Memahami Unsur dan Struktur Kerangka Teologi Hindu

June 20, 2013 by
Filed under: Apresiasi 

Oleh : I Ketut Donder

Harus Ditanggapi

Ada banyak orang mengatakan bahwa agama Hindu tidak memiliki teologi. Pernyataan seperti itu justru juga datang dari beberapa tokoh yang semestinya pantas mendapat predikat intelektual Hindu-Indonesia. Pernyataan seperti: Hindu tidak memiliki teologi, teologi Hindu di awing-awang, teologi Hindu tidak jelas, dan sebagainya, menunjukkan bahwa 100% mereka tidak memahami agama Hindu. Dengan demikian secara otomatis mereka juga tidak memahami teologi Hindu. Selain itu, mereka juga pasti tidak memahami apa itu “ilmu teologi”. Penilaian yang minir terhadap agama Hindu dan teologi Hindu, baik yang datang dari pihak luar maupun internal umat Hindu harus ditanggapi. Jika penilaian-penilaian yang minir dibiarkan terus, maka tidak akan terjadi proses transformasi pengetahuan Hindu secara komprehensif, dan pelecehan-pelecehan terhadap agama Hindu akan terus berlangsung.

Teologi Hindu dalam Perspektif Ilmu dan Teologi

Filsafat Barat mengakui bahwa pengetahuan manusia mengalami tiga tahap evolusi, dari yang paling abstrak hingga paling real. Auguste Comte (1798-1857) membagi tiga tahap perkembangan tersebut, yaitu: (1) religius, (2) metafisik, (3) positif. Dalam tahap pertama, azas religi dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran dari ajaran religi. Tahap kedua orang berspekulasi tentang metafisika (keberadaan), maka wujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan atas dasar postulat metafisika tersebut. Sedangkan tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmian (ilmu), di mana azas-azas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif (Suryasumantri, 1985:25).

Agama oleh sebagian besar ilmuwan dianggap hanya sebagai pengetahuan religious yang tidak ilmiah. Para ilmuwan beranggapan bahwa pengetahuan agama tidak memenuhi syarat imiah, karena obyek pengetahuan agama adalah Tuhan yang non-rasional atau irasional (tidak rasional), tidak teratur atau tidak sistematis, tidak konsisten, dan lain-lain. Oleh sebab itu sejak dulu agama dan sains di Barat mengalami ketegangan atau permusuhan yang sangat sengit hingga penghakiman terhadap para sainstis (ilmuwan) telah terjadi di Barat. Baru belakangan ini kesadaran Barat terhadap adanya berbagai macam pengetahuan sudah mulai berubah dan ingin merukunkan sains dan agama, sebagaimana dilakukan oleh John F. Haught.

Berdasarkan sketsa struktur bagan konstruksi kerangka teologi Hindu, maka pandangan Comte dan anggapan para ilmuwan terhadap agama tidak dapat diberlakukan terhadap agama Hindu. Sebab agama di mata orang Barat dan di mata orang Hindu berbeda. Sistem pengetahuan Barat membedakan sangat tegas hingga terjadi benturan antara pengetahuan ilmiah-positifistik dengan pengetahuan religius dan metafisika. sedangkan sistem pengetahuan Hindu menggabungkan secara holistik antara pengetahuan religius, metafisik, dan pengetahuan positifistik. Sehingga pernyataan tentang “agama tidak ilmiah” hanya dapat diberlakukan terhadap rumpun agama Smitik.

Anggapan bahwa agama merupakan pengetahuan apologetik yang tidak ilmiah muncul di Barat, walaupun demikian di Barat juga muncul pengetahuan “teologi”, yaitu pengetahuan tentang Tuhan yang oleh pihak Barat dianggap disusun sedemikian rupa berdasarkan konsep-konsep keilmuan (logi-logos). Sehingga oleh pihak Barat “teologi” dianggap sebagai ilmu yang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai tolok ukur atau acuan dalam membahas Tuhan dan Ketuhanan. Hal ini merupakan bentuk sikap hegemoni Barat terhadap pengetahuan. Walaupun demikian terpaksa para ilmuwan dari mana pun harus menerima sikap Barat, karena sistem pengetahuan yang telah terlanjur diterima adalah pengetahuan yang berkiblat ke Barat.

Apabila pengetahuan kita berkiblat ke Barat, maka struktur dan polanya harus juga mengikuti Barat. Barat meletakkan tiga syarat terhadap pengetahuan apapun untuk dapat disebut sebagai ilmu. Tiga syarat ilmu berdasarkan kerangka filsafat berpikir ilmiah Barat itu adalah: (1) syarat ontologis,yaitu memiliki obyek yang dapat dinalar, (2) syaratepistemologis, yaitu memiliki prosedur nalar yang jelas atau runut, sistematis, konsisten, (3) syarat aksiologis, yaitu memiliki manfaat bagi kebaikan seluruh umat manusia (Suryasumantri, 1985:35).

Jika ketiga syarat ilmu berdasarkan kerangka filsafat berpikir ilmiah tersebut dapat dipenuhi, maka apapun pengetahuan itu, mau tidak mau harus diakui sebagai ilmu yang ilmiah. Mencari-cari alasan untuk menolak sebuah ilmu dengan mengatakan bahwa teologi Hindu itu tidak ilmiah dengan hanya berkomentar tanpa syarat tersebut, maka penolakan tersebut tidak dapat mendekonstruksi sebuah struktur bangunan ilmu (teologi Hindu).

Jika teologi pada agama-agama lainnya bisa dikatakan pengetahuan yang ilmiah, maka tentu teologi Hindu juga dapat disebut sebagai pengetahuan yang ilmiah. Tetapi predikat ilmiah seharusnya bukan menjadi unsur  kebanggaan, sebab tidak ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari predikat ilmiah, karena semua pengetahuan ilmiah mengandung probabilistik. Oleh sebab itu semua pengetahuan ilmiah mengandung kemungkinan benar dan salah. Hanya karena orang-orang tidak mengerti arti ilmiah, disangka pengetahuan ilmiah itu adalah pengetahuan segala-galanya yang tidak ada bandingnya.

Teologi Hindu Memenuhi Syarat Ilmu

Melalui sketsa struktur bagan, dapat diketahui bahwa teologi Hindu memenuhi tiga syarat ilmu (ontologis, epistemologis, dan aksiologis). Obyek ontologis teologi Hindu adalah Tuhan (Brahman), sama dengan ontologi teologi semua agama. Sebagai obyek ontologi,Brahman dapat dideskripsikan berdasarkan dua tipologi teologi.

Pertama, adalah teologi Nirguna Brahman, yang mendeskripsikan tentang Tuhan yang Tak Terjangkau (Bhagavad-Gita X.2). dalam ketakterjangkauannya itu apabila manusia memaksakan diri untuk memahami Tuhan, maka Tuhan hanya mungkin dapat dicapai (dibayangkan) pada tahap Om Kara (Bhagavad-Gita VII.8).

Kedua, adalah teologi Saguna Brahman, yang membolehkan manusia membayangkan Tuhan melalui deskripsi lisan, symbol-simbol yang riil maupun simbol-simbol yang imajiner (Bhagavad-Gita XII.5). untuk menjelaskan keduanya secara epistemology, kita menggunakan “metodologi” (teknik, cara), membahas realitas dalam dimensi indriawi dan “mitologi” (mitos, mite), membahas hal yang bersifat niskala atau dimensi super-realitasatau non-indriawi (Tuhan).

Dalam pembahasan teologi Hindu secara metodologi, digunakan tiga analisis umum yang disebut tri pramana, yaitu metodologi pertama bersumber dari dan analisis terhadap teks kitab suci (agama pramana atau sabda pramana)Metodologi kedua adalah analisis kritis analogis (anumana pramana) terhadap realitas dan teks (teks-konteks). Metodologi ketigaadalah uji klinis-praktis (praktyaksa pramana) terhadap realitas dan teks (teks-konteks).

Secara keseluruhan sistem tri pramana ini dapat dilacak dan diradikalisasi di dalam sistem pengetahuan Veda yang meliputi teks-teks Darsana, itihasa, Upaveda, Purana, Vedanga, dan lain-lain sebagai sumber teologi Hindu yang secara eksoteris dapat menimbulkan berbagai tafsir-tafsir berbeda yang terus berkembang dan pada tataran esoteric akan menemukan kesatuannya di dalam Brahmavidya. Bahkan pada tataran teologi dalam Upanisad dan teologi dalam Darsana terdapat berbagai macam metodologi yang melampaui metodologi lainnya.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka teologi Hindu yang dibangun oleh pengetahuan Vedayang terdiri atas dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan paravidya (niskala, non-fisik, spiritual, non-materi, sacral, halus, teologi) dan pengetahuan aparavidya (sakala, fisik, profan, kasar, sains, dan teknologi. Karena itu terhadap teologi Hindu dapat diterapkan tiga atau semua syarat-syarat keilmuan. Sehingga unsur dan struktur teologi Hindu dapat dijelaskan secara ilmiah sesuai dengan prosedur pengetahuan ilmiah.

Bila berharap agar teologi Hindu dapat diakui sebagai pengetahuan yang ilmiah, maka teologi Hindu harus dijelaskan melalui tiga syarat ilmu yang sesuai dengan kerangka filsafat berpikir ilmiah. Hanya dengan cara itu teologi Hindu dianggap layak bertarung di arena debat teologi.

Cara pemaparan teologi Hindu seperti inilah yang tidak banyak dilakukan oleh para pakar agama Hindu, sehingga segala bentuk pelecehan terhadap teologi Hindu hanya didiamkan, ditoleransi saja. Karena cara mempertahankan dengan perangkat ilmu saja atau ilmu agama dianggap tidak cukup untuk membela teologi Hindu. Bila kita pelajari teologi Smitik, maka apa yang disebut sebagai teologi Barat, sesungguhnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Brahmavidya. Oleh sebab itu amat pantas jika ilmu teologi oleh para pakar sains Barat disebut sebagai pengetahuan apologetika. Tetapi terhadap pengetahuan agama Hindu tidak dapat dikatakan sebagai apologetik apalagi dogma (Zaehner, 1992).

Oleh sebab itu para toloh dan intelektual Hindu sebelum memberi deskripsi tentang teologi Hindu, baik secara positif maupun secara negatif, alangkah baiknya apabila sebelumnya memiliki pengetahuan yang multidisipliner (interdisipliner) agar dapat mendeskripsikan dan menginterpretasikan teologi Hindu secara bertanggungjawab. Seorang teolog Hindu yang hanya belajar satu macam pengetahuan saja secara linier, maka ia akan menjadiapolog, “belog misi bengkung” (basa-basi, bodoh, kaku).

(Sumber: MediaHindu, Edisi 57, November 2008)

Comments

Comments are closed.