Warisan Budaya, Ratusan Siswa Pelajari Sistem Subak

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

BALI, 29 Juni 2012 (travel.okezone.com):

Subak siap menjadi warisan dunia UNESCO. Sekira 200 siswa yang berasal dari berbagai negara memelajari sistem Subak, lewat program World Heritage Education dari UNESCO. Mereka mendalami filosofi konsep kehidupan yang harmonis Tri Hita Karana yang ada dalam lanskap budaya Bali tersebut. Bali dipilih sebagai tempat kegiatan lantaran lanskap budaya Bali dinominasikan untuk masuk dalam daftar world heritage UNESCO pada sidang awal Juli 2012 yang digelar di Rusia. Kepala Unit Budaya UNESCO Jakarta Masanori Nagaoka mengungkapkan, semua situs kluster dari lanskap budaya Bali menunjukkan secara langsung kemampuan masyarakat Bali dalam membuat doktrin-doktrin kosmologis mereka yang unik menjadi kenyataan. Nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari mereka melalui perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan, pengaturan permukiman, arsitektur, seni, upacara dan ritual, serta organisasi sosial.

“Kami memilih lokasi di Jatiluwih. Lokasi ini menggambarkan dengan jelas ciri khas dari sistem sosial dan sistem Subak yang terkait dengan filosofi Tri Hita Karana (tiga unsur sumber kebaikan). Filosofi ini adalah konsep hidup yang menurut kami sangat penting untuk diperkenalkan ke generasi muda,” katanya saat mendampingi ratusan siswa English First yang berkunjung ke kawasan Subak, Jatiluwih, Tabanan, Bali, baru-baru ini. Subak merupakan organisasi demokratis para petani di Bali. Sistem ini terkait erat dengan ajaran Hindu, Tri Hita Karana yang mengajarkan mengenai hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhannya (Parhyangan), manusia dan sesama manusia (pawongan), dan manusia dan alamnya (palemahan). Nilai-nilai Tri Hita Karana dalam Subak tercermin dari pengaturan pengairan sawah petani secara adil, pembicaraan mengenai penanaman, perencanaan pembangunan dan pemeliharaan kanal dan bendungan, hingga dalam mengatur persembahan ritual dan festival Pura Subak. Semua ini untuk kebaikan bersama para petani itu sendiri misalnya menanam harus serempak untuk mengurangi hama. Harmoni tersebut telah berjalan turuntemurun sejak kurang lebih seabad silam. Masanori menambahkan, program World Heritage Education ini untuk memancing diskusi dan niat untuk saling mendengarkan sehingga menjadi sebuah penegasan identitas diri para generasi muda sekaligus meningkatkan rasa saling menghargai sesama. “Dengan tumbuhnya kesadaran diri seperti ini, mereka akan memiliki dasar yang kuat terhadap pengetahuan mengenai sejarah mereka dan pelestarian warisan budaya,” imbuh dia.

Baca lebih banyak di travel.okezone.com

Persembahan Karya Terbaik Masyarakat Bali

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

DENPASAR, 30 Juni 2012 (KOMPAS.com):

Masyarakat Bali dalam menjalani kehidupan sehari-hari berusaha mewujudkan keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual sehingga mampu mempersembahkan karya-karya terbaik. “Karya terbaik dalam kehidupan sehari-hari itu berupa rangkaian janur, kombinasi dengan bunga dan kue (banten) yang selanjutnya mendasari seni budaya Bali,” kata  Guru Ashram Vrata Wijaya Denpasar  Sri Hasta Dhala, Jumat.

Ketika menerima kunjungan 12 mahasiswa University of Western Australia (UWA) yang didampingi Prof Dr Paul Trinidad, ia mengatakan, membuat kombinasi bunga dan kue bagi masyarakat Bali, khususnya wanita merupakan kebudayaan ibu. Oleh sebab itu wanita Bali wajib belajar dan memiliki keterampilan membuat berbagai jenis banten, karena hal itu sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. ”Masyarakat Bali dalam mempersembahkan banten dibuat yang paling indah, minimal sesuai hati yang bersangkutan, disamping kegiatan itu dilakukan secara tulus iklas,” ujar  Sri Hasta Dhala yang juga dihadiri ratusan siswanya. Kondisi yang demikian itulah salah satunya menjadikan menjadikan kebudayaan mempunyai kaitan yang erat dengan agama Hindu yang dianut sebagian besar masyarakat di Pulau Dewata.

Baca lebih banyak di KOMPAS.com

Kurikulum Pancasila Harus Kembali Diterapkan

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

DENPASAR, 30 Juni 2012 (Bali Post):

Di tengah berbagai permasalahan mendera bangsa, eksistensi Pancasila dipertanyakan. Untuk itu, pemerintah diharapkan kembali menerapkan kurikulum mata pelajaran Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai upaya mempertahankan bangsa Indonesia.

“Pemerintah harus mengambil langkah-langkah tegas dalam menyosialisasikan keberadaan Pancasila dan UUD 1945 kepada generasi muda dan masyarakat untuk menyelamatkan bangsa ini dari perpecahan,” kata Dr. Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Denpasar, Jumat (29/6) kemarin.

Pada seminar nasional yang bertema “Revitalisasi Gagasan dan Reaktualisasi Tindakan Bung Karno” itu, ia mengatakan, pascareformasi pendidikan mengenai Pancasila dan UUD 1945 tidak lagi menjadi kurikulum mata pelajaran. Malah diganti menjadi mata pelajaran kewarganegaraan dan agama. “Dengan mata pelajaran kewarganegaraan tersebut, keberadaan Pancasila tidak diuraikan secara menyeluruh. Padahal, butir-butir di dalam Pancasila sebagai dasar negara semuanya menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara secara luas,” ucap Asvi Warma seorang doktor sejarah lulusan Ecole Des Hauters Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris.

Bila Pancasila dan UUD 1945 tidak masuk dalam kurikulum pelajaran, kata dia, ini bisa menjadi ancaman bagi generasi muda dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Alasannya, kata dia, keberadaan bangsa Indonesia terdiri atas suku, ras dan agama. Terlebih keberadaan masyarakat yang menyebar di berbagai pulau dari Sabang sampai Merauke. “Bila ini tidak ditanamkan sejak dini melalui mata pelajaran, maka sosialisasi terhadap Pancasila dan UUD 1945 tidak sepenuhnya akan berhasil,” ujarnya.

Memang diakui, sosialisasi Pancasila dan UUD 1945 dilakukan oleh lembaga MPR maupun legislatif. Tetapi hasil sosialisasi kepada masyarakat terbukti tak mampu optimal. “Menurut saya, pemerintah harus mengambil peran lebih banyak untuk melakukan sosialisasi kepada generasi muda kita melalui mata pelajaran atau mata kuliah. Sehingga eksistensi dasar negara lebih kuat,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah harus bisa memasukkan pelajaran tentang Pancasila dan UUD 1945 melalui mata pelajaran dan mata kuliah. Itu bisa dilakukan melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Jika pelajaran ini menjadi satu mata pelajaran atau mata kuliah, maka porsi untuk sosialisasi dan menanamkan jiwa Pancasila saya yakin terwujud. Selain itu, pos anggaran akan terfokus, tidak seperti sekarang yang nempel pada bidang lain,” katanya.

Menyinggung apakah perlu kembali dibuat kurikulum Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4), kata dia, memang perlu diadopsi seperti itu. Tapi yang lebih penting adalah sistem dan metodenya yang harus diperbaiki. “Kalau dulu sistemnya ceramah dan penataran. Tapi sebaiknya sistem mengarah pada diskusi atau dialog, sehingga akan ada komunikasi dua arah. Dengan langkah ini akan lebih efektif karena sosialisasi dilakukan, dan diharapkan di masing-masing individu dipraktikkan, demikian pula di lingkungan masyarakat,” ujar Asvi Warman. (kmb29)

Kertagosa Masuki Tahap Kritis

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

SEMARAPURA, 30 Juni 2012 (Bali Post):

Nasib objek wisata Kertagosa yang kini statusnya belum jelas kian memprihatinkan. Dalam pertemuan Jumat (29/6) kemarin, di Balai Pendopo Puri Agung Klungkung, mereka sepakat Kertagosa segera diselamatkan.

Salah seorang ahli Arkelogi Denpasar Wayan Suastika, menilai kondisi Kerta Gosa saat ini sudah kritis. Beberapa bangunan yang mengalami kerusakan, harus segera mendapatkan penanganan serius. Bahan dasar bangunan yang terbuat dari batu bata, sudah mengalami kerusakan karena faktor umur dan kondisi alam. ”Kertagosa harus segera mendapatkan penyelamatan, kalau batu bata sudah aus maka akan cepat rusak. Kondisi bangunan yang tinggi, juga rawan roboh,” harapnya.

Dalam pertemuan tersebut hadir Raja Puri Klungkung Ida Dalem Semaraputra, Sekkab Klungkung Ketut Janapria, Kadisbudpar Klungkung Wayan Sujana Yayasan Pelestarian Semarapura. Termasuk Bendesa Pakraman Kota Semarapura, MMDP dan tokoh masyarakat dan seniman Nyoman Gunarsa serta Angga Puri Klungkung.

Para undangan sepakat mengenyampingan soal status Kertagosa. Mereka sepakat menyelamatkan Kertagosa. Sebab dari evaluasi badan arkeologi, Kertagosa mampu mengundang simpati dari para undangan. Sekkab Klungkung Ketut Janapria di akhir acara menyampaikan langkah selanjutnya bersama-sama menghadap ke Bupati Candra untuk menyampaikan advokasi.

Hal yang sama disampaikan Tokoh Puri Klungkung Tjokorda Raka Putra. Pihaknya sepakat yang paling utama adalah menyelamatkan Kertagosa. Sementara masalah status akan dibicarakan setelah upaya penyelamatan warisan budaya sukses. Namun dalam persoalan tersebut, Tjok Raka Putra mengakui juga mengundang pihak Ketua DPRD dan panitia aset DPRD. Tapi tidak satup un dari pihak DPRD hadir.

Di sisi lain, Wakil DPRD Klungkung Putu Tika Winawan ketika dikonfirmasi malah mengatakan dirinya di DPRD tidak mendapatkan undangan untuk membicarakan masalah Kertagosa tersebut. Padahal menurut Tika, hal itu sudah sangat dinanti-nantikan dirinya ketika Pemkab dan Angga Puri duduk bersama-sama untuk membahas masalah Kertagosa.

Menurut Putu Tika Winawan, dia yakin pihak Puri tidak ada keinginan untuk mengklaim Kertagosa. Baginya pihak Puri pasti hanya ingin mengingatkan seluruh masyarakat bahwa ada peninggalan Kerajaan Klungkung berupa Kertagosa. Selain itu, Putu Tika juga berharap, di saat Kertagosa sudah rusak, tidak seharusnya pihak-pihak yang berwenang saling lempar tanggung jawab. Apalagi membawa persoalan tersebut ke ranah politik. Soal kondisi Kertagosa seharusnya jangan saling lempar. Harusnya bisa dicarikan solusi. Apakah melalui dana hibah atau lainnya yang tidak bertentangan dengan aturan. Balai banjar saja bisa diberikan dana hibah sampai ratusan juta di Gunaksa. ”Kok objek peninggalan kerajaan Klungkung tidak bisa,” tanya Putu Tika. (kmb)

Kado Genta Bagi Puluhan Pemangku

June 30, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

TABANAN, 30 Juni 2012 (Bali Post):

Puluhan pemangku dan sulinggih mendapat kado genta bajra dari Pemkab Tabanan. Bakti kepada para rohaniwan ini sebagai bentuk perhatian kepada para rohaniwan. Selain genta, diberikan perangkat pakaian sembahyang. Kado bagi para pemangku ini dijadwalkan akan digelar secara bertahap.

Mereka yang mendapat kado adalah para pemangku di seluruh Tabanan. Pada gelombang perdana, genta diberikan secara simbolis kepada para pemangku lingsir. Di antaranya, Jero Kubayan Pura Luhur Batukaru, Pemangku Pura Tamba Waras, Pemangku Pura Besi Kalung, Pemangku Pura Kubon Tingguh dan Pemangku Pura Dalem Tabanan. ”Kami ingin memberikan perhatian kepada rohaniwan yang tulus melakukan doa dan pencerahan bagi Tabanan,” kata Wabup Tabanan Komang Gede Sanjaya di sela penyerahan genta di Puri Agung Tabanan, Kamis (28/6).

Menurut Wabup, para sulinggih dan pemangku setiap hari rutin menghaturkan doa. Karena itu, bentuk penghargaan dari Pemkab diwujudkan dengan pembagian genta. Selain itu, para sulinggih dan pemangku akan diberikan fasilitas kesehatan. ”Jadi, jangan hanya sarana upacara, tapi kesehatan pemangku dan sulinggih juga wajib diperhatikan,” tegasnya. Sanjaya berharap, dengan doa para sulinggih dan pemangku, Tabanan bisa ajeg dan tercipta kedamaian.

Tabanan, kata Sanjaya, memiliki pura terbanyak di Bali. Karena itu, para sulinggih dan pemangku diharapkan ikut menjaga pelestarian dan perawatan pura-pura tersebut. Apalagi, kehadiran tempat suci memberikan kesejahtaran yang utama bagi warga Tabanan. Karena jumlahnya cukup banyak, kado bagi pemangku dan sulinggih dibuat bertahap, termasuk perangkat pakaian sembahyang.

Penyerahan genta bajra ini disaksikan Raja Tabanan Ida Cokorda Anglurah Tabanan. Penglingsir Puri Agung Tabanan ini berharap, kado bajra bisa menjadi sarana upacara bagi terwujudnya perdamaian di Tabanan. (kmb30)

Penyelesaian Konflik Adat Jangan Ada Kekerasan

June 29, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

TABANAN, 29 Juni 2012 (Bali Post):

Konflik adat yang berlarut-larut di Tabanan membuat Raja Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan, ikut prihatin. Penglingsir Puri Agung Tabanan ini meminta persoalan adat tidak tercemar dengan tindakan kekerasan. Sebaliknya, persoalan adat harus bisa diselesaikan dengan solusi terbaik. Salah satunya, dengan melakukan pertemuan secara kekeluargaan. “Persoalan adat sebaiknya dicarikan solusi terbaik tanpa ada unsur kekerasan,” katanya baru-baru ini.

Sebagai penglingsir warga Tabanan, Ida Cokorda berharap persoalan adat tak membuat krama terpecah. Apalagi, katanya, krama adat selama ini sudah terbentuk dengan baik. Dikhawatirkan, dengan munculnya kekerasan, justru akan mencemarkan tradisi adat, khususnya di Tabanan. Karena itu, kasus adat diminta diselesaikan secara musyawarah.

Menurutnya, penyelesaian konflik adat tidak harus dengan aksi keributan. Seandainya ada yang mau mengajukan pemekaran, katanya, disesuaikan dengan aturan dan prosedur yang ada. Sebaliknya, aturan yang ada juga ditegakkan dengan baik demi menjaga keutuhan adat. “Yang terpenting, semua prosesnya dibicarakan dengan baik,” tegasnya.

Langkah ini untuk menjaga adat dan tradisi Bali agar tetap ajeg. Dia mengimbau, persoalan adat dibicarakan dengan rasa kebersamaan. Sehingga, tatanan adat yang terstruktur dengan baik bisa dijaga selamanya. Kebersamaan ini kata Ida Cokorda adalah ciri dari adat tersebut. Dia khawatir, keributan terkait adat akan berdampak negatif dengan tatanan adat sendiri. (kmb30)

Subak, Harmoni Manusia, Alam, dan Sang Pencipta

June 27, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

TABANAN, 27 Juni 2012 (Kompas.com):

Sejak subak, sistem tata guna air di Bali, masuk dalam nominasi warisan dunia UNESCO, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, mulai ramai oleh kunjungan wisatawan asing dan domestik. Para wisatawan bukan hanya penasaran dengan subak tapi juga datang untuk menikmati keindahan alam Desa Jatiluwih yang khas dengan panorama sawah berundak dengan latar belakang Gunung Batu Karu bagai lukisan alam. Selain hawanya yang sejuk, di areal persawahan seluas 303 hektar itu para wisatawan juga menikmati pemandangan khas para petani yang mengerjakan sawah atau sembahyang di pura yang ada di tengah sawah sebelum memulai kegiatan.

Subak, yang sudah berusia sekitar satu abad tersebut, menurut I Wayan Alit Artawiguna, koordinator tim ahli penyusun proposal warisan budaya, mengandung aspek filosofi harmoni manusia, alam, dan Tuhan. Alit menjelaskan, sistem subak terkait erat dengan ajaran Hindu yang tertuang dalam Tri Hita Karana atau Tiga Sumber Kebaikan yang mengatur hubungan manusia    dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan manusia. Harmonisasi hubungan antarkomponen itu diterapkan secara turun-temurun lewat subak yang sarat makna solidaritas sosial, gotong royong, dan toleransi. Nilai-nilai harmoni itu bisa diwakili dari pengaturan pembagian air yang adil antar petani. Semua dirembukkan secara bersama-sama, demikian juga penetapan waktu tanam dan jenis padinya. Di Jatiluwih, petani wajib menanam padi lokal yang kebanyakan menghasilkan beras merah pada musim penghujan sekitar awal Januari, baru di musim tanam kedua sekitar bulan Juli petani boleh menanam palawija atau padi jenis lainnya.

Selebihnya baca di Kompas.com

“Petinget Rahina Tumpek Landep”

June 25, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

DENPASAR, 25 Juni 2012 (Bali Post):

“Petinget Rahina Tumpek Landep” rutin setiap tahun digelar Pemerintah Kota Denpasar. Kegiatan sekarang ini yang keempat kalinya, untuk memaksimalkan sosialisasi tentang maksud dan tujuannya dilaksanakan Petinget Rahina Tumpek Landep, panitia akan menggelar hiburan selama pelaksanaan kegiatan. Pada hari pertama (pembukaan), Rabu 27 Juni 2012 sore hari, masyarakat akan dihibur bebanyolan Bondres Sanggar Sumping Waluh Denpasar (asuhan De Apel Cs.).

Kemudian pada malam harinya dilanjutkan dengan kocakan hiburan rakyat yang terpopuler, yakni Wayang Cenk Blonk. Hiburan ini akan mensosialisaikan Tumpek Landep, terutama mengenai keris. Sedangkan acara penutupan kegiatan digelar Bondres Sanggar Dwi Mekar Singaraja (Susi Cs).

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar Drs. I Wayan Gatra, M.Si., di sela-sela Technical Meeting yang didampingi Kabid Bina Industri, I Nyoman Sudarsana, S.Sos., M.Si. dan Kasi Pembinaan Sarana Industri, I.B Yoga Endharta, baru-baru ini di kantornya.

Menurut Gatra, pentingnya kegiatan ini untuk masyarakat Denpasar agar mampu memaknai Tumpek Landep. Bukan sekadar memperingati sepatah logam, melainkan simbol ketajaman logam tersebut sebenarnya ketajaman adnyana (pikiran).

Sementara tujuan dan maksud Petinget Rahina Tumpek Landep yang digelar guna meningkatkan pemahaman tentang makna dan peranan Hari Tumpek Landep sebagai motor penggerak teknologi di Bali. Tercipta dari ketajaman adnyana (pikiran). Untuk mengetahui secara holistik aspek sejarah, keragaman keris taksu dan nilai spiritual. Karakter dan keluhuran keris sebagai representasi peradaban bangsa.

Selain untuk pendalaman tentang keragaman nilai multikultural dan nilai nilai universal, filosofi dan aspek spiritual, mengingat keris sebagai representasi spiritual dalam peradaban bangsa. Memberikan manfaat dan kontribusi tentang pengembangan keris pusaka budaya Bali dan triple dimensi, yakni nilai budaya, nilai teknologi dan nilai ekonomi dalam ranah lokal, nasional dan internasional. ”Terakhir, memotivasi para perajin khususnya perajin pande besi, perak dan emas serta logam lainnya di Kota Denpasar,” jelas Sudarsana.

Yoga menambahkan, kegiatan ini melibatkan 70 peserta, dengan membuatkan 45 stand. Bursa keris, pameran produk perajin pande logam, kerajinan binaan Dekranas Kota Denpasar dan stand kuliner khas Denpasar.

”Pameran keris yang diadakan dalam Gedung Museum Bali dan didukung SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia) Pusat, pemerhati dan pencinta keris dari luar daerah seperti Jawa, Madura, Malang dan daerah lainnya. Juga kegiatan sarasehan akan digelar Kamis, 28 Juni 2012 di Aula Museum Bali dengan mengusung tema ”Penguatan Keris sebagai Representasi Pusaka dan Peradaban Bangsa,” terang Yoga.(ad4)

Konsep Hindu tentang Sruti dan Smrti

June 23, 2012 by · Comments Off
Filed under: Apresiasi 

Oleh Swami Ranganathananda

Ketika Anda mempelajari buku-buku tua seperti Upanishad, Anda akan menemukan betapa banyaknya mereka selaras dengan pemikiran jiwa-jiwa besar, yang kita hasilkan pada jaman modern. Ada suatu kelanjutan historis. Pengaturan yang baru ini adalah pengaturan lama yang sama, tetapi sejalan dengan kondisi modern. Ini adalah apa yang India ajarkan berulang-ulang. Keadaan berubah, kita perlu formulasi baru dari kebenaran kuno. Kebenaran tetap sama, hanya bajunya yang berubah. Ini adalah yang kita pahami dari tradisi yang sangat kuno dan terus berlanjut sampai sekarang.

Ada dua kata, Sruti dan Smrti. Sruti berarti Veda, terutama dalam bagian Upanishad, yang berhubungan dengan hal yang abadi, sedangkan, Smrti berurusan dengan aturan-aturan sosial kontemporer dan peraturan perundang-undangan atau hukum. Smrti adalah sekunder bagi Sruti. Dalam tradisi India hal ini ditekankan: “Sruti smrti virodhe tu srutireva gariyasi,” ketika ada konflik antara Sruti dan Smrti, Sruti berlaku sebagai otoritas yang lebih utama. Sruti adalah kekal. Apa yang Anda sebut Sanatana Dharma mengacu pada Sruti, hakikat manusia, hakikat Tuhan, bagaimana kita mencapai kesadaran spiritual, ini adalah kebenaran abadi.

?Sruti adalah kebenaran bagi kita, kebenaran untuk setiap orang, mereka (Sruti) bersifat universal. Sama seperti kebenaran ilmiah bersifat universal, demikian pula kebenaran Sruti bersifat universal, karena mereka adalah produk dari ilmu pengetahuan manusia secara mendalam. Itulah sebabnya kita menyebutnya Sanatana Dharma, kebenaran yang abadi, “esa dharmah sanatanah,” Dharma ini sanatana atau abadi. Seiring dengan itu muncul Yuga Dharma, sebuah dharma untuk yuga atau periode waktu tertentu, untuk jaman tertentu dari sejarah, dan untuk sekelompok orang tertentu. Ini disebut Smrti.

Smrti-smrti datang dan pergi. Berapa banyak Smrti yang dibuat dan diganti di India? Hari ini semua Smrti lama dibatalkan jika mereka bertentangan dengan konstitusi nasional demokratis kita. Kita memiliki keberanian untuk mengubah Smrti-smrti kita dan mengembangkan Smrti baru selaras dengan pemikiran kontemporer. Ini adalah ide besar di India–sebuah perubahan sosial. Dan ajaran-ajaran yang kekal dirumuskan sesuai dengan keadaan yang berubah.

Untuk itu Anda perlu guru besar, karena mereka telah memiliki pengetahuan spiritual dan otoritas untuk melakukan hal ini. Otoritas itu datang bukan dari status keagamaan tradisional. Itu berasal dari realisasi spiritual, yang datang dari kasih sayang yang tak terbatas di hati seorang guru spiritual. Itu adalah bagaimana Smrti-smrti baru terwujud. India memegang teguh ideal ini. Dan hasilnya adalah bahwa dari jaman Veda hingga jaman modern ini, banyak perubahan telah terjadi dalam agama, dalam masyarakat, di negara kita, namun kita sama. Kita kekal abadi dan berubah sepanjang waktu. Itu adalah inti dari Sanatana Dharma yang sangat panjang.

Profesor Brajendranath Seal, teman kuliah Swami Vivekananda, adalah Wakil Rektor Universitas Mysore, ia memiliki kecerdasan yang sangat brilian. Dia mengatakan, “India mengalami penuaan, tetapi tidak pernah tua.” Itu karena penyesuaian yang terjadi pada tiap periode tertentu. Ini adalah India yang saat ini mengambil bentuk dalam pengaturan baru, India kuno yang sama tetapi mengadopsi perubahan yang diperlukan. Banyak kayu mati yang dipotong dan disingkirkan. Keberanian untuk mengubah Smrti ini, dan itu dilakukan dengan damai, adalah murni warisan Hindu. Tidak ada agama lain yang telah menunjukkan keberanian seperti itu. Sementara di agama lain, Smrti, aturan-aturan sosial, adalah segalanya, mereka tidak bisa disentuh, dan bila kita mencoba untuk mengubahnya, kita dianiaya dan dibunuh. Tapi di Hindu kita mengatakan, “Ubah Smrti yang lama jika itu tidak sesuai dengan keberadaan kita sekarang dan bentuk Smrti yang baru.”

Banyak perubahan telah terjadi dan mereka telah memurnikan agama kita dan membuat masyarakat kita sehat. Tapi jangan lupa Sruti, kebenaran abadi, sifat spiritual manusia, dan perjalanan hidup untuk menyadari kebenaran ini. Itu adalah Sanatana Dharma. Kontribusi yang besar dari seorang avatara adalah untuk menekankan hal ini. Seorang pemimpin sosial akan datang dan menganjurkan dan mempengaruhi beberapa efek reformasi sosial. Tapi avatara tidak mengganggu masyarakat sama sekali. Dia menempatkan sistem nilai baru ke dalam masyarakat; dengan itu kita tahu apa yang baik dan apa yang buruk, reformasi dilakukan, dan kita berubah secara diam-diam. Itu adalah cara yang halus, diam di mana metode rohani yang besar bekerja pada masyarakat. Ini adalah ide bagus.

Kita tidak tahu bahwa guru besar telah datang dan pergi. Tapi energi besar yang luar biasa telah ditinggalkan. Saya mendapat surat dari Sofia, di Bulgaria; satu surat dari Mr Alexander, sebuah surat yang indah, ia mengatakan: “Istri saya dan saya membaca ‘The Gospel of Sri Ramakrishna’. Saya berumur tiga puluh tahun, dan dia dua puluh tiga. Tanthia namanya, nama saya Alexander. Sebuah buku yang indah. Tapi kami tidak tahu apa-apa lagi tentang Ramakrishna dan Vivekananda. Kami ingin Anda untuk memberikan kami beberapa informasi. Saya menulis kepada seseorang di Bangalore, Mrs Devika Rani, aktris film terkenal. Dia menjawab kepada saya untuk mengirimkan surat kepada Swami di Hyderabad.”

Pria itu menulis apa yang ingin diketahuinya lebih banyak tentang Sri Ramakrishna, lebih lanjut tentang Vivekananda. Mereka begitu bersemangat untuk mendapatkan semua inspirasi ini. Jadi saya menulis, saya akan mengirimkan beberapa buku, dan saya meminta seseorang di Berlin Barat untuk mengirimkan kepada mereka. Para guru besar seperti Sri Ramakrishna memasuki kehidupan Anda diam-diam, tanpa suara, dan perubahan berlangsung dalam diri pembaca. Itulah yang terjadi ketika inkarnasi datang. Sankaracharya menjelaskan ide tentang bagaimana fungsi seorang avatara dalam masyarakat dan dengan lembut mengubah masyarakat , menempatkan orang di jalan pengembangan spiritual mereka sendiri. Bagaimana itu dilakukan? Sankara akan menjelaskannya dalam beberapa kalimat, dan kita akan mempelajarinya.

Selama penelitian kita pada pengantar Sankaracharya untuk Gita, kita menemukan dua ide besar. Satu, keburukan masyarakat dalam perjalanan waktu karena perubahan sikap pada orang-orang. Nafsu yang berlebihan, kemarahan, dan sifat lainnya seperti itu terwujud, dan mengganggu keseimbangan etika dalam masyarakat. Oleh karena itu dharma merosot dan adharma meningkat, seperti kata Sankaracharya.

Kemudian kemerosotan mulai terkait dengan ketertarikan indera yang berlebihan dan keinginan yang tidak terkontrol, dan hasilnya adalah bahwa viveka dan vijnana dihancurkan. Viveka berarti diskriminasi (pembedaan)–kemampuan untuk menilai apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Di mana pun ada keterikatan yang berlebihan terhadap sesuatu, kemampuan viveka kita akan menderita. Seiring dengan ini, Vijnana, kebijaksanaan, akan terganggu. Ketika manusia tidak mampu mengendalikan nafsu inderanya, sesuatu terjadi pada pikiran. Indera melaju, sebagaimana yang dikatakan dalam Katha Upanishad, seperti kuda yang menarik kereta menjauh, membuat penumpang tak berdaya. Itu adalah kondisi orang-orang dan masyarakat ketika terjadi kemerosotan. Ketika dharma merosot, adharma otomatis meningkat. Ketika moralitas rendah, imoralitas otomatis meningkat dalam masyarakat manusia.

* Dari Pendahuluan “Universal Message of the Gita, an Exposition of the Gita in the Light of Modern Thought and Modern Needs.”

Pura Tirta Empul Raih Penghargaan Dunia … Arya Wedakarna Jadi Honory International Advisor Board GYAN–USA

June 22, 2012 by · Comments Off
Filed under: Budaya 

DENPASAR, 22 Juni 2012 (Bali Post):

Indonesia kembali mendapatkan pengakuan tingkat dunia. Kali ini datang dari sebuah lembaga lingkungan hidup terkemuka dari Houston, Amerika Serikat. Ada dua prestasi yang diraih Bali yakni diraihnya sertifikat Green Yatra Action Network (GYAN) untuk Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar. Dan, terpilihnya Dr. Arya Wedakarna sebagai International Honorary Advisor Board (Dewan Kehormatan Penasihat Internasional), yang merupakan satu–satunya tokoh intelektual yang berasal dari Asia Tenggara (ASEAN).

Penyerahan penghargaan dan sertifikat GYAN – USA ini diserahkan langsung oleh Dr. Kusum Vyas (President GYAN) di hadapan Cok Ace (Bupati Gianyar) di Puri Agung Ubud, Gianyar. Sebelumnya, sertifikat yang sama telah diserahkan kepada Pengempon Pura Tirta Empul Tampaksiring Gianyar.

Bupati Gianyar Cok Ace menyambut baik prakarsa dari GYAN – USA yang telah memilih Tirta Empul sebagai satu–satunya wakil dari ASEAN yang dianggap memenuhi kriteria pengelolaan lingkungan hidup dengan baik. ”Saya rasa sangat baik sekali jika ke depan semakin banyak intelektual dari USA yang bisa hadir di Pura Tirta Empul dan Gianyar. Ini akan melengkapi penghargaan untuk Gianyar yang Juli nanti akan menerima penghargaan World Heritage UNESCO,” ungkap Cok Ace.

Dr. Kusum Vyas menyatakan bahwa lembaga yang ia pimpin sangat selektif memilih situs–situs yang akan didaftarkan untuk meraih sertifikasi internasional ini. ”Saya bertemu dengan Dr. Arya Wedakarna di London, 2008 silam. Dari sana beliau menominasikan Pura Tirta Empul sebagai salah satu tempat ideal dengan konsep hijau dan pemeliharaan lingkungan. Dan, dewan GYAN–USA menyetujui bahwa Tirta Empul adalah sebuah tempat yang layak menjadi kesayangan dunia,” ujar President Living Planet Foundation ini.

Untuk itulah, ia juga menyatakan bahwa pihak GYAN – USA telah memilih Dr. Arya Wedakarna sebagai Honorary International Advisor Board GYAN– USA, sebagai simbol akan dedikasi putra Indonesia dalam berjuang di dunia internasional. ”GYAN – USA adalah organisasi lingkungan hidup yang sangat kredibel di USA. Tahun 2012 ini kita menetapkan Dr. Arya Wedakarna untuk menjadi Dewan Kehormatan GYAN– USA. Beliau akan menjadi satu–satunya tokoh intelektual di kawasan Asia Timur dan Tenggara,” tutur Kusum.

Untuk itu, ia akan mengundang Bali dalam Konferensi Lingkungan Hidup terbesar di dunia yang akan diselenggarakan pada 7 – 10 September 2012 di India, dan berjanji membawa Tirta Empul sebagai role model dari konsep Green Yatra. Acara diakhiri dengan penyerahan medali dan sertifikat kepada Dr. Arya Wedakarna sebagai Honorary International Advisor Board.(ad4)

Next Page »