi Rahmawati Juwita, dari Prov Jatim
JUARA HARAPAN 3
Wartoyo S.Ag <> Sutiyem, S.Pd. dari Provinsi Kalimantan Timur Harapan 3

Selamat disampaikan kepada Seluruh Peserta Pemilihan Keluarga Sukhinah 2013 Semoga Ida Shang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberi Anugrah, Bimbingan dan Perlindunganya Kepada Kita semua untuk tetap sehat, bahagia, damai dan Sejahtera.

Sumber: Bimas Hindu

Kontestan Miss World Kunjungi Pura Besakih

September 12, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Semua kontestan ajang kontes kecantikan sedunia Miss World melakukan persembahyangan ke Pura Besakih yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu (11/9/2013). Dengan mengenakan busana adat khas Bali, para wanita cantik dari 130 negara di dunia itu tiba di tempat suci umat Hindu di lereng kaki Gunung Agung itu sekitar pukul 08. 00 Wita dan langsung menuju halaman utama pura untuk bersembahyang. Mereka disambut Bupati Karangasem, Wayan Geredeg dan jajaran Pemkab Karangasem yang menghadiahkan kain selendang endek kepada setiap kontestan. Selama sekitar 20 menit mereka terlihat khusyuk, dengan mencakupkan kedua tangan disertai bunga-bunga sebagai pengantar doa kepada Sang Maha Pencipta. ”Semuanya hening untuk mereflesikkan momen ini. Saya berdoa untuk kedamaian dan umat manusia,” kata Olivia Jordan, kontestan asal Amerika Serikat. Wanita berusia 24 tahun asal Tulsa, Oklahoma itu mengaku bahwa pengalaman bersembahyang di pura Hindu itu merupakan pengalaman pertamanya. Para kontestan juga merasa diberkati dengan lantunan doa-doa pandita serta percikan air suci (tirtha) yang diberikan usai mengucap doa. ”Pura ini sangat menerima kami dan ini pengalaman yang sangat menyenangkan dan saya diberkati. Kami disambut budaya yang tak pernah kami alami di rumah,” ucap wanita dengan tinggi badan 180 centimeter itu. Senada dengan Olivia, kontestan asal Norwegia, Alexandra Marie Backstorm mengaku bersembahyang di pura terbesar di Pulau Dewata itu merupakan pengalaman pertamanya. ”Pura ini sangat indah sekali. Saya berdoa semoga kontes berjalan lancar dan berdoa untuk keluarga semoga dalam keadaan baik,” ucapnya. Usai melakukan persembahyangan bersama, para kontestan juga berkesempatan mengelilingi kawasan pura dan belajar menari Bali bersama dengan anak-anak dengan singkat. Kunjungan ke Pura Besakih merupakan salah satu agenda kegiatan ajang kontes kecantikan dunia itu sebelum malam puncak final yang dijadwalkan pada 28 September 2013.

Sumber : Antara

Pura Desa Kukub Terbakar Misterius

September 10, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Pura Desa di Banjar Kukub, Desa Perean Tengah, Baturiti, terbakar, Senin (9/9) kemarin. Tiga palinggih hangus dilalap api akibat kejadian ini. Pemicu kebakaran masih misterius. Dugaan sementara karena cuaca panas. Api berhasil dipadamkan setelah tiga unit mobil pemadam kebakaran Tabanan diterjunkan ke lokasi.

Tiga palinggih yang terbakar masing-masing, gedong panyimpenan, panyawangan dan pamayasan. Ketiganya beratapkan ijuk. Kobaran api pertama kali diketahui Wayan Berata (57), pegawai LPD setempat. Sekitar pukul 10.30 wita, pria ini melihat asap tebal dari arah pura. Begitu dilihat, api melalap palinggih. Dia pun membunyikan kulkul bulus.

Mendengar suara kulkul, warga berhamburan mendekat, lalu mencoba memadamkan api. Menggunakan peralatan seadanya, warga menyiramkan air ke arah amukan si jago merah.

Tak berselang lama, petugas pemadam tiba di lokasi. Dibantu warga, petugas menjinakkan api dengan cepat. Satu jam kemudian, berhasil dipadamkan. Namun, beberapa bagian palinggih keburu hangus. Kebetulan, atapnya berbahan ijuk, sehingga mudah terbakar.

Belum diketahui penyebab kebakaran itu. Kabar yang berembus, kebakaran dipicu cuaca panas. Sehingga, atap ijuk dengan mudah terbakar. “Pemicu kebakaran masih kita selidiki,” kata Kapolsek Baturiti, Kompol Gede Selonog didampingi Kasi Humas Aiptu Nyoman Philip.

Petugas juga meminta keterangan sejumlah saksi untuk menelusuri peristiwa ini. Kerugian akibat kebakaran ini juga belum dihitung. Dugaan sementara, kerugian mencapai Rp 400 juta lebih. Bangunan pura yang terbakar terbilang mewah. Pascakejadian, warga membersihkan bagian palinggih yang terbakar. Kebakaran sempat menjadi perhatian warga, khususnya pengguna jalan. Sebab, lokasinya berdekatan dengan jalur utama Denpasar-Singaraja.

Sumber: Bali Post

Polda Bali Sebar Foto Empat Tersangka Pencuri ”Pratima”

September 3, 2013 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

Empat tersangka pencuri pratima yang masih buron yakni Somad, Fauzi, Zakaria, Awabin masih terus dikejar pasukan Subdit III Dit. Reskrimum Polda Bali. Persembunyian para pelaku utama ini belum diketahui, sehingga foto-foto mereka pun akan disebar. Polda Bali telah mengantongi foto keempat pelaku, namun belum disebar secara resmi karena masih melalui proses penerbitan daftar pencarian orang (DPO).

Akan disebarnya foto tersebut untuk mempersempit ruang gerak para pelaku. Mereka diperkirakan masih ada di Bali dan cepat atau lambat pasti akan ditangkap. Pihak Polda Bali pun berharap jika nanti ada warga yang melihat keempat para pelaku tersebut agar segera melaporkannya ke kantor polisi terdekat. ”Foto-fotonya sudah ada,” kata Kasubbid Penmas Polda Bali AKBP Sri Harmiti, Senin (2/9) kemarin.

Ia menjelaskan, penyebaran foto-foto tersebut akan resmi dilakukan setelah terbitnya surat DPO. Sebab, penerbitan DPO masih dalam proses. Ada pun ciri-ciri keempat pelaku yakni Somad diperkirakan berumur 40 tahun, tinggi 160 cm, warna kulit sawo matang, bentuk dagu berat, jenis rambut bergelombang dan bibir tebal. ”Untuk ciri-ciri yang lainnya masih dalam penyelidikan,” jelasnya kepada wartawan.

Untuk pelaku Fauzi, memiliki ciri-ciri yakni umur sekitar 30 tahun, tinggi badan 160 cm, warna kulit sawo matang, bentuk dagu menonjol, jenis rambut bergelombang dan bentuk bibir biasa. ”Sementara dua pelaku lainnya (Zakaria dan Awabin-red) ciri-cirinya sesuai dengan yang ada di foto. Penyebaran foto ini akan dilakukan secara resmi setelah surat DPO turun. Foto-fotonya akan disebar di Polres, Polsek dan tempat strategis lainnya,” ucapnya.

Sumber: Bali Post

Next Page »