Catur Warna dan Pemberdayaan Umat

May 21, 2010 by
Filed under: Apresiasi 

Oleh: IGN Nitya Santhiarsa

Kewajiban para brahmana, ksatria, waisya dan sudra, dibedakan sesuai dengan guna yang muncul dari sifatnya sendiri. (Bhagavad-Gita XVIII.41)

Ajaran Catur Warna selama ini lebih dipahami dan dipraktekkan sebagai ukuran kualitas diri individual atau sebagai profesi dan swadharma seseorang dalam masyarakat di kehidupan sehari-hari umat Hindu. Contohnya, jika seseorang memiliki kemampuan spiritual dan telah berprofesi sebagai pandita maka dia dikatakan sebagai seorang brahmana, dan bila dia memiliki karakter seorang pemimpin dan menjalankan pekerjaan sebagai birokrat, dia dikatakan sebagai seorang ksatria.

Hal ini dimaklumi, karena Catur Warna mengandung ajaran empat swadharma dalam masyarakat sesuai dengan guna atau karakter masing-masing individu. Warna brahmana, di mana karakter cenderung pada spiritualitas, pengetahuan dan kebijaksanaan. Warna ksatria, dengan sifat alamiah cenderung pada kepemimpinan, keberanian, kecakapan dan kekuatan. Warna waisya, sifat yang cenderung pada kegiatan kerja mengolah alam, dan warna sudra, karakter yang cenderung pada sifat pelayanan atau pengabdian.

Keempat guna ini berkembang dan muncul dalam masyarakat membentuk swadharma atau profesi dalam hidup bermasyarakat. Ada yang berprofesi sebagai pandita atau ilmuwan, ada yang menjadi raja/pemimpin atau prajurit, ada yang menjadi petani, peternak, pedagang, atau pengusaha, dan ada yang menjadi karyawan atau pelayan. Dengan melaksanakan swadharma masing-masing sambil tekun memuja Tuhan, siapapun dijamin terbebas dari dosa dan memperoleh kesempurnaan hidup, demikian yang diajarkan Bhagawan Krishna kepada Arjuna seperti yang tersurat dalam Bhagavad-Gita. Dalam ilmu manajemen modern disebutkan bahwa jika ingin sukses, berikan pekerjaan kepada ahlinya (the right man in the right duty).

Pada perkembangannya, ajaran Catur Warna ini kemudian mendapat bias dari tafsir yang menyatakan bahwa guna sepenuhnya muncul dari (sancita) karmaphala, hasil perbuatan kelahiran dahulu dan bersifat genetic (keturunan), sehingga muncullah anggapan bahwa swadharma tertentu selalu menjadi hak seseorang berdasarkan kelahiran atau keturunan. Sejak saat itu mulailah timbul masalah pada masyarakat, karena terjadi ketidakadilan dalam distribusi peran dan tanggung jawab dalam masyarakat.

Untuk menyikapi fenomena ini, setiap orang harus membuka wawasan seluas mungkin dan bersikap arif bijaksana serta hindari sejauh mungkin sikap arogan dan egois. Salah satu sikap pandang yang cukup bijak adalah memandang Catur Warna merupakan aspek yang dapat muncul dalam satu orang, artinya keempat karakter: brahmana, ksatria, waisya dan sudra dapat muncul bersama dalam satu pribadi. Misalnya, seseorang memiliki multi-talenta, dia dapat sekaligus menjadi seorang ilmuwan, teknokrat dan wirausahawan yang sukses pada saat yang sama. Atau dia adalah seorang manajer, pada saat yang sama dia juga seorang yogi dan relawan social. Semua hal di atas adalah serba mungkin, bahkan sudah banyak contohnya dalam kehidupan nyata.

Dengan konsep dan metode ini, ajaran Catur Warna terasa lebih memotivasi setiap umat untuk mengembangkan diri dan keahliannya tanpa ada batas yang menghalanginya. Sikap pandang ini juga dapat menghilangkan stigma di masyarakat bahwa karakter melayani dari sudra lebih rendah tingkatnya daripada kebijaksanaan brahmana.

Keempat karakter ini harus dikembangkan secara sinergis pada setiap orang agar terbentuk insan-insan Hindu yang tangguh dan berdayaguna. Brahmana meneladani orang jadi jujur dan baik hati, ksatria menggerakkan orang menjadi berani dan bertanggungjawab, waisya menginspirasi orang menjadi tekun dan ulet berusaha, dan sudra mendorong orang untuk memiliki sifat pengabdian dan pelayanan. Semua kecenderungan itu disinergikan untuk mendapat daya guna yang luar biasa.

Comments

Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.