Keinginan Egois adalah Borok Kita

July 26, 2014 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Borok yang terasa gatal menimbulkan keinginan untuk menggaruknya. Jika kita menggaruknya mungkin kita akan mendapatkan kenikmatan sementara yang seringkali menimbulkan keinginan untuk menggaruknya lebih keras lagi. Tetapi rasa gatal itu datang dan datang lagi, tidak pernah benar-benar hilang oleh garukan, malah itu membuat borok itu semakin parah. Mereka yang paham kesehatan, dan berdisiplin, akan berusaha menemukan dan memberikan obat yang paling manjur untuk kesembuhan boroknya, dan tidak akan pernah menggaruknya selama proses penyembuhan berlangsung. Dengan menahan rasa gatal itu, tidak menggaruknya, borok itu akan lebih cepat mengering dan sembuh. Demikian halnya rasa gatal dari keinginan-keinginan egois kita yang menimbulkan hasrat untuk pemuasan indriya-indriya material kita yang tidak pernah benar-benar terpuaskan. Swami Ramakrishnananda mengatakan, Keinginan adalah hal yang sangat berbahaya. Kadang-kadang kita mengira bahwa kita telah membunuh semua keinginan egois, tetapi di suatu tempat dalam pikiran kita ada beberapa sisa kecil yang masih menyala, dan sebagaimana percikan api yang tersisa di sudut perapian memungkinkan untuk muncul lagi api besar, demikian pula dari sisa kecil keinginan egois bisa muncul api keinginan yang besar.” Keinginan egois adalah nafsu yang ingin melahap dunia ini. Ketika ego mendominasi, tidak ada perasaan yang lebih menyedihkan daripada memiliki nafsu yang tidak terpenuhi. Semakin banyak keinginan yang kita munculkan dan berharap untuk segera terpenuhi, semakin besar pula kemungkinan keinginan itu tidak terpenuhi. Itu membuat kita semakin bersedih. Semakin kuat hasrat kita untuk memuaskan keinginan egois kita, semakin kita menjadi tersiksa olehnya. Oleh karena itu, para bijak menyatakan bahwa kita harus menaklukkan ego kita sendiri. Untuk mencapai kebahagiaan sejati, itu adalah musuh besar kita. “Nora hana satru manglwihana geleng ri ati.” Tidak ada musuh yang melebihi musuh yang bersemayam di dalam diri kita sendiri. Ego kita sendiri. Untuk dapat menaklukkannya kita harus mengembangkan rasa yang lebih tinggi; dari rasa diri yang bersumber dari ahamkara atau ego ke rasa jati  yang bersumber dari buddhi dengan viveka dan vairagya-nya. Dengan viveka kita bisa semakin mengembangkan dan memurnikan bhakti menuju jati murti yang bersumber dari jnana.

Dunia Butuh Kepemimpinan Baru

July 26, 2014 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Seluruh dunia menjadi sangat menderita di bawah kepemimpinan para pemimpin yang termotivasi secara material, tidak tercerahkan. Oleh karena itu tidak ada pemimpin yang bisa menuntun rakyatnya menuju kedamaian dan kebahagiaan sesungguhnya. Dalam situasi dunia yang menderita di tengah-tengah kenyamanan material ini, pengenalan ajaran tattva dan sadhana untuk pencerahan spiritual sangat dibutuhkan, bahkan itu merupakan suatu keharusan. Sayangnya, kepemimpinan yang selama ini lebih termotivasi oleh kesuksesan material membuat kebanyakan orang menjadi sangat sibuk membenamkan dirinya di dunia material. Mereka tidak tertarik dengan dunia spiritualnya, atau mereka sudah tidak punya waktu untuk mengurusi dunia spiritualnya. Mereka menggunakan semua waktunya untuk melakukan begitu banyak kegiatan yang mana semua itu mengikat mereka lebih erat dalam simpul yang sangat ketat dari reaksi karma. Harapan untuk melihat perubahan hidup bangsa yang signifikan menuju kehidupan yang damai dan bahagia dalam arti yang sesungguhnya di bawah kepemimpinan yang termotivasi secara material adalah harapan kosong, yang sudah berulang-ulang membuat bangsa ini dan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia menjadi kecewa dan putus asa. Kepemimpinan baru bukan sekadar menggantikan  pemimpin lama dengan pemimpin baru. Pemimpin baru dengan konsep kepemimpinan lama yang materialistis tetap tidak akan membawa perubahan yang memungkinkan kita untuk menemukan kembali kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Para pemimpin harus berkomitmen untuk mewujudkan tujuan kepemimpinan yang sesungguhnya adalah untuk membangun bangsa seutuhnya, yang juga merupakan hakikat tujuan hidup setiap manusia: moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Di tengah-tengah masyarakat dunia yang mayoritas hidup termotivasi secara material, kebanyakan dari kita merasa pesimis bahwa akan muncul pemimpin dengan kepemimpinan ideal seperti itu. Dalam situasi demikian semoga kita tidak menjadi putus asa untuk terus mengabdi: rame ing gawe sepi ing pamrih. Walaupun kita tidak bisa merubah dunia, setidaknya kita bisa merubah diri kita sendiri menjadi lebih dan lebih baik lagi. Sesungguhnya, perubahan dunia berawal dari perubahan individu. Mahatma Gandhi mengatakan, “Anda harus menjadi alat dari perubahan yang ingin anda lihat di dunia ini.” Jangan mengharapkan perubahan jika kita tidak mau ambil peran. Sekecil apapun peran yang bisa diambil untuk tujuan perubahan itu, ambil dan mainkan dengan penuh bhakti.

Menapaki Jalan Dharma

July 26, 2014 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Apa yang dimaksud dengan istilah menapaki jalan dharma? Apakah dengan beragama Hindu yang juga dikenal sebagai Sanatana Dharma kita dapat dikatakan sedang menapaki jalan dharma? Untuk menjawab ini kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah dalam beragama Hindu kita hanya sekadar menjadi pengikut Hindu yang ikut-ikutan, mengikuti agama orang tua, suami, istri, dll, ataukah kita termasuk penganut Hindu yang anut dan manut pada ajaran-ajaran dharmanya? Ketika berusaha untuk anut dan manut pada ajaran dharma itulah kita bisa dikatakan sedang menapaki jalan dharma. Sebelum ada hasrat dan upaya untuk anut dan manut pada ajaran dharma, tumbuhnya tunas-tunas bhakti murni kita kepada Tuhan, kita masih ada di jalan atau tahapan egoisme yang dikenal sebagai anava marga. Sanatana Dharma yang kita anut bukan sekadar untuk identitas diri, tetapi kita seharusnya mengambil keuntungan dari ajaran-ajarannya yang menuntun kita menuju realisasi Diri, menemukan eksistensi sejati kita yang penuh pengetahuan dan kebahagiaan. Para guru suci pengusung Sanatana Dharma mengembangkan berbagai metode sadhana untuk satu tujuan yang sama, realisasi Diri. Hindu tidak mengenal jalan yang ekslusif atau satu jalan untuk semua, tetapi Hindu menghormati semua jalan untuk yang satu. Dasar dari semua jalur sadhana adalah bhakti. Dasar yang sangat sederhana, yang mengeluarkan kita dari kubangan karma menuju ke ranah kebahagiaan sejati kita. Yang harus kita lakukan adalah melibatkan indriya kita dalam pengabdian kepada Tuhan melalui berbagai sisi kehidupan yang kita jumpai, bukannya mencoba untuk memuaskan mereka secara terpisah dari Tuhan. Jika kita perhatikan umat Hindu saat melaksanakan persembahyangan, ada beberapa sikap tangan yang semua saya maknai sebagai simbol kemanunggalan. Sikap dua jari jempol dipertemukan adalah simbol manunggaling rwabhineda, bahwa dualitas suka dan duka sebagai hasil dari karma kita adalah jalan kebebasan yang dianugerahkan Tuhan untuk kita. Dengan pandangan ini kita dapat mempertahankan bhakti kita baik dalam suka maupun duka. Sikap tiga jari dipertemukan; yaitu dua jempol dan telunjuk kanan, adalah simbol manunggaling sabda bayu idhep; bahwa pikiran, ucapan dan tindakan kita ada dalam keharmonisan bhakti. Sikap cakupan tangan, sepuluh jari dipertemukan, adalah simbol manunggaling dasendriya; bahwa kita akan melibatkan semua indriya kita dalam bhakti, bukannya mencoba untuk memuaskan mereka secara terpisah dari Tuhan.

Agama yang Benar

July 26, 2014 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Konsepsi umum agama saat ini adalah bahwa ada banyak agama dengan berbagai pemahaman yang berbeda. Semua agama berbeda. Dengan segala perbedaan itu kita akan kesulitan untuk menerima pernyataan bahwa semua agama adalah benar. Tetapi jika tidak demikian, lalu, dari sekian banyak agama yang ada di dunia ini, manakah agama yang benar? Dalam renungan sebelumnya kita sudah membicarakan sebuah konsep bahwa, jika kita memaknai “agama” sebagai “a”-“gama”, yang dalam bahasa Sanskrit “a” berarti tidak atau bukan, dan “gama” berarti berubah, bergerak, pergi, lari, terburu-buru, sembrono, dangkal, penghapusan dan lain-lain. Dengan demikian, “agama” berarti tidak berubah, tidak bergerak, tidak pergi, tidak lari, tidak terburu-buru, tidak sembrono, tidak dangkal, tidak terhapuskan, tidak termusnahkan dan lain-lain. Maka kita bisa menyatakan bahwa, Agama adalah Dia yang tidak pernah berubah dan tidak termusnahkan; Dia yang kekal abadi, Tuhan. Jadi, menurut konsep ini, Agama adalah Tuhan. Dia adalah Sanatana Dharma; Kebenaran Yang Abadi. Agama atau Tuhan, atau Sanatana Dharma, atau Kebenaran Yang Abadi, adalah esa, bukan dua, tiga dan seterusnya: tan hana Dharma mangrwa. Kebenaran bukan milik seseorang atau golongan, tetapi setiap orang adalah milik Kebenaran. Semua ada dalam kekuasaan hukum Kebenaran yang sama. Sanatana Dharma adalah kebenaran universal. Tidak ada yang bisa menghindar dari Kebenaran Semesta ini. Adi Shankaracharya mengatakan, Apa itu penyelidikan atas Kebenaran? Ini adalah keyakinan yang teguh bahwa Diri adalah sejati, dan semua, selain itu, adalah tidak sejati.” Agama yang benar adalah agama yang bertujuan untuk menyadari Agama; Dia yang abadi. Menyadari Jati Diri, yang secara kualitatif sama dengan Tuhan, berarti berhubungan kembali dengan Sumber dari segala sumber keberadaan. Kesadaran individu kita berhubungan kembali dengan Kesadaran Agung Semesta. Dalam Brihadaranyaka Upanishad 4.4.15 dikatakan, Ketika seseorang setelah mengikuti petunjuk dari seorang guru sejati secara langsung melihat cahaya Jati Diri, Tuhan dari segala yang telah ada dan yang akan ada, dia tidak lagi ingin menyembunyikan dirinya dari Itu.” Para perintis kesempurnaan dalam yoga, yang mengikuti agama yang benar, dan telah menyadari kebenarannya, tidak akan dibingungkan oleh propaganda agama yang tidak benar. Para Yogi sendiri menyampaikan kebenaran sejati dengan cara-cara bijaksana penuh keramahan, menyuarakan hal-hal menyenangkan dan menenangkan, bebas dari egoisme.

The Tragedy of Human History

July 26, 2014 by · Comments Off
Filed under: Inspiration 

The tragedy of human history is decreasing happiness in the midst of increasing comforts.
– Swami Chinmayananda (1916-1993)

Neasden Temple Hosts ‘Global Peace Meet’

July 26, 2014 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

LONDON, ENGLAND, July 2, 2014 (Asian Lite):

BAPS Shri Swaminarayan Mandir, London hosted an three-day international academic conference from June 24th to 26th on the theme of “Realising Global Peace: The Role and Impact of Hindu Teachings.” The conference at the Neasden temple was aimed to elucidate the role of peace within Hinduism and how Hindu teachings can positively contribute to not just academic scholarship but to humanity at large. It was jointly organized by the All-India Philosophy Association, BAPS Swaminarayan Research Institute, and the Indo-Hellenic Society for Culture and Development, Greece.

Over 80 delegates and guests attended the conference. They included eminent scholars and students from India, England, Ireland, America, Canada, and Australia, as well as local civic leaders and Hindu and other faith representatives. The keynote address in the inaugural session was delivered by Prof. Jatashankar, esteemed professor of philosophy at Allahabad University, India and President of the All-India Philosophy Association.

Kirit Wadia, local secretary of the event, shared: “Hindu teachings have a lot to contribute to the quest for peace, especially as modern technology increases human connectivity and decreases distances between peoples and nations, making the need for peace even more pronounced for individuals and societies. We are very grateful to His Holiness Pramukh Swami Maharaj for providing this theme and to all the delegates for contributing such rich discussions over the three days.”

Short Film Festival for Protection of Hindu Temples

July 26, 2014 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

NEW DELHI, June 29, 2014 (Indian Television):

Texas-based Global Hindu Heritage Foundation (GHHF) has called for short films on preservation of old temples in India as part of its “Save Temples Organisation.” The Board of Directors of GHHF and its brand ambassador and well-known Ghazal singer Ghazal Srinivas told a press meet in Texas earlier this week that the aim of the Save Temples International Short Film Festival is to protect, preserve and promote the great temples located all over the world.

The first Save Temple International Short and Documentary Film Festival will be conducted at Prasad Labs in Hyderabad from 22 to 24 August. The 40 short films and documentaries short-listed in this festival would be screened in film festivals to be conducted all over the world. The best film will win a prize money of US$1,650, while the second and third best film will receive $1,250 and $832 respectively. 10 other films will also be selected to receive Jury Awards.

The short films should reveal the facets of some ancient truths, the traditional heritage to the knowledge of future generations. They should not criticize other religions and life styles. They can tell the richness of ancient dharma, present the moral and dharmic values of Hindu religion and should be intended to explain the great practices of Hindu dharma to all the mankind through this short films and documentaries. The viewers of these movies should be motivated to work for the protection of temples.

Like Eating Stones

July 23, 2014 by · Comments Off
Filed under: Inspiration 

“Following the path of knowledge without love and devotion is like eating stones.”
– Mata Amritanandamayi

The Hindu Temple of Badenstedt Germany Gets a Full-Time Priest

July 23, 2014 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

HANOVER, BADENSTEDT, June 7, 2014 (Haz):

The largest Hindu Temple In Northern Germany is in a warehouse in Badenstedt. Now the community has a full-time priest. The 40-year-old Indian has only been in Hanover since February of this year. The Tamil Hindu Cultural Society has brought him for full-time care of the Gods and the worship in the temple in Badenstedt.

The priest, Sivasri Saravana Sivachchariyar, comes from the South Indian state of Tamil Nadu. On this Friday evening, he holds the ceremony, which is dedicated to the Goddess Sri Muthumariamman.

From the outside, one would never guess what is going on inside the building. For the Hindu temple is located in the commercial area of Badenstedt. To the left and right of it are warehouses and the temple seems hardly different from the neighboring buildings. Five years ago, the Hindu community has established the one-floor, white-painted hall – -it is now considered the largest Hindu temple in northern Germany. “Here, the temple does not interfere with local residents, we’ve located it here to avoid conflict,” says our Hindu hostess, Rajiny Kumaraiah. The US$410,000 cost of the temple is being financed entirely by donations from supporters and community members.

The World’s Hindu Temples, Now in an App

July 23, 2014 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

SAN LEANDRO, CALIFORNIA, June 27, 2014 (India West):

A new app just released for iOS lists more than 2,000 Hindu temples in some 50 countries. The “World’s Best Hindu Temples Directory,” available on iTunes, was conceived by Hari Iyer, an aviation engineer in Melbourne, Australia. A team of dedicated volunteers around the world have been working for months to compile and confirm the information, said Iyer.

“The iOS app is a priced at $1.99, which will help fund further development of the site and mapping of all the large temples in India,” Iyer said in a statement. “Future plans also include an Android App which is in the making, and a massive update to the database with over 2,000 Hindu temples in Malaysia to be added soon.”

Optimized for the iPhone 5, the app requires iOS 7.0 or later and is compatible with iPhone, iPad, and iPod touch. The information is also available at AllHinduTemples.com, a site he said was mobile-responsive and designed to geolocate to the user’s closest temples.

Visitors can register to upload photos and comments to the temple listings, or upload religious events on a calendar in wiki format. Temple managers can claim the ownership of the temple listing and update it with whatever details they choose, said Iyer.

Next Page »