Warisan Budaya, Ratusan Siswa Pelajari Sistem Subak

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

BALI, 29 Juni 2012 (travel.okezone.com):

Subak siap menjadi warisan dunia UNESCO. Sekira 200 siswa yang berasal dari berbagai negara memelajari sistem Subak, lewat program World Heritage Education dari UNESCO. Mereka mendalami filosofi konsep kehidupan yang harmonis Tri Hita Karana yang ada dalam lanskap budaya Bali tersebut. Bali dipilih sebagai tempat kegiatan lantaran lanskap budaya Bali dinominasikan untuk masuk dalam daftar world heritage UNESCO pada sidang awal Juli 2012 yang digelar di Rusia. Kepala Unit Budaya UNESCO Jakarta Masanori Nagaoka mengungkapkan, semua situs kluster dari lanskap budaya Bali menunjukkan secara langsung kemampuan masyarakat Bali dalam membuat doktrin-doktrin kosmologis mereka yang unik menjadi kenyataan. Nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari mereka melalui perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan, pengaturan permukiman, arsitektur, seni, upacara dan ritual, serta organisasi sosial.

“Kami memilih lokasi di Jatiluwih. Lokasi ini menggambarkan dengan jelas ciri khas dari sistem sosial dan sistem Subak yang terkait dengan filosofi Tri Hita Karana (tiga unsur sumber kebaikan). Filosofi ini adalah konsep hidup yang menurut kami sangat penting untuk diperkenalkan ke generasi muda,” katanya saat mendampingi ratusan siswa English First yang berkunjung ke kawasan Subak, Jatiluwih, Tabanan, Bali, baru-baru ini. Subak merupakan organisasi demokratis para petani di Bali. Sistem ini terkait erat dengan ajaran Hindu, Tri Hita Karana yang mengajarkan mengenai hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhannya (Parhyangan), manusia dan sesama manusia (pawongan), dan manusia dan alamnya (palemahan). Nilai-nilai Tri Hita Karana dalam Subak tercermin dari pengaturan pengairan sawah petani secara adil, pembicaraan mengenai penanaman, perencanaan pembangunan dan pemeliharaan kanal dan bendungan, hingga dalam mengatur persembahan ritual dan festival Pura Subak. Semua ini untuk kebaikan bersama para petani itu sendiri misalnya menanam harus serempak untuk mengurangi hama. Harmoni tersebut telah berjalan turuntemurun sejak kurang lebih seabad silam. Masanori menambahkan, program World Heritage Education ini untuk memancing diskusi dan niat untuk saling mendengarkan sehingga menjadi sebuah penegasan identitas diri para generasi muda sekaligus meningkatkan rasa saling menghargai sesama. “Dengan tumbuhnya kesadaran diri seperti ini, mereka akan memiliki dasar yang kuat terhadap pengetahuan mengenai sejarah mereka dan pelestarian warisan budaya,” imbuh dia.

Baca lebih banyak di travel.okezone.com

Persembahan Karya Terbaik Masyarakat Bali

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

DENPASAR, 30 Juni 2012 (KOMPAS.com):

Masyarakat Bali dalam menjalani kehidupan sehari-hari berusaha mewujudkan keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual sehingga mampu mempersembahkan karya-karya terbaik. “Karya terbaik dalam kehidupan sehari-hari itu berupa rangkaian janur, kombinasi dengan bunga dan kue (banten) yang selanjutnya mendasari seni budaya Bali,” kata  Guru Ashram Vrata Wijaya Denpasar  Sri Hasta Dhala, Jumat.

Ketika menerima kunjungan 12 mahasiswa University of Western Australia (UWA) yang didampingi Prof Dr Paul Trinidad, ia mengatakan, membuat kombinasi bunga dan kue bagi masyarakat Bali, khususnya wanita merupakan kebudayaan ibu. Oleh sebab itu wanita Bali wajib belajar dan memiliki keterampilan membuat berbagai jenis banten, karena hal itu sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. ”Masyarakat Bali dalam mempersembahkan banten dibuat yang paling indah, minimal sesuai hati yang bersangkutan, disamping kegiatan itu dilakukan secara tulus iklas,” ujar  Sri Hasta Dhala yang juga dihadiri ratusan siswanya. Kondisi yang demikian itulah salah satunya menjadikan menjadikan kebudayaan mempunyai kaitan yang erat dengan agama Hindu yang dianut sebagian besar masyarakat di Pulau Dewata.

Baca lebih banyak di KOMPAS.com

Kurikulum Pancasila Harus Kembali Diterapkan

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

DENPASAR, 30 Juni 2012 (Bali Post):

Di tengah berbagai permasalahan mendera bangsa, eksistensi Pancasila dipertanyakan. Untuk itu, pemerintah diharapkan kembali menerapkan kurikulum mata pelajaran Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai upaya mempertahankan bangsa Indonesia.

“Pemerintah harus mengambil langkah-langkah tegas dalam menyosialisasikan keberadaan Pancasila dan UUD 1945 kepada generasi muda dan masyarakat untuk menyelamatkan bangsa ini dari perpecahan,” kata Dr. Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Denpasar, Jumat (29/6) kemarin.

Pada seminar nasional yang bertema “Revitalisasi Gagasan dan Reaktualisasi Tindakan Bung Karno” itu, ia mengatakan, pascareformasi pendidikan mengenai Pancasila dan UUD 1945 tidak lagi menjadi kurikulum mata pelajaran. Malah diganti menjadi mata pelajaran kewarganegaraan dan agama. “Dengan mata pelajaran kewarganegaraan tersebut, keberadaan Pancasila tidak diuraikan secara menyeluruh. Padahal, butir-butir di dalam Pancasila sebagai dasar negara semuanya menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara secara luas,” ucap Asvi Warma seorang doktor sejarah lulusan Ecole Des Hauters Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris.

Bila Pancasila dan UUD 1945 tidak masuk dalam kurikulum pelajaran, kata dia, ini bisa menjadi ancaman bagi generasi muda dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Alasannya, kata dia, keberadaan bangsa Indonesia terdiri atas suku, ras dan agama. Terlebih keberadaan masyarakat yang menyebar di berbagai pulau dari Sabang sampai Merauke. “Bila ini tidak ditanamkan sejak dini melalui mata pelajaran, maka sosialisasi terhadap Pancasila dan UUD 1945 tidak sepenuhnya akan berhasil,” ujarnya.

Memang diakui, sosialisasi Pancasila dan UUD 1945 dilakukan oleh lembaga MPR maupun legislatif. Tetapi hasil sosialisasi kepada masyarakat terbukti tak mampu optimal. “Menurut saya, pemerintah harus mengambil peran lebih banyak untuk melakukan sosialisasi kepada generasi muda kita melalui mata pelajaran atau mata kuliah. Sehingga eksistensi dasar negara lebih kuat,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah harus bisa memasukkan pelajaran tentang Pancasila dan UUD 1945 melalui mata pelajaran dan mata kuliah. Itu bisa dilakukan melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Jika pelajaran ini menjadi satu mata pelajaran atau mata kuliah, maka porsi untuk sosialisasi dan menanamkan jiwa Pancasila saya yakin terwujud. Selain itu, pos anggaran akan terfokus, tidak seperti sekarang yang nempel pada bidang lain,” katanya.

Menyinggung apakah perlu kembali dibuat kurikulum Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4), kata dia, memang perlu diadopsi seperti itu. Tapi yang lebih penting adalah sistem dan metodenya yang harus diperbaiki. “Kalau dulu sistemnya ceramah dan penataran. Tapi sebaiknya sistem mengarah pada diskusi atau dialog, sehingga akan ada komunikasi dua arah. Dengan langkah ini akan lebih efektif karena sosialisasi dilakukan, dan diharapkan di masing-masing individu dipraktikkan, demikian pula di lingkungan masyarakat,” ujar Asvi Warman. (kmb29)

Kertagosa Masuki Tahap Kritis

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

SEMARAPURA, 30 Juni 2012 (Bali Post):

Nasib objek wisata Kertagosa yang kini statusnya belum jelas kian memprihatinkan. Dalam pertemuan Jumat (29/6) kemarin, di Balai Pendopo Puri Agung Klungkung, mereka sepakat Kertagosa segera diselamatkan.

Salah seorang ahli Arkelogi Denpasar Wayan Suastika, menilai kondisi Kerta Gosa saat ini sudah kritis. Beberapa bangunan yang mengalami kerusakan, harus segera mendapatkan penanganan serius. Bahan dasar bangunan yang terbuat dari batu bata, sudah mengalami kerusakan karena faktor umur dan kondisi alam. ”Kertagosa harus segera mendapatkan penyelamatan, kalau batu bata sudah aus maka akan cepat rusak. Kondisi bangunan yang tinggi, juga rawan roboh,” harapnya.

Dalam pertemuan tersebut hadir Raja Puri Klungkung Ida Dalem Semaraputra, Sekkab Klungkung Ketut Janapria, Kadisbudpar Klungkung Wayan Sujana Yayasan Pelestarian Semarapura. Termasuk Bendesa Pakraman Kota Semarapura, MMDP dan tokoh masyarakat dan seniman Nyoman Gunarsa serta Angga Puri Klungkung.

Para undangan sepakat mengenyampingan soal status Kertagosa. Mereka sepakat menyelamatkan Kertagosa. Sebab dari evaluasi badan arkeologi, Kertagosa mampu mengundang simpati dari para undangan. Sekkab Klungkung Ketut Janapria di akhir acara menyampaikan langkah selanjutnya bersama-sama menghadap ke Bupati Candra untuk menyampaikan advokasi.

Hal yang sama disampaikan Tokoh Puri Klungkung Tjokorda Raka Putra. Pihaknya sepakat yang paling utama adalah menyelamatkan Kertagosa. Sementara masalah status akan dibicarakan setelah upaya penyelamatan warisan budaya sukses. Namun dalam persoalan tersebut, Tjok Raka Putra mengakui juga mengundang pihak Ketua DPRD dan panitia aset DPRD. Tapi tidak satup un dari pihak DPRD hadir.

Di sisi lain, Wakil DPRD Klungkung Putu Tika Winawan ketika dikonfirmasi malah mengatakan dirinya di DPRD tidak mendapatkan undangan untuk membicarakan masalah Kertagosa tersebut. Padahal menurut Tika, hal itu sudah sangat dinanti-nantikan dirinya ketika Pemkab dan Angga Puri duduk bersama-sama untuk membahas masalah Kertagosa.

Menurut Putu Tika Winawan, dia yakin pihak Puri tidak ada keinginan untuk mengklaim Kertagosa. Baginya pihak Puri pasti hanya ingin mengingatkan seluruh masyarakat bahwa ada peninggalan Kerajaan Klungkung berupa Kertagosa. Selain itu, Putu Tika juga berharap, di saat Kertagosa sudah rusak, tidak seharusnya pihak-pihak yang berwenang saling lempar tanggung jawab. Apalagi membawa persoalan tersebut ke ranah politik. Soal kondisi Kertagosa seharusnya jangan saling lempar. Harusnya bisa dicarikan solusi. Apakah melalui dana hibah atau lainnya yang tidak bertentangan dengan aturan. Balai banjar saja bisa diberikan dana hibah sampai ratusan juta di Gunaksa. ”Kok objek peninggalan kerajaan Klungkung tidak bisa,” tanya Putu Tika. (kmb)

Kado Genta Bagi Puluhan Pemangku

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

TABANAN, 30 Juni 2012 (Bali Post):

Puluhan pemangku dan sulinggih mendapat kado genta bajra dari Pemkab Tabanan. Bakti kepada para rohaniwan ini sebagai bentuk perhatian kepada para rohaniwan. Selain genta, diberikan perangkat pakaian sembahyang. Kado bagi para pemangku ini dijadwalkan akan digelar secara bertahap.

Mereka yang mendapat kado adalah para pemangku di seluruh Tabanan. Pada gelombang perdana, genta diberikan secara simbolis kepada para pemangku lingsir. Di antaranya, Jero Kubayan Pura Luhur Batukaru, Pemangku Pura Tamba Waras, Pemangku Pura Besi Kalung, Pemangku Pura Kubon Tingguh dan Pemangku Pura Dalem Tabanan. ”Kami ingin memberikan perhatian kepada rohaniwan yang tulus melakukan doa dan pencerahan bagi Tabanan,” kata Wabup Tabanan Komang Gede Sanjaya di sela penyerahan genta di Puri Agung Tabanan, Kamis (28/6).

Menurut Wabup, para sulinggih dan pemangku setiap hari rutin menghaturkan doa. Karena itu, bentuk penghargaan dari Pemkab diwujudkan dengan pembagian genta. Selain itu, para sulinggih dan pemangku akan diberikan fasilitas kesehatan. ”Jadi, jangan hanya sarana upacara, tapi kesehatan pemangku dan sulinggih juga wajib diperhatikan,” tegasnya. Sanjaya berharap, dengan doa para sulinggih dan pemangku, Tabanan bisa ajeg dan tercipta kedamaian.

Tabanan, kata Sanjaya, memiliki pura terbanyak di Bali. Karena itu, para sulinggih dan pemangku diharapkan ikut menjaga pelestarian dan perawatan pura-pura tersebut. Apalagi, kehadiran tempat suci memberikan kesejahtaran yang utama bagi warga Tabanan. Karena jumlahnya cukup banyak, kado bagi pemangku dan sulinggih dibuat bertahap, termasuk perangkat pakaian sembahyang.

Penyerahan genta bajra ini disaksikan Raja Tabanan Ida Cokorda Anglurah Tabanan. Penglingsir Puri Agung Tabanan ini berharap, kado bajra bisa menjadi sarana upacara bagi terwujudnya perdamaian di Tabanan. (kmb30)

Penyelesaian Konflik Adat Jangan Ada Kekerasan

June 29, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

TABANAN, 29 Juni 2012 (Bali Post):

Konflik adat yang berlarut-larut di Tabanan membuat Raja Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan, ikut prihatin. Penglingsir Puri Agung Tabanan ini meminta persoalan adat tidak tercemar dengan tindakan kekerasan. Sebaliknya, persoalan adat harus bisa diselesaikan dengan solusi terbaik. Salah satunya, dengan melakukan pertemuan secara kekeluargaan. “Persoalan adat sebaiknya dicarikan solusi terbaik tanpa ada unsur kekerasan,” katanya baru-baru ini.

Sebagai penglingsir warga Tabanan, Ida Cokorda berharap persoalan adat tak membuat krama terpecah. Apalagi, katanya, krama adat selama ini sudah terbentuk dengan baik. Dikhawatirkan, dengan munculnya kekerasan, justru akan mencemarkan tradisi adat, khususnya di Tabanan. Karena itu, kasus adat diminta diselesaikan secara musyawarah.

Menurutnya, penyelesaian konflik adat tidak harus dengan aksi keributan. Seandainya ada yang mau mengajukan pemekaran, katanya, disesuaikan dengan aturan dan prosedur yang ada. Sebaliknya, aturan yang ada juga ditegakkan dengan baik demi menjaga keutuhan adat. “Yang terpenting, semua prosesnya dibicarakan dengan baik,” tegasnya.

Langkah ini untuk menjaga adat dan tradisi Bali agar tetap ajeg. Dia mengimbau, persoalan adat dibicarakan dengan rasa kebersamaan. Sehingga, tatanan adat yang terstruktur dengan baik bisa dijaga selamanya. Kebersamaan ini kata Ida Cokorda adalah ciri dari adat tersebut. Dia khawatir, keributan terkait adat akan berdampak negatif dengan tatanan adat sendiri. (kmb30)

Mpu Nabe Dwija Wirakusuma “Lebar”

June 29, 2012 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

SINGARAJA, 29 Juni 2012 (Bali Post):

Ida Pandita Nabe Dwija Wirakusuma dari Griya Taman Sriwandira, Banjar Celuk Desa Sangsit Kecamatan Sawan, lebar akibat sakit, Selasa (5/6) lalu. Upacara palebon akan dilaksanakan Jumat (6/7) mendatang. Sebelum palebon, upacara didahului dengan masiram, Selasa (3/7), padeengan Rabu (4/7), dan ngaskara pada Kamis (5/7) mendatang.

Sebelum malinggih, Ida Pandita Nabe Dwija Wirakusuma dikenal dengan nama Nyoman Laba Somarata yang tinggal di Denpasar. Semasa hidupnya, beliau menjadi anggota ABRI dan pernah menjabat sebagai Lurah Serangan, Denpasar mulai tahun 1976 hingga 1984.

Lalu pindah menjadi Lurah Benoa, 1984-1988. Kariernya kemudian meningkat menjadi anggota DPRD di Denpasar mulai 1987-1992. Sejak tahun 1996, beliau malinggih dan membangun Griya Taman Sriwandira di Desa Sangsit. (kmb15)

Maling Bobol Dua Pura di Desa Kekeran

June 29, 2012 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

SINGARAJA, 29 Juni 2012 (Bali Post):

Pencurian benda-benda sakral milik pura (pratima) kembali terjadi. Tak tanggung-tanggung pencuri benda yang disucikan itu mengobok-obok dua pura yang lokasinya bersebelahan di Banjar Dinas Kawan Desa Kekeran Kecamatan Busungbiu, Buleleng. Benda yang berhasil dibawa kabur berupa sepasang pratima dan sejumlah prerai.

Pura yang berhasil diobok-obok maling itu yakni Pura Puseh Desa Pakraman Kekeran dan Pura Panti Pajenengan Pasek Gelgel, Banjar Dinas Kawan Desa Kekeran, Busungbiu. Sejumlah pratima yang hilang baru diketahui Selasa (26/6) lalu pukul 16.30 wita, oleh pemangku Pura Puseh, Jero Mangku Istri Ketut Merentanti (67).

Seperti yang dituturkan Bendesa Adat Kekeran, Jero Mangku Wayan Loka, Kamis (28/6) kemarin, sore itu, Jro Mangku Istri hendak melakukan persembahyangan di Pura Puseh. Setiba di pura ditemukan pintu gedong penyimpenan pratima dalam keadaan tercongkel. Lis pintu kayu itu dilepas dan diletakkan tak jauh dari sana. Melihat keganjilan itu Jro Mangku langsung menghubunginya dan prajuru desa lainnya.

Setelah semua berkumpul, gedong penyimpenan itu dicek dan diketahui dua buah pratima berbentuk garuda yang terbuat dari kayu cendana sudah hilang. Selain itu, beberapa pratima lainnya juga ditemukan jatuh di lantai gedong penyimpenan itu. “Pelaku masuk ke dalam gedong penyimpenan dengan cara mencongkel pintu,” tutur Loka yang ditemui di lokasi kejadian.

Selain Pura Puseh, empat buah prerai berlapis emas di Pura Panti Pajenengan Pasek Gelgel yang lokasinya di barat dan berdekatan dengan Pura Puseh juga hilang. Pintu penyimpenan di pura penyungsungan Pasek Gelgel itu ditemukan tercongkel. “Di Pura Pajenengan Pasek Gelgel yang diambil hanya lapisan emasnya. Sedangkan prerainya ditinggalkan,” ujar Loka.

Ditambahkkan Loka, pencuri benda-benda sakral di pura itu memanfaatkan kelengahan warga. Dituturkan, beberapa hari belakangan ini, warga setempat sibuk dengan upacara ngaben massal yang dilakukan cukup jauh dari lokasi pura. Malamnya, warga ramai berkumpul di lokasi pengabenan sehingga kampung menjadi sepi.

“Maling rupanya menggunakan kesempatan itu untuk menjalankan aksinya,” ujarnya. Mengingat kejadiannya berada di lingkungan pura, rencananya desa akan menggelar upacara ulap ambe pratima, namun itu akan dirembukkan dulu dengan warganya. Kapolsek Busungbiu, AKP Ketut Sukada, tidak menampik ada kejadian itu. Dikatakan, setelah menerima laporan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Polres Buleleng. Tim Identifikasi sudah langsung turun melakukan olah lokasi.

Hingga sore kemarin, saksi yang sudah diperiksa lima orang. Hasil penyelidikan yang dilakukan, petugas sudah mencurigai seseorang sebagai pelakunya. (kmb/kmb15)

University of Southern California Creates Chair of Hindu Studies

June 29, 2012 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

LOS ANGELES, CALIFORNIA, June 21, 2012 (USC Press Release):

The USC School of Religion will establish the first chair of Hindu studies in the United States funded by the Indian-American community. The Dharma Civilization Foundation’s $3.24 million gift to the USC School of Religion, housed within the USC Dornsife College of Letters, Arts and Sciences, will establish the Swami Vivekananda Visiting Faculty in Hindu Studies and the Dharma Civilization Foundation Chair in Hindu Studies.

“USC has a long history of welcoming and embracing people from a wide variety of cultures and creeds, backgrounds and beliefs,” USC President C. L. Max Nikias said. “We’re home to more student religious groups than any university in the nation. Now we are very proud to house the first chair of Hindu Studies in the United States endowed by the Indian-American community.”

Just last year, President Nikias led a delegation of university faculty, administrators and trustees, including USC Dean of Religious Life Varun Soni, to India. There they met with key Indian partners in higher education, business and government, and with USC alumni, to build sustainable alliances in the areas of medicine and health care, neurosciences, the arts, communication and journalism, business, and technology and engineering.

Based in Los Angeles, the Dharma Civilization Foundation’s mission is to fund studies of the Indic civilization, focusing on the Dharmic religions of Hinduism, Buddhism, Jainism, and Sikhism. The objective is to promote Dharma education through research scholarship, degree courses and endowed chairs.

“This historic gift to the USC School of Religion highlights the department’s commitment to study the enduring questions of human life and values from a global perspective,” said Duncan Williams, the chair of the USC School of Religion.

The celebration and signing ceremony for the gift was at 11 a.m. June 23 on the USC University Park Campus.

“There is a profound wisdom tradition embedded in Hinduism and we humbly believe Hinduism can make a valuable contribution to global problems and challenges. An accurate portrayal and study of Hinduism will be important not only for Hindus but for the world,” the Dharma Civilization Foundation stated.

USC was selected for this historic gift because of its tradition of reflecting the values of its community, locally and globally.

Williams is one of few ordained Buddhist priests to chair a religious studies department in the United States. He previously served as the Buddhist chaplain at Harvard University and held the Shinjo Ito Distinguished Chair of Japanese Buddhism at the University of California, Berkeley.

Dean of Religious Life Varun Soni is the first university chaplain with a Hindu background. A member of the State Bar of California, Soni spent time living in a Buddhist monastery in India.

“As one of the preeminent research universities of the Pacific Rim, it is a natural for USC to be a leader in the study of Asian religions,” Soni said. “This gift makes that goal immediately more attainable. I also believe that this is a watershed moment for the Indian-American community, which has built many Hindu temples in the United States, but has never before endowed an academic program in Hindu Studies.”

USC, which boasts more than 100 student religious organizations and 50 religious directors on campus, sits in the middle of what is considered the most religiously diverse city on the planet – Los Angeles. There are more than 70 houses of worship within a mile of the USC University Park Campus and more than 600 different faiths in the L.A. area.

USC also is a destination for top Asian students. For the tenth year in a row, USC has enrolled the highest percentage of international students of any American university, with most coming from India, China, and South Korea. More than 1,800 Indian students enrolled at USC, the largest group of Indian students on any higher education American campus.

“The USC School of Religion is creating a distinctive program embodying a new Asia Pacific/West Coast style of religious studies,” Williams said. “We aim for a multi-faith and global religious studies program that takes advantage of our place and moment as we position ourselves to be the intellectual hub for the Asia Pacific century.”

“This gift will help distinguish the USC School of Religion by emphasizing strengths in areas that don’t have a history in divinity schools,” Williams said. “We are looking at things in a global way by creating a religious studies program that isn’t biased toward one part of the world.”

A brochure for the Dharma Civilization Foundation lists the following goals:

To promote the study and interpretation of Indic Civilization and Dharma traditions.
To foster a new generation of outstanding scholars in the areas of theological, philosophical and spiritual dimensions of the Dharmic Religions.
To support the creation of Visiting Professorships, Endowed Chairs, and Centers for advanced learning of the four Dharma Traditions.
To establish graduate programs culminating into a full-fledged Hindu University of Dharma Studies.
To fund innovative projects aiming to uplift humanity.

And these initiatives:

Creation of Dharma Centers and setting up Endowed Chairs at renowned Universities in North America.
Publishing relevant Journals containing works of eminent Scholars.
Online Masters’ level Courses in Vedic Chaplaincy, Dharma and Civilizational Studies
Establishing a “School of Divinity”
Providing Scholarships to students wanting to pursue Dharma Studies
Establishing Think -tanks for optimum representation of the Dharma paradigm
Offering seed money for strategic social innovations.

Amarnatha Pilgrimage Resumes with Improved Weather

June 29, 2012 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

IANS/Srinagar

SRINIGAR, INDIA, June 25, 2012 (Gulf Times):

Kashmir authorities yesterday allowed Hindu pilgrims to trek towards the Amarnath cave shrine as the weather improved along the north Kashmir Baltal route. “More than 6,000 pilgrims have moved ahead of Dumail towards the holy cave. We had stopped the pilgrims at Dumail, 3km ahead of Baltal base camp, because of heavy downpour in the area,” a senior official of the paramilitary Central Reserve Police Force (CRPF), said. “As the weather has improved now we are allowing the pilgrims towards the cave shrine.” Helicopter sorties between the base camp and the shrine had also resumed, the official said. Another batch of 2,500 pilgrims was allowed towards the cave on Monday morning from the south Kashmir Pahalgam base camp. State Governor N N Vohra, who is also the chairman of the Shri Amarnath Shrine Board (SASB), performed the traditional rituals inside the shrine in the morning.

Next Page »