Kebijaksanaan Lebih Utama daripada Kehebatan

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Tidak sedikit orang hebat dan ingin menjadi hebat di dunia ini dengan kemampuan material atau intelektual, dengan kekuatan natural atau supranatual, dengan jabatan tinggi dan besarnya kekuasaan. Tapi berapa banyak orang bijaksana di antara orang-orang yang hebat itu? Selama ini, apa yang telah dihasilkan dari kehebatan tanpa kebijaksanaan? Kehancuran! Ego atau keakuan yang mengharapkan pengakuan dan pujian memunculkan keinginan untuk menjadi orang hebat. Keinginan seperti itu merasuki pikiran kebanyakan orang di seluruh dunia ini. Tapi, betapapun hebatnya seseorang, kedamaian dan nama baik tetap diperoleh dari kebaikan yang muncul dari kebijaksanaannya. Maka dari itu, kebijaksanaan lebih utama dari kehebatan, dan berusaha untuk menjadi orang yang bijaksana jauh lebih penting daripada menjadi orang hebat. Bagi mereka yang mendambakan kedamaian, kebijaksanaan adalah kehebatan sesungguhnya. Bagi orang kebanyakan, kehebatan cenderung mendatangkan kebanggaan dan kesombongan. Ketika masih dominan hidup dalam kesadaran material, setiap orang memiliki kecenderungan untuk menjadi bangga atas apa pun yang dia miliki. Oleh karena itu, mereka yang berusaha untuk menjadi orang bijaksana sangat berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam perangkap kebanggaan. Kita harus sangat berhati-hati untuk tidak menjadi bangga atas apa pun kemajuan, baik material maupun spiritual, yang telah kita peroleh. Untuk menaklukkan kebanggaan orang bijaksana selalu menjaga kerendahan hatinya; menghormati orang lain tanpa pernah menuntut penghormatan yang sama dari orang lain untuk dirinya. Ini adalah ajaran luhur, kebijaksanaan dari para rshi agung, kehebatan sesungguhnya. Orang yang merasa berbhakti kepada Tuhan yang dipujanya melalui ritual-ritual keagamaan yang diyakini, tanpa mampu berbhakti kepada pemuja lain, apalagi merendahkan dan berbuat semena-mena, sesungguhnya dia tidak benar-benar berbhakti kepada-Nya. Oleh karena itu, kedamaian hati tidak akan pernah diperolehnya. Untuk memurnikan bhakti kepada Tuhan, yang kita butuhkan adalah kebijaksanaan hasil dari kerendahan hati, bukan kehebatan kemampuan material atau intelektual, kekuatan natural atau supranatual, tingginya jabatan atau besarnya kekuasaan, besarnya pengaruh dan banyaknya pengikut. Tanpa kebijaksanaan semua kehebatan itu tidak ada gunanya bagi kebahagiaan kita.

Kegiatan yang Sama dengan Orientasi Berbeda

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Waktu adalah hal yang paling berharga yang kita miliki. Setiap waktu yang terbuang percuma tidak akan pernah ditemukan kembali. Oleh karena itu para bijaksana selalu menggunakan waktu mereka untuk hal-hal yang bermanfaat. Yang benar-benar bermanfaat dari semua adalah menggunakan waktu untuk keuntungan abadi dalam kehidupan rohani mereka. Ini tidak berarti bahwa kita harus mengabaikan kebutuhan tubuh material yang temporal. Kita harus melihat tubuh material yang temporal ini sebagai alat untuk dimanfaatkan dengan cara-cara yang bermanfaat untuk mencapai tujuan utama kelahiran kita. Mereka dirawat untuk dapat dengan nyaman terserap dalam melakukan bhakti melalui berbagai sisi kehidupan yang kita jumpai. Setiap waktu adalah kesempatan yang sangat berharga, dan sangat disayangkan jika itu disia-siakan dalam kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, yang merugikan bagi perkembangan kehidupan rohani kita. Para bijak mengabdikan hidup mereka untuk mereformasi diri, mengubah arah perjuangan dari perjuangan eksternal belaka ke perjuangan untuk kepentingan internal. Orang-orang mungkin melakukan kegiatan yang sama dengan orientasi berbeda. Oleh karena itu, setiap orang mungkin tidak merasakan hal yang sama ketika melakukan kegiatan yang sama. Jika kita tidak merasakan kebahagiaan ketika melakukan kebajikan-kebajikan, kita harus memperhatikan kembali orientasi kita saat melakukan kebajikan-kebajikan tersebut, untuk menemukan keinginan, selain keinginan untuk mengungkapkan bhakti, yang berpotensi mengakibatkan terlepasnya kebahagiaan dari genggaman hati kita. Orientasi yang berbeda dari suatu bentuk kebajikan yang dilakukan akan membawa dampak yang berbeda pula. Pemberian kecil yang penuh kasih dan tepat sasaran akan memberi dampak positif yang jauh lebih besar pada hati si penerima daripada pemberian besar yang memiliki orientasi bisnis semata, di mana pemberian dilakukan dengan harapan itu akan membawa keuntungan material kembali kepada si pemberi. Tepat sasaran dan keikhlasan penuh kasih dari si pemberi adalah letak nilai sesungguhnya dari suatu pemberian, bukan seberapa besar pemberian yang diberikan. Karena itu, Amritanandamayi Devi  mengatakan, “Jika anda tidak mampu memberikan bantuan materi kepada mereka yang membutuhkan, berikanlah senyuman, kata-kata dan ekspresi penuh kasih.” Itu adalah pemberian mulia.

Jatuh dari Tebing Lebih Mudah daripada Memanjatnya

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Setiap orang ingin hidupnya meningkat, baik secara material maupun spiritual. Tidak ada hubungan langsung antara peningkatan material dan spiritual; bahwa, peningkatan material tidak bisa membuat seseorang mengalami peningkatan spiritual; dan, peningkatan spiritual tidak bisa membuat seseorang mengalami peningkatan material. Namun demikian, bagi orang-orang yang peduli dengan peningkatan spiritualnya, mereka akan mengedepankan dharma dalam mendapatkan dan menggunakan hal-hal material. Maka dari itu, tidak semua orang yang giat bekerja berupaya memperoleh hal-hal material adalah orang yang materialistis. Bahkan, para bijak pun, selama itu memungkinkan, tetap berupaya memperoleh hal-hal material untuk dapat digunakan melakukan suatu kebajikan terhadap orang lain. Memang benar, tidak ada hubungan langsung antara peningkatan material dan spiritual, tetapi semakin teruji keikhlasan seseorang dalam melakukan kebajikan-kebajikan melalui hal-hal material, akan semakin sedikit mengalami gangguan mental dalam melakukan sadhana untuk peningkatan spiritualnya. Untuk mencapai puncak tebing yang tinggi, jauh lebih sulit daripada terjun bebas dari puncak tersebut. Demikian pula dalam hal material maupun spiritual, untuk mengalami keterpurukan jauh lebih mudah daripada mencapai peningkatan. Kita harus berupaya keras dan tak kenal putus asa untuk mencapai peningkatan, tetapi untuk jatuh dan mengalami kehancuran sangat mudah. Kita harus menggunakan waktu secara bijaksana untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk mencapai tujuan kelahiran kita: kebebasan sejati dalam pencerahan spiritual, di mana kebahagiaan sesungguhnya berada. Dalam Sarasamuccaya 6 ditekankan, “Kesimpulannya, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia. Ini kesempatan yang sungguh sulit diperoleh; yang merupakan tangga untuk pergi menuju ke alam surga. Segala sesuatu yang menyebabkan menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.” Istilah surga berasal dari kata “svarga” dalam Bahasa Sanskrit. “Svarga” terbentuk dari kata “svar” yang berarti cahaya dan “ga” yang berarti pergi, menuju atau ada di dalam. Jadi “svarga” berarti menuju atau ada di dalam cahaya. Kemudian kita mengenal istilah “svargaloka” atau “svarloka” atau “svahloka” yang berarti alam cahaya; alam pencerahan; alam cahaya kesadaran spiritual.

Awas !!! Bahaya Listrik Asmara Tegangan Tinggi

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Semua orang ingin bahagia. Untuk itu, semua orang membutuhkan cinta, karena kebahagiaan sejati hanya ada di dalam kasih. Rabindranath Tagore mengatakan, “Cinta adalah satu-satunya realitas, dan hal itu bukan sentimentil belaka. Itu adalah kebenaran hakiki yang berada di hati makhluk ciptaan.” Sering kali cinta dimaknai sebagai sentimentil asmara. Karenanya sering membuat orang bingung memaknai kata-kata para bijak ketika berbicara tentang cinta. Dari cinta kasih tumbuh kasih sayang. Namun, ketika itu mengalir melalui kesadaran naluriah, dia menjadi terbatas dan memiliki kecenderungan mengikuti alur naluriah kita. Kecenderungan naluriah memoles kepolosan wajah cinta yang penuh pesona dan kebahagiaan menjadi berjuta wajah yang tidak murni lagi dan berjuta rasa yang menyertainya. Keinginan naluriah kita memanfaatkan energi kasih yang sama sebagai pembangkit listrik asmara, dari listrik tegangan rendah, menengah hingga tegangan tinggi. Ketika penghantarnya tersambung dengan baik, listrik bermanfaat untuk banyak hal. Tetapi jika terjadi arus pendek, yang disebabkan kerusakan penghantar atau tidak tersambung dengan baik, itu akan menimbulkan percikan api yang sangat panas, bahkan bisa menimbulkan kebakaran hebat yang menghanguskan seluruh rumah dan segala isinya yang susah payah dibangun dan memberikan begitu banyak kesenangan dan kenyamanan sebelumnya. Listrik yang memberi banyak manfaat berubah menjadi sumber petaka. Demikianlah dualitas dari listrik asmara yang dibangkitkan; di satu sisi dia memberi manfaat, tetapi di balik itu semua selalu ada bahaya yang sewaktu-waktu bisa membuat hati kita hangus terbakar. Sebagai penghantar energi listrik kasih, kita harus memiliki budi pekerti luhur. Dengan budi pekerti luhur akan terjadi hubungan baik dengan penghantar lainnya, dan karenanya tidak akan terjadi arus pendek yang membahayakan. Membina kehidupan rumah tangga yang baik  adalah sekolah dasar kita untuk mendalami cinta kasih. Untuk itu Atharva Veda 14.2.43 berpesan, “Wahai suami dan istri, hendaknya kalian berbudi pekerti luhur, penuh kasih sayang dan keintiman di antara kalian. Lakukanlah tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah anak-anak yang suputra, bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah dengan sukacita di dalamnya.”

Menjadi Sang Penakluk

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Semoga kita semua bisa menjadi sang penakluk bagi musuh-musuh yang bercokol pada diri kita sendiri. Dalam Bhagavad Gita 7.27 dijelaskan, “O Putra Bharata, sang penakluk musuh, karena dibingungkan oleh dualitas yang muncul dari keinginan dan kebencian, semua makhluk di dunia ini menjadi tersesat.” Orang dijebloskan ke penjara karena kejahatannya. Kini, penjara dikenal sebgai lapas (lembaga pemasyarakatan), di mana pelaku kejahatan yang menghuninya disebut warga binaan, karena pemasyarakatan bertujuan membina agar mereka menyadari kesalahannya, memperbaiki diri dan tidak mengulangi melakukan kejahatan. Begitu pula dunia material ini, adalah penjara di mana kita mendapat binaan untuk menyadari kesalahan akibat ketidaktahuan kita akan kesejatian dan oleh karenanya dibingungkan oleh dualitas yang muncul dari keinginan dan kebencian. Hanya setelah menyadari kesejatian kita sebagai Diri, kita dibebaskan dari penjara kehidupan material ini. Pertimbangan dibentuknya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 adalah: (a) bahwa pada hakikatnya warga binaan pemasyarakatan sebagai insan dan sumber daya manusia harus diperlakukan dengan baik dan manusiawi dalam satu sistem pembinaan yang terpadu; (b) bahwa perlakuan terhadap warga binaan pemasyarakatan berdasarkan sistem kepenjaraan tidak sesuai dengan sistem yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945; (c) bahwa sistem pemasyarakatan merupakan rangkaian penegakan hukum yang bertujuan agar warga binaan pemasyarakatan menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan hidup sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Keinginan egois, keserakahan, kemarahan, kebingungan, kedengkian atau iri hati adalah provokator yang memprovokasi kita untuk melakukan berbagai macam keburukan yang menyebabkan kita terus terpenjara dalam kehidupan material. Kita harus segera berpaling dan berserah diri kepada Tuhan. Kasih-Nya akan menaklukkan semua kejahatan dalam diri kita, untuk kemudian menikmati kebebasan sejati yang abadi penuh pengetahuan dan kebahagiaan. Dalam Atharva Veda 12.1.54 ditegaskan, “Lihatlah Aku sekarang! Aku adalah Sang Pemenang! Nama-Ku adalah tertinggi di seluruh alam semesta ini. Aku adalah Hukum di semua wilayah, Aku penguasa dari semua! Aku adalah Sang Penakluk!” 

Pernyataan Perang Melawan Musuh Internal

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Tuhan ada dimana-mana. Dia adalah Parama-atman; Jiwa Agung Semesta. Dia bersemayam di setiap hati kita. Tetapi, nafsu egois, keserakahan, kemarahan, kemabukan, kebingungan karena ilusi pikiran, dan kedengkian atau iri hati adalah katarak yang menutup mata hati kita sehingga kita tidak bisa melihat-Nya. Tuhan, Kasih yang tak pernah pilih kasih, penopang dari segalanya. Berbagai kebajikan adalah wajah-Nya, penuh pesona, dan membawa kebahagiaan. Semoga kita bisa membersihkan katarak yang menutup mata hati kita; harapan mulia seperti diutarakan dalam Atharva Veda 9.2.25, “Dalam berbagai bentuk kebajikan, Oh Kasih, Engkau tunjukkan wajah-Mu. Karuniakanlah agar berbagai bentuk kebajikan dapat menembus ke dalam hati kami, melempar jauh segala kedengkian!” Musuh besar tidak ada di luar sana, tetapi di dalam diri kita sendiri berupa nafsu egois, keserakahan, kemarahan, kemabukan, kebingungan karena ilusi pikiran, dan kedengkian atau iri hati. Kita sering mendengar pernyataan perang terhadap korupsi, narkoba, terorisme atau hal-hal lain yang dianggap menjadi sumber masalah yang telah merenggut kedamaian dan kebahagiaan banyak orang, tetapi sudahkah kita menyatakan perang terhadap musuh-musuh yang bercokol berurat berakar di dalam diri kita sendiri? Sejak zaman dahulu kita telah dijajah dan diperbudak oleh musuh-musuh utama yang terus bercokol di dalam diri kita. Memerdekakan diri dari jajahan dan sistem perbudakan mereka yang selama ini begitu erat membelenggu kita bukanlah tugas mudah yang bisa dengan cepat didapat hasilnya. Tugas ini membutuhkan perjuangan tak kenal menyerah, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar. Sebagaimana jiwa besar para pejuang kemerdekaan bangsa ini yang maju terus pantang mundur berjuang membebaskan bangsa dari dominasi bangsa lain, demikian halnya kita dalam membebaskan diri dari cengkeraman musuh-musuh yang berasal dari ilusi pikiran yang mendominasi kita selama ini. Senjata tercanggih kita dalam menghadapi dan menaklukkan musuh-musuh internal adalah senjata kasih karunia Tuhan, dan itu menjadi senjata satu-satunya yang dapat digunakan untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya. Senjata kasih harus diproduksi sendiri dengan peralatan bhakti. Semakin kuat persenjataan kita, semakin mudah kita memenangkan peperangan ini. Semoga demikian adanya.

Kekayaan Duniawi Tidak Akan Dibawa Mati

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kematian adalah hal yang pasti bagi setiap yang lahir. Kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput. Kebanyakan dari kita berharap itu tidak terlalu cepat bahkan tidak pernah terjadi pada diri kita. Tapi cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi kematian, tak terelakkan. Kematian mungkin datang dengan peringatan, seperti sakit parah. Atau mungkin datang tiba-tiba melalui bencana alam atau kecelakaan. Kematian telah menjadi hal yang sangat menakutkan bagi kebanyakan orang. Ketidaktahuan kita akan eksistensi kita setelah kematian dan kemelekatan pada hal-hal material yang selama ini memanjakan kepuasan indriya kita, adalah sumber dari ketakutan yang muncul. Itulah sebabnya mengapa para bijak senantiasa mengingatkan kepada kita betapa pentingnya membangkitkan kembali kesadaran kita sebagai Diri, yang bebas dari kematian, abadi, penuh pengetahuan dan kebahagiaan sejati. “Kekayaan duniawi tidak akan dibawa mati.” Kita sering mendengar kata-kata ini, atau yang senada, untuk mengingatkan kita bahwa ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan: kehidupan rohani kita.. Belum terbebasnya seseorang dari belenggu material akan membuat jiwanya pergi hanya untuk kembali; harus kembali mengambil kelahiran material setelah kematiannya, dan kembali mengalami penderitaan di dunia ini. Tetapi, bagi mereka yang tidak peduli kepada kehidupan rohaninya, mendengar kata-kata di atas, mereka berkata, “Mari bersenang-senang, nikmati dunia ini sepuas-puasnya mumpung belum mati, karena kekayaan duniawi tidak akan dibawa mati.” Kita ingin menikmati kebahagiaan sejati, tanpa semburat kesedihan. Tetapi kita berupaya mendapatkan melalui hal-hal material yang temporal, di mana dualitas suka dan duka tak terelakkan. Kebahagiaan sejati tidak akan bisa dinikmati melalui pencapaian material, karena itu hanya ada di dalam Diri. Ketika para bijak mencapai kesadaran Diri, tidak ada lagi paksaan untuk melepas kesenangan-kesenangan yang mungkin diperoleh dari hal-hal material, karena telah menikmati sukacita spiritual yang jauh lebih berkualitas, dan hanya mereka yang memahami sukacita itu. Sementara kita masih tetap diliputi kekhawatiran untuk benar-benar melepas kesenangan material, karena tidak tahu  kebahagiaan seperti apa yang akan kita peroleh dari pelepasan tersebut. Untuk itu, sraddha atau keyakinan penuh sangat dibutuhkan.

Kerendahan Hati Tidak Bisa Dibuat-buat

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Betapapun ramah, baik, sopan dan dermawannya seseorang, jika dia masih memandang ada orang lain yang lebih rendah dari dirinya, maka semua itu bukanlah refleksi dari kerendahan hati yang sejati. Kerendahan hati sejati adalah memandang keesaan Atman dalam segala hal, dan semua kebajikan muncul karena pandangan tersebut. Hanya dengan pandangan demikian seseorang dapat melakukan karma bhakti yang sebenarnya. Kerendahan hati bukan sekadar sikap merendah, dan tidak harus selalu merendah terhadap orang lain. Sikap merendah diperlukan ketika kita mulai merasa meninggi, dan benar-benar untuk menekan perasaan yang meninggi tersebut, agar kita tidak kebablasan menjadi tinggi hati. Sikap merendah bukan dan tidak bisa digunakan untuk menunjukkan kerendahan hati, sebab kerendahan hati tidak bisa dibuat-buat sebagaimana halnya kesopanan. Itu akan muncul dengan sendirinya dari kemurnian hati kita. Kerendahan hati akan menghindarkan kita dari kesombongan. Maka dari itu rendah hati secara umum disinonimkan dengan tidak sombong. Orang yang rendah hati pasti tidak sombong; tetapi, orang yang tidak sombong, belum tentu karena rendah hati tetapi bisa juga karena rendah diri. Orang yang tidak sombong karena rendah diri tidak jarang menjadi sombong begitu memiliki sesuatu yang bisa disombongkan. Tapi, bagi orang yang rendah hati memang merasa tidak ada yang perlu untuk disombongkan. “Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin, geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luhu, ilang luhu buke katah, yadin ririh liu enu paplajahan—Jangan merasa diri pintar, biarlah orang lain yang menilai, seperti kegiatan rutin menyapu, selalu saja ada sampah, sampahnya hilang debunya banyak, meski sudah berilmu, masih sangat banyak hal yang perlu dipelajari.” Lagu ini berisi pesan mulia agar kita tetap rendah hati, bukan rendah diri; juga pesan untuk tetap belajar, seumur hidup. Jika kita ingin mengalami kemajuan dalam dharmasadhana kita, kuncinya adalah untuk selalu tetap rendah hati. Dengan kata lain, kita harus selalu ingat bahwa kita tidak tahu segalanya, bahwa kita masih harus banyak belajar. Ketika seseorang merasa sudah pintar, tahu segalanya, selalu benar, saat itu pula pintu pengetahuan tertutup baginya; dia tidak bisa lagi terbuka untuk menerima kritik dan saran, apalagi dikoreksi dan diarahkan oleh orang lain yang sebenarnya lebih tahu tentang sesuatu.

Tapa Sabda Bayu Idhep

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Mendengar istilah bertapa, pada umumnya orang membayangkan seseorang yang duduk bersila di tempat yang sangat sepi. Secara harfiah kata tapa berarti “pengujian”—pengujian terhadap ketahanan dan kemampuan mengatasi berbagai bentuk penderitaan fisik dan mental dan perasaan hati berupa kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, kemarahan, kebencian, keserakahan, kesombongan dan lain-lain. Di masyarakat Jawa dikenal istilah tapa nyepi dan tapa ngrame. Yang disebutkan di awal paragraf ini adalah tapa nyepi. Sedangkan tapa ngrame adalah latihan ketahanan dan kemampuan mengatasi segala bentuk ujian yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, tapa juga bisa bermakna sebagai pengendalian diri, menghindari sikap dan perilaku yang sekiranya dapat menimbulkan penderitaan bagi orang lain. Tapa sabda artinya tapa bicara: tidak berbicara terlalu banyak, berbicara jujur atas dasar kebijaksanaan, tidak memfitnah, tidak menyebarkan aib seseorang, tidak menggunakan kata-kata yang menyakitkan, berbicara sambil terus mengingat Tuhan, yang penuh kasih, dan merefleksikan kasih tersebut ke dalam kata-kata, berusaha berbicara ramah yang menimbulkan sukacita bagi yang mendengarkan. Tapa bayu yaitu tapa kekuatan dan kemampuan fisik. Menghindari penggunaan kekuatan dan kemampuan yang dapat merusak, menyakiti, merugikan atau membahayakan. Sebaliknya, itu harus dimanfaatkan untuk membantu orang yang sedang sakit, bersedih, menderita atau berada dalam kesulitan lainnya; untuk melakukan karma bhakti yang bermanfaat bagi kebaikan bersama, dengan menaati dasar-dasar kebajikan. Dan, Tapa idhep artinya tapa pikiran. Pikiran dan perasaan hati harus tetap tenang, bebas dari kecemasan, ketakutan, kemarahan, kebencian, keserakahan, kemabukan, kesombongan, iri hati dan lain-lain. Pikiran dan perasaan hati harus dipenuhi cinta kasih, merenungkan keagungan Tuhan, dikendalikan agar tidak berlompatan ke sana ke mari sibuk mengejar berbagai kepuasan indriyawi, dan mewaspadai masuknya gagasan-gagasan rendah yang akan mengganggu dan menghambat proses perkembangan kehidupan rohani kita. Kesempurnaan dari tapa adalah kemanunggalan dari ketiga jenis tapa tersebut. Dalam hal ini Dada J.P. Vaswani mengatakan, “Pengujian manusia adalah seberapa besar dia dapat menanggung penderitaan dan seberapa banyak dia dapat berbagi dan seberapa cepat dia mengakui kesalahannya dan melakukan penebusan untuk kesalahan itu.”

Bebaskan Diri dari Perbudakan

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kehidupan kita sebagai manusia di dunia material ini memiliki makna yang sangat agung sebagai perjalanan suci yang panjang dan penuh misteri dari jiwa menuju kesadaran akan esensinya sebagai Sang Diri yang abadi penuh pengetahuan dan kebahagiaan. Sesungguhnya, kita merendahkan nilai kehidupan kita sendiri apabila melupakan tujuan mulia perjalanan jiwa kita, dan melalaikan pelaksanaan dharma untuk pencapaian tujuan itu. Selama kita merendahkan kehidupan kita, selama itu pula kita akan tetap dilanda kebingungan dan kekhawatiran karena kehilangan arah, dan pada akhirnya akan merasa hampa karena kehilangan makna. Ketika masih hidup dengan kesadaran pikiran, kita seharusnya menjaga pikiran dengan pikiran. Pikiran adalah belenggu, dan pikiran pula yang membebaskan. Ketika pikiran memusatkan perhatiannya ke dunia eksternal, dia akan menjadi belenggu; dan, ketika pikiran memusatkan perhatiannya ke dunia internal, dia akan membebaskan. Alam pikiran kita terdiri dari empat lapisan, yaitu: ahamkara (ego pikiran), manah (naluri pikiran), buddhi (kecerdasan atau akal budi pikiran) dan chitta (memori pikiran di mana tersimpan semua catatan pengalaman hidup). Kita seharusnya menjaga ego dan naluri pikiran kita di bawah kendali kecerdasan atau akal budi pikiran kita, belajar dari catatan pengalaman hidup yang telah dilalui. Namun sayangnya yang sering terjadi adalah sebaliknya: ego dan naluri pikiran kita tertarik pada sesuatu, sementara kecerdasan kita tahu bahwa itu tidak baik untuk kita, tetapi kita menyerah pada tuntutan ego dan naluri pikiran; memanjakan mereka hanya untuk menyesal kemudian. Dan yang lebih celaka lagi, meskipun kecerdasan kita menganalisa bahwa kita telah membuat kesalahan, tetapi ketika kita kembali dihadapkan dengan godaan yang sama, kita menyerah lagi hanya untuk menjadi lebih menyesal lagi. Karena kelemahan hati, kita, bahkan setelah berulang kali, masih tetap membuat kesalahan yang sama, walaupun kita menyadari sepenuhnya bahwa hal itu adalah kesalahan dan menjadi lebih dan lebih menyesal lagi, kita tetap melanjutkan kebiasaan buruk kita menyerah pada dorongan ego dan naluri pikiran yang cenderung tertarik ke luar untuk terus memanjakan kepuasan indriya-indriya kita, dan tercengkeram oleh kuatnya energi material. Inilah sebabnya mengapa sadhana atau latihan spiritual begitu penting untuk dilakukan, untuk menyelamatkan diri kita dari perbudakan ego dan naluri pikiran kita sendiri.

Next Page »