MMDP Menyangga Keajegan Desa Adat, Cerahkan Umat

August 25, 2012 by
Filed under: Uncategorized 

KARANGASEM, 25 Agustus 2012 (Bali Post):

Keberadaan Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Karangasem merupakan implementasi dari amanat Perda No. 3 tahun 2001, yang telah diubah dengan Perda 3 Tahun 2005, tentang Desa Pakraman di dalamnya mengatur tentang nilai-nilai tradisional masyarakat Bali yang dipelihara dan dikembambangkan oleh desa adat/desa pakraman.

Ketua MMDP/Bendesa Madya Karangasem I Wayan Arta Dipa, S.H., M.H., di Amlapura, Jumat (24/8) kemarin dalam acara jumpa pers mengatakan, sebagai suatu lembaga tradisional yang berkarakter religius, desa pakraman di bentuk melalui pencerminan dan pembakuan nilai-nilai ajaran Agama Hindu dalam kehidupan sosial di kalangan masyarakat adat di Bali.

Karakteristik sosial religius itu ditandai dengan adanya Pura Kahyangan Tiga yaitu Pura Desa/Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem. Pura-pura tersebut pada umumnya ada pada setiap desa adat/desa pakraman (PHDI Bali, 1994 : 5). Dalam implementasi nilai-nilai agama Hindu di Bali, dikenal adanya landasan konseptual yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal), hubungan manusia dengan sesamanya (horisontal), dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya (sub. alternasi) yang dikenal dengan Tri Hita Karana.

Dikatakannya, lembaga Majelis Madya adalah wahana untuk pengabdian sebagai wujud dharma bakti, dan swadharma demi kepentingan umat dan keajegan agama Hidhu melalui lembaga desa pakraman. Sesuai aturan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga menjadi kewajiban lembaga majelis madya melaksanakan paruman setiap lima tahun sekali, untuk memilih kepengurusan baru.

Keberadaan desa pakraman di Bali kini banyak hendak ditiru komunitas Hindu di luar Bali, yang perlu mendapatkan perhatian lembaga umat di Bali yang dinilai menjadi kiblat Hindu luar Bali, untuk meningkatkan pembinaan umat. Selain itu aspek-aspek adat dan hukum adat seperti kasus kesepekang, juga perlu memperoleh kajian lembaga umat agar umat tidak lagi hanya berlandaskan ”mula keto, dapet keto” dan ”suba keto” dalam membuat keputusan, namun seharusnya berlandaskan sastra agama. Demikian pula dalam konteks desa kala patra selalu terkait dengan aspek filosofis, sosiologis dan historis tidak bisa hanya diambil salah satunya saja.

Bendesa Madya yang juga Plt Sekkab Karangasem menyebutkan Majelis Madya dewasa ini dihadapkan pada kompleksitas tantangan desa pakraman yang makin terhimpit berbagai persoalan di bidang parahyangan, pawongan maupun palemahan. Salah satu hal yang wajib mendapatkan perhatian adalah di bidang palemahan, seperti perbatasan antara desa adat atau antar desa, yang kerap kali memicu konflik, karena adanya kepentingan. Sedangkan misi MMDP antara lain mensosialisasikan keberadaan lembaga agar mampu menjadi bagian dari desa adat, pencerahan masalah adat, memperjelas sumber-sumber sastra agama, sehingga tidak lagi menganut gugon tuwon yang membabi buta. Sementara itu, bidang lain yang juga bakal menjadi pusat perhatiannya adalah masalah alih aksara Panca yadnya. Kendati banyak lontar-lontar yang sudah diterjemahkan namun perlu dilakukan pemilahan dan penyesuaian dengan dresta yang ada di Karangasem, serta dilakukan pemetaan kewilayahan sebagai bentuk perhatian kepada desa-desa adat yang meliputi 190 desa adat dan 605 banjar adat. (ad14)

Comments

Comments are closed.