Pembunuh Senyum dan Sukacita

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Senyum dan sukacita adalah anugerah utama dalam kehidupan, dan kemarahan adalah musuh besar manusia, yang mana kehadirannya selalu membawa kematian bagi senyum dan sukacita mereka. Seseorang yang melindungi dirinya, akan mengendalikan amarah yang muncul di dalam dirinya, karena kemarahan yang tidak terkendali akan menghancurkan dirinya sendiri. Hanya orang-orang yang belum memiliki kebijaksanaan yang melampiaskan seluruh amarahnya; tetapi mereka yang bijaksana dengan tenang mengendalikannya. “Orang yang tidak tenggelam dalam kesedihan di kala susah, tidak melonjak kegirangan di kala senang, bebas dari egoisme, takut dan amarah, dia disebut orang yang bijaksana.”—Bhagavad Gita 2.56. Amarah bagaikan titik api, yang jika di sekitarnya terdiri dari benda-benda kering yang mudah terbakar, api akan dengan cepat menjalar dan kebakaran yang sangat mengerikan pun terjadi. Seperti halnya hutan belantara dengan dedauan kering di musim kemarau yang terbakar hanya akibat dari sebuah puntung rokok yang begitu kecil. Demikian halnya jika mayoritas anggota dari masyarakat hatinya kering dari cinta kasih, akan mudah tersulut amarahnya hanya karena masalah yang sepele, dan demikian cepat meluas menjadi tragedi kemanusiaan yang sangat mengerikan. Dalam situasi demikian, seruan para bijak bagaikan siraman seember air yang menguap dalam sekejap akibat panas yang luar biasa dari kebakaran yang terjadi. Namun demikian, para bijak tidak putus asa untuk terus menyiramkan seember demi seember air, walaupun tidak mungkin dapat memadamkan kebakaran hutan yang sedang terjadi, setidaknya dirinya sendiri dan orang-orang di dekatnya tidak sampai menjadi korban, terlalap api. Manusia dilengkapi dengan refleks yang mendasar untuk suatu rangsangan tertentu, sehingga mereka mampu melakukan tindakan spontan yang dilakukan sebagai respon terhadap rangsangan tanpa pikiran sadar yang mendahuluinya. Seseorang secara refleks menjauhkan anggota badannya di awal terasa panas ketika bersentuhan dengan api agar tidak terbakar. Tapi, dalam hal bersentuhan dengan api amarah, kemampuan ini jarang dimiliki seseorang tanpa melatih diri secara sadar. Semakin hati seseorang kering akan cinta kasih semakin cepat dia terbakar api amarah, dan dalam sekejap menghanguskan senyum dan sukacitanya. “Setiap kali anda marah, anda kehilangan energi melalui setiap pori-pori tubuh anda.”—Amritanandamayi Devi.

Marah dan Darah Hanya Beda Satu Huruf

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Dalam kesadaran naluriah, amarah yang muncul ketika menerima perlakuan yang menyakitkan hati adalah hal yang alami. Amarah perlu dikendalikan sejak awal kemunculannya, sebelum dia menjadi efektif untuk mendorong kita melakukan hal-hal yang dapat merugikan atau menyakiti orang lain dan juga diri sendiri. Seseorang yang sudah mampu mengendalikan dirinya di setiap waktu, tempat dan keadaan, walaupun mungkin di satu titik waktu muncul amarah oleh suatu sebab, kemarahannya tidak akan memiliki kekuatan untuk menguasai dirinya. Dalam kesadaran naluriah, semua orang memiliki amarah. Bedanya, apakah seseorang mampu mengendalikannya atau tidak? Upaya untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan amarah adalah salah satu bentuk sadhana. Kita harus mampu mengendalikan amarah sebelum amarah itu mengendalikan dan menghancurkan kita. Amarah yang dipendam tanpa menunjukkan dampak yang nyata adalah ibarat bom waktu yang berbahaya, yang akan meledak pada waktunya jika tidak dijinakkan. Kemarahan yang diledakkan adalah lebih berbahaya lagi, karena itu bisa menimbulkan ledakan-ledakan lain yang tidak berkesudahan. Jadi, tugas kita bukanlah memendam amarah, apalagi meledakkannya, tetapi mengendalikan; menjinakkannya. Ketika seseorang mampu memendam amarahnya, tetapi oleh karena itu kemudian kehilangan semangat untuk melakukan kebajikan-kebajikan karena sakit hati yang dideritanya, itu tidak baik untuk dirinya sendiri; dan oleh karena itu, memendam amarah adalah hal yang buruk. Tetapi, jika dia meledakkan amarahnya, walaupun ada kepuasan ego sesaat, itu akan memberinya rasa sakit yang lain, dan juga menciptakan permusuhan yang semakin dalam di kedua belah pihak. Oleh karena itu, sama-sama buruk, meledakkan amarah jauh lebih buruk daripada memendam amarah. Namun demikian, karena sama-sama buruk, maka tugas kita adalah tidak sekadar memendam, tetapi meredam amarah itu. Karena kemarahan hanya menghasilkan keburukan, itu sebaiknya dihindari sehubungan dengan segala hal. Marah dan darah hanya berbeda satu huruf; kemarahan erat hubungannya dengan hal-hal yang dapat melukai orang lain dan juga diri sendiri, secara fisik atau mental. Jika kemarahan tidak terkendali, itu sering menimbulkan hal-hal yang lebih menyakitkan daripada hal yang memprovokasi kemarahan itu sendiri.

Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Seluruh dunia akan menghormati dan berbagai kebajikan akan mendatangi orang yang memiliki kejujuran dalam kebijaksanaan, tanpa harus menuntut; penghormatan dan kebajikan lainnya akan datang menghampiri dengan sendirinya. Sungguh tidak masuk akal ketika ada orang berteriak-teriak menuntut penghormatan sambil terus melontarkan kata-kata dusta dan hujatan. Sebagaimana air yang sangat dibutuhkan untuk membersihkan dan menyegarkan badan jasmani, kejujuran sangat dibutuhkan untuk kebersihan dan kesegaran pikiran. Dalam pikiran bersih, kemurnian hati tampak dengan jelas. Semakin banyak perkataan dusta dilontarkan seseorang, akan semakin membuatnya gelisah dan tersiksa dalam kegerahan pikiran. Ini menjadi hambatan besar bagi seseorang untuk mencapai pencerahan yang diharapkan. Cahaya lampu, api, rembulan atau matahari tidak akan memberikan cahaya yang diharapkan oleh para bijak. Cahaya yang diharapkan adalah cahaya kebenaran, cahaya kesadaran jiwa. Itulah yang menerangi jalan mereka. Untuk menerangi jalan para bijak, tidak ada cahaya yang dapat mencerahkannya selain cahaya kebenaran. Semua cahaya yang lain tidak akan bisa menghilangkan avidya; kebodohan; kegelapan dalam ketidaktahuan akan kesejatian. Cahaya Kebenaran, Tuhan, yang membimbing di tengah-tengah kepungan kegelapan. Hanya mereka yang telah mencapai kesadaran jiwa, menikmati cahaya kebenaran, dikatakan sebagai orang yang tercerahkan. Untuk dapat menerangi yang lain, seseorang harus menjadi Cahaya itu sendiri, yang sesungguhnya adalah Jati Diri dari setiap orang, dan segala hal. Jika belum, setidaknya dia harus memantulkan Cahaya dalam wujud cinta kasih seperti halnya rembulan yang memantulkan cahaya matahari. Walaupun pantulan tersebut hanya menghasilkan cahaya remang-remang, lumayan untuk penerangan sementara, daripada benar-benar kebingungan dan terus menggapai-gapai dalam gelap gulita. Dari semua kebajikan yang dikenal dalam pengalaman manusia, tidak ada yang lebih penting daripada kejujuran dalam kebijaksanaan. Sebagaimana peribahasa: karena nila setitik rusak susu sebelanga; setitik dusta sudah cukup untuk menutup lapisan kesadaran jiwa—yang kekal, penuh pengetahuan dan kebahagiaan sejati; satchidananda—sehingga pencerahan di alam kesejatian yang didambakan oleh setiap jiwa tidak akan tercapai.

Satya Wacana

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Satya wacana pada umumnya diartikan sebagai “menepati janji”. Sesungguhnya, istilah tersebut bisa diartikan lebih luas sebagai perkataan yang menimbulkan kebaikan bersama; perkataan yang tidak menyakiti, membahayakan, merugikan,  mencelakakan atau mengganggu. Perkataan yang bebas dari segala kejahatan adalah satya wacana; ini adalah kebenaran. Maka dari itu, tidak semua perkataan yang sebenarnya adalah kebenaran. Kebenaran adalah kejujuran yang dilandasi dengan kebijaksanaan; kejujuran yang apabila itu diucapkan tidak menimbulkan keburukan atau kejahatan untuk selanjutnya. Di dalam Bhagavad Gita 17.15 dikatakan: “Kata-kata yang tidak melukai hati, dapat dipercaya, lemah lembut dan bermanfaat, dan membiasakan diri dalam mempelajari sastra-sastra suci, ini dinamakan bertapa dengan ucapan.” Kata-kata yang diucapkan sesusai dengan keadaan yang sebenarnya adalah kebenaran verbal, yang belum tentu mencapai nilai kebenaran sejati, jika hal itu membawa keburukan. Sebaliknya, kebohongan; mengatakan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, adalah ketidakbenaran verbal, yang mungkin saja mencapai nilai kebenaran, jika hal itu menghasilkan hal-hal yang bermanfaat tanpa cela. Kejujuran, walaupun menyakitkan untuk sementara waktu, tapi jika hal itu akan memberi manfaat yang besar di kemudian hari, maka hal itu harus dilakukan. Jika hati nurani seseorang mengatakan bahwa dia sebaiknya berkata jujur, sebagaimana adanya, tapi tidak dilakukan karena takut oleh hal-hal menyakitkan yang muncul dalam benaknya, maka hati nuraninya akan terus menuntut seperti halnya jaksa penuntut umum di dalam sidang pengadilan dengan segala tuduhan yang diberikannya, yang akan menyebabkan dia terus dilanda kegelisahan yang menyiksa dirinya.  Hal utama yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari orang lain adalah kejujuran. Kepercayaan yang didapat seseorang dari orang lain adalah hal yang amat penting untuk mempermudah dirinya dalam memperjuangkan kesejahteraan dan juga kedamaian dalam hidupnya. Seseorang yang selalu mengikuti tuntunan hatinya, hidup tanpa kebohongan egois dan kemunafikan akan mudah mendapatkan tempat di hati banyak orang. Sementara, cukup dengan satu ketidakjujuran untuk tujuan penipuan dan kecurangan sudah bisa menghapus semua dampak kejujuran yang mungkin telah dipraktekkan sebelumnya, seperti ditekankan dalam peribahasa, “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.”

Student in Trouble for Posting Hindu Swastika

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

WASHINGTON D.C., March 24, 2015 (WTOP):

A senior law professor at George Washington University is blasting the school for a decision to crack down on a student who posted an image of a Hindu swastika on a bulletin board. The student, a Jewish man, posted the religious symbol on a bulletin board belonging to his largely-Jewish fraternity on March 16. University President Steven Knapp issued a statement calling the display “utterly unacceptable.” The symbol has long been associated with hatred toward Jews, Knapp writes in his statement. And the case has been handed over to D.C. police to be reviewed by the department’s hate crimes unit.

The student says the whole incident was a misunderstanding. He claims the symbol he posted was a Hindu symbol representing peace that he brought home from a spring break trip to India. According to the United States Holocaust Memorial Museum “The swastika has an extensive history. It was used at least 5,000 years before Adolf Hitler designed the Nazi flag. The word swastika comes from the Sanskrit svastika, which means “good fortune” or “well-being.”

Protest as Hindu Festival Delayed in Yangon, Myanmar

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

YANGON, MYANMAR, March 26, 2015 (by Myint Thi, The Myanmar Times):

An internal dispute has caused confusion among worshippers looking forward to the Sarimari Yaman Hindu Temple festival. The original dates fixed by the temple’s religious authority were March 20-29, but the All Myanmar Hindu Central Council wants it to run from March 27 to April 5, citing a one-day clash with matriculation exams. “I know the brahmin said the festival should start on March 20. But the God won’t punish us if we hold it a bit later,” said U Maung Shwe, president of the All Myanmar Hindu Central Council.”This is the matriculation exam period, and I’m worried there may be violence so I decided to postpone the festival,” he said, declining to elaborate as to why violence could be a concern.

Worshipers, however, say the council has no authority to reschedule the event. The temple’s rules, which have been in force since 1914, state the festival must be conducted.They dismissed the concern of violence, saying there had been no conflict during previous festivals. “I think they want to topple the current trustees. This is the only reason the council has interfered with the temple’s activities,” said temple patron SP Naathal. This year was to mark the 135th festival of the Sarimari Yaman, a Hindu temple for about 20,000 Tamil Hindu worshippers. It is now unclear when the festival will go ahead.

Anita Ratnam tells A Million Sitas

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

NEW YORK, NEW YORK, March 20, 2015 (NYU Steinhardt school of music):

Through the lens of Sita, timeless icon of womanhood, Anita Ratnam refracts and reweaves the many strands of the majestic and sweeping Hindu epic. One of India’s most celebrated dance-actors, Ratnam brings storytelling, theatre, and dance to her rendering of Sita, who stands at the epicenter of this story of love, honor, courage, treachery, and sacrifice.

Dr. Anita Ratnam, one of India’s most renowned performers, describes herself as a “contemporary classicist” whose solo work re-imagines notions of what is sacred and what is secular from within the framework of her life and experience. Her ability to connect through storytelling, musical theatre, and gesture to a wide variety of audiences has led to international engagements in diverse venues such as Queen Elizabeth Hall in London, Korzo Theatre in The Hague, Substation Singapore, Newark Museum, and Peabody Essex Museum in the US. arangham.com.
All shows, scheduled for May 3, 2015 at 3.00 p.m, are at the historic Provincetown Playhouse at 133 MacDougal Street, New York City, and are appropriate for adults and children over 12.

Oxford University Cancels Lectures by Dr. Subramanian Swamy (on India’s Economy) and Rajiv Malhotra (on “Revisionist History”)

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

LONDON, ENGLAND, March 23, 2015 (Press Release from National Council of Hindu Temples UK):

Following a series of meetings between prominent and influential members of Oxford University’s academic faculty and members of the Oxford India Society on Friday, March 20th, a decision was taken to cancel the lectures of Dr. Subramaniam Swami and Rajiv Malhotra during an April 3 to 6th event at Oxford University, citing ‘logistical and internal issues.’ We [NCHTUK] have asked for further clarification as to the reasons and justification and await clarification. In light of this very significant development, Shri Rajiv Malhotraji who had been battling health issues to ensure his participation at the events, has now bowed to his physicians recommendation not to travel, and will be participating fully in all of the remaining events by live video conference. Dr. Subramanian Swamy remains undeterred and unsurprised and will be present and will join the other speakers at the remaining events as planned.

Dr. Subramanian Swamy was to speak on “Economic development over the years and new reforms need to take India forward,” and Rajiv Malhotra on “Rethinking Indian history based on the book Breaking India: Western interventions in Dravidian and Dalit faultlines.”

“We are stunned that a leading British University that should be championing free speech and freedom of thought, has taken such a cowardly decision. We cannot allow the appeasement of extremists to stifle cherished values and I fear this decision will reflect very badly on Oxford University and their much publicized “free rigorous thinking” credentials.” Satish K Sharma, General Secretary, National Council of Hindu Temples (UK)

Of interest will be this online petition (mostly aimed at Dr. Subramaniam Swami) by “Oxford Students” on change.org requesting the lectures be cancelled:

https://www.change.org/p/oxford-india- … custom_msg&fb_ref=Default

And this somewhat defensive post by the same group when the lectures actually were canceled, apparently to their surprise:

https://www.change.org/p/oxford-india- … y-and-malhotra/u/10161516

Ma Yoga Shakti Attains Maha Samadhi

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

FLORIDA, USA, March 22, 2015 (Announcement from Yogashakti Mission):

“Our Beloved Guru Her Holiness Maha Mandaleshwar Ma Yoga Shakti Saraswati left her physical body February 20, 2015 and attained Maha Samadhi. Hers was a life dedicated to service. Through deep devotion to God, strong determination, single-mindedness, and constant tapas, Mataji has been able to accomplish so much. Not only are her spiritual and material accomplishments enormous, but more importantly she has personally touched, transformed, and elevated countless lives. She was truly a loving Mother who showered her blessings on all that came to her. She will remain in our hearts forever.” She was born April 6, 1927.

Ma was a long-time friend of Hinduism Today’s founder, Satguru Sivaya Subramuniyaswami; the two first meeting in the late 70s. We wrote about her in the May, 1988, issue of Hinduism Today (http://www.hinduismtoday.com/modules/ … ction/item.php?itemid=519), and named her “Hindu of the Year” in 2000 (http://www.yogashakti.org/ma_yogashakti/awards.php).

Modi Visits War-Hit Jaffna, Visits Keerimalai Temple

March 28, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

SRI LANKA, March 22, 2015 (by Jayanth Jacob, Hindustan Times):

Prime Minister Narendra Modi assured Tamil minorities in Sri Lanka on Saturday of India’s support in their fight for equal political rights during a highly symbolic first visit by an Indian premier to the island nation’s war-scarred Tamil heartland since the end of the civil war. Modi’s trip to Jaffna came a day after he nudged Colombo to give greater autonomy to the Tamil community through early implementation of the 13th Amendment on devolution of powers to Tamils that was introduced by an India-Sri Lanka pact in 1987 under former prime minister Rajiv Gandhi.To this, Northern Province chief minister and Tamil leader CV Wigneswaran asked that India be the guarantor for the political rights of Tamils in Sri Lanka.

“Unity, peace and amity are essential ingredients for equitable development where there is respect for all citizens,” Modi said at the auditorium of the historic Jaffna public library after unveiling a plaque for a cultural centre built with Indian help. Later, the PM handed over 27,000 houses built with Indian assistance to Tamils displaced by the civil war as part of New Delhi’s efforts to help in the reconciliation process. “I am glad this program is my final public programme during my Sri Lanka visit, and is one to wipe away tears from the eyes of those who suffered,” he said. “These houses are not merely walls of bricks and stone. These houses are an effort to make the lives of those who have suffered happier.”

Modi offered prayers at Keerimalai Naguleswaram temple, a famous Hindu temple north of Jaffna, as he concluded a packed four-hour visit to the former war zone. “Feeling blessed,” he tweeted later.

Next Page »