Setiap Orang adalah Arsitek Masa Depannya Sendiri

February 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Siva Yogaswami mengatakan, “Saat ini adalah hasil dari tindakan masa lalu. Manusia adalah arsitek masa depannya.” Saat melihat hukum alam dengan seksama, akan terlihat bahwa kita membuat kegembiraan dan kesedihan kita sendiri dan kita sendiri yang membebaskan diri kita dari kesedihan itu. Tapi kita kesulitan menyadari ini kecuali kita merasakan kekuatan dan eksistensi Tuhan dalam segala hal di alam material ini. Kita membutuhkan banyak meditasi untuk itu. Dalam sadhana yang ketat, disiplin regular sehari-hari harus tetap diikuti. Kita menjaga komitmen suci kita melalui berbagai upacara; ritual keagamaan. Hal itu seharusnya ditindaklanjuti dengan susila; langkah nyata yang sejalan dengan tujuan upacara. Upacara tanpa susila sama halnya dengan kata-kata tanpa tindakan, sebagaimana kiasan dalam bahasa Jawa: “Kakehan gludhug kurang udan.”  Terlalu banyak guntur, hujannya tidak seberapa; Terlalu banyak bicara, tidak didukung tindakan nyata. Upacara dan susila harus dilakukan dengan keikhlasan, sebagai yajna kita. Ini melatih kita melakukan pelayanan tanpa pamrih sebagai pelatihan berserah diri pada Tuhan. Benar bahwa setiap orang adalah arsitek kehidupannya sendiri. Kita membangun itu melalui keinginan kita. Tindakan yang kita ambil adalah upaya untuk mewujudkan keinginan. Tapi, setelah kita membangun apa yang kita inginkan, seringkali hasilnya tidak memuaskan, bahkan kita tidak suka sama sekali, kemudian menunjuk seseorang atau sesuatu untuk disalahkan, bukannya mengubah diri sendiri dalam mengelola keinginan-keinginan kita. Sebagai arsitek kehidupan, kita bukan sekadar menjadi tukang gambar dari bangunan kehidupan yang sudah dirancang. Tuhan hanya menetapkan aturan mainnya, selanjutnya terserah kita, dengan tetap tunduk kepada aturan main-Nya. Dengan berbekal pembelajaran dari pengalaman, seorang arsitek semakin menunjukkan keahliannya menata varna kehidupan yang memiliki keterikatan fungsi dalam sebuah situs kehidupan dan mendesain situs tersebut, mengolah tata ruang, menentukan konsep desain interior dan eksterior yang harmonis, jenis dan struktur sadhana yang tepat, jenis dan letak instalasi pencerahan, sirkulasi hawa bhakti untuk menjaga kesegaran, dan mempertimbangkan modal tingkat kesadaran agar tidak mangkrak saat mewujudkannya. Kabir mengatakan, “Anda menenun jeratan dari kepalsuan anda, kata-kata anda penuh dengan ketidakjujuran: Dengan beban keinginan egois yang anda pertahankan di kepala anda, bagaimana anda bisa tercerahkan?”

Lepaskan Diri dari Gelombang Dualitas

February 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Mendengar pesan para bijak bahwa kita harus berusaha melihat Tuhan ada di dalam segala hal, dan segala hal ada di dalam Tuhan, ketika kita masih diliputi oleh avidya; kebodohan; kegelapan dalam ketidaktahuan, selalu timbul pertanyaan, “Bagaimana mungkin kita yang hanya sebuah noktah kecil di jagat raya ini melihat Dia yang maha vidhi; maha menyeluruh, maha segalanya?” Dalam pandangan diri sebagai sebuah noktah kecil, kita hidup dalam kesadaran naluriah-intelektual, dan selalu dihadapkan pada dualitas yang menjadi esensi alam material kita. Secara naluriah kita berusaha menghindari hal-hal yang menyakitkan dan menggapai yang menyenangkan. Kebanyakan dari kita hidup dalam dualitas ini sepanjang hayat, terus dikepung oleh kuatnya keinginan egois dan pemenuhan pada dualitas itu. Tetapi orang-orang dengan jiwa yang lebih dewasa akan berusaha melepaskan diri dari gelombang dualitas ini untuk selanjutnya melakukan pencarian spiritual, dan mengajukan pertanyaan seperti: “Siapakah Tuhan? Di manakah Tuhan berada? Mungkinkah kita bisa mengenali Tuhan?” Tuhan tidak memiliki nama. Semua nama yang diberikan oleh para bijak adalah untuk Tuhan yang sama. Karenanya ada sebuah kata bijak yang menyatakan: Tuhan tidak memiliki nama, tetapi semua nama adalah nama Tuhan. Apakah kita menyebut Dia ini atau itu, Dia tetap Dia. Dalam tradisi masyarakat Hindu, Tuhan disebut dengan banyak nama kesayangan. Dari tradisi ini kita mengenal ribuan nama Tuhan; Sahasranama Vidhi. Tuhan ada di dalam diri kita sekaligus di luar diri kita. Tuhan ada di setiap waktu, tempat dan keadaan. Jadi, Dia ada dalam suka, duka, kegembiraan, kesedihan, kebaikan, kejahatan, sehat, sakit, kelahiran dan kematian. Dengan kesadaran ego dan naluriah yang memiliki kecenderungan menerima hal yang menyenangkan dan menolak hal yang menyakitkan, kita kesulitan memahami bagaimana bisa Tuhan yang penuh kasih ada dalam kejahatan, membuat sakit dan dukacita. Tuhan hadir sebagai Sanatana Dharma; hukum kebenaran yang abadi. Di alam material ini Dia telah menetapkan hukum karma, dimana setiap energi yang dikirim ke dalam suatu aksi akan memantul kembali, memberi reaksi atas suatu aksi dengan kekuatan yang sama. Hanya dengan “diam” dalam semua aktivitas kita bisa melepaskan diri dari dualitas suka dan duka hasil dari karma. Dada J.P. Vaswani mengatakan, “Rahasia hidup sejati: tetap diam di tengah aktivitas dan menjadi berseri saat tersadarkan dalam meditasi.”

Berikan Cahaya dan Kasih kepada Semua Orang

February 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kita seringkali mendengar kata-kata bijak yang mengatakan, “Kebahagiaan sejati ada di dalam diri kita.” Untuk dapat menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya, mereka berpesan agar kita melihat Tuhan ada di dalam segala hal, dan segala hal ada di dalam Tuhan. Oleh karena itu, jika kita benar-benar mencintai Tuhan dan ingin berbhakti kepada-Nya, kita harus memberi pelayanan kepada semua orang dengan kasih yang sama. Mataji Indra Devi mengatakan, “Sangat penting memberikan cahaya dan kasih kepada semua orang, karena semua orang membutuhan kasih. Biarkan cahaya, kasih dan kedamaian hidup hari ini dan selamanya ada di dalam hati kita. Semoga kata-kata ini tidak sekadar menjadi aliran kata-kata yang keluar dari bibir kita. Biarkanlah cahaya suci itu menyerbu seluruh keberadaan anda sehingga setiap orang bisa anda kasihi.” Kata-kata ini merasuk sangat kuat ke dalam hati pecinta kehidupan spiritual, atau mungkin siapapun yang mendengarnya. Kata-kata sederhana untuk kebenaran yang sederhana, tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Namun demikian, betapapun sulitnya, hal ini harus terus dilatih demi kebahagiaan kita sendiri. Meskipun kita sudah banyak membaca dan fasih membicarakan ajaran dharma, jika kita tidak mampu mengendalikan pikiran, untuk membawanya ke dalam bhakti, kita tidak akan pernah memperoleh kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Keinginan untuk memperoleh kedamaian dan kebahagiaan melalui pemahaman tentang ajaran dharma tanpa disertai ketekunan melaksanakan bhakti; pengabdian penuh kasih, dengan mengikuti tuntunan yang ada di sana untuk menghidupkan kembali hubungan cinta sejati kita dengan Tuhan, itu sama halnya seperti keinginan untuk mencicipi manisnya madu yang ada di dalam sebuah botol dengan terus menjilati seluruh bagian luar botol dimana lidah tidak bisa bersentuhan langsung dengan madu yang ada di dalam botol, sehingga tidak akan bisa menikmati manisnya madu yang ada di dalam botol tersebut. Sesungguhnya cinta kasih sudah ada sejak awal di dalam setiap hati kita. Tetapi cahayanya sering kali tertutup oleh selimut egoisme. Semakin tebal egoisme kita, semakin redup cahaya kasih yang terpancar. Memurnikan bhakti adalah upaya untuk menyingkirkan egoisme yang menyelimuti cahaya kasih kita. Semakin murni bhakti kita, semakin cemerlang cahaya kasih yang terpancarkan, hingga pada akhirnya akan terpancar sempurna dalam bhakti yang benar-benar murni; benar-benar bebas dari egoisme.

Mengapa Tuhan Membiarkan Kita Menderita?

February 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Jika Tuhan memang benar-benar Maha Kasih yang tidak pernah pilih kasih, mengapa Dia membiarkan kita menderita? Ini adalah pertanyaan yang masuk akal bagi orang yang kurang akal. Bayangkan jika ada orang suka berhutang dan akhirnya menjadi sangat susah dan bingung oleh karena hutang yang semakin menumpuk, kemudian mempertanyakan kedermawanan dari seorang kaya yang terkenal dermawan, “Jika anda memang benar seorang kaya raya yang dermawan, mengapa anda sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap saya, dengan membiarkan saya terus kebingungan dan menderita karena banyaknya beban hutang yang harus saya tanggung?” Ini pertanyaan yang masuk akal bagi orang yang kurang akal. Masuk akal, karena orang kaya yang dermawan itu bisa saja melunasi semua hutang orang yang suka berhutang tadi dengan mudah, mengingat kekayaannya yang berlimpah. Tetapi, hal itu tidak dilakukan karena akal budinya mengatakan bahwa itu tidak akan menyelesaikan masalah jika orang yang dibantunya masih tetap suka berhutang. Dia akan kembali dan kembali lagi menghadapi masalah yang sama walaupun hutang-hutangnya dilunasi. Demikian pula kita yang masih terperangkap dalam eksistensi material, mengalami penderitaan karena tumpukan hutang karma masa lalu atau sanchita karma. Penderitaan apa pun yang kita alami sekarang adalah karena kebodohan kita sendiri. Jangan mempersalahkan Tuhan atas kebodohan kita sendiri. Bahkan kelahiran kembali ke dunia material sebagai kesempatan untuk bisa melunasi sanchita karma melalui penderitaan-penderitaan hidup seharusnya dipandang sebagai karunia kasih Tuhan yang telah memberikan jalan kebebasan bagi kita. Bagaimana seandainya Tuhan menetapkan kita secara abadi ada di narakaloka; alam kegelapan dan kekejaman karena kebodohan kita di masa lalu? Tetapi, Tuhan Maha Pengasih tidaklah demikian. Dia tetap membukakan pintu svargaloka; alam pencerahan dan kebahagiaan bagi siapa pun yang berhasil keluar dari lapisan selimut kebodohan atau avidya; kegelapan dalam ketidaktahuan akan kesejatian. Untuk itu, kita harus keluar dari kegelapan kesadaran material ini menuju pencerahan dalam kesadaran spiritual. Berhentilah mengeluh atas penderitaan yang kita alami, karena itu hanya membuat kita semakin merasa menderita. Kita harus berusaha untuk tetap tersenyum. Pemahaman yang semakin mendalam akan membuat senyum kita semakin merambat ke dalam. Dan semua perasaan menderita sirna ketika dia telah merambat hingga ke relung hati kita.

Hidup Ini Sederhana bagi yang Berjiwa Sederhana

February 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kita menghadapi banyak masalah hidup dalam berbagai ukuran, bentuk, dan warna, karena gangguan dari pengaruh hasrat, kegemaran dan keinginan yang besar dalam avidya; kegelapan dalam ketidaktahuan. Kita berusaha memecahkan masalah ini dalam berbagai cara yang sederhana, tidak perlu rumit. Tapi sering kali solusi sederhana dianggap terlalu menggampangkan masalah dan tidak akan memecahkan masalah sama sekali. Katanya, “Masalahnya tidaklah sesederhana itu!” Sebaliknya, dengan pemikiran dan perhitungan yang rumit mereka hanya meningkatkan masalah yang ada. Orang yang cerdas selalu mencari solusi sesederhana mungkin untuk setiap masalah dalam kehidupan ini. Seorang bijak mengatakan, “Jika solusi sederhana ditemukan, Tuhan telah hadir di sana.” Solusi sederhana adalah untuk memahami bahwa sesungguhnya semua masalah kita berasal dari pemberontakan kita terhadap kesederhanaan. Hidup ini sangat sederhana bagi orang yang berjiwa sederhana, tetapi sangat rumit bagi mereka yang berpikiran ruwet karena pengaruh dari egoisme. Jika kita berserah diri kepada Tuhan, hidup ini menjadi demikian sederhana. Tetapi egoisme kita tidak mau tunduk begitu saja dan terus berupaya mencari solusi rumit yang hanya meningkatkan masalah. Jadi, kita harus berusaha menghentikan keegoisan kita untuk dapat menjadi orang-orang berjiwa sederhana dalam kerendahan hati sejati. Ini adalah solusi sederhana bagi yang sederhana, tetapi tetap sulit bagi kita yang masih rumit. Maka, tugas kita adalah mengembangkan diri menjadi orang-orang berjiwa sederhana dalam kerendahan hati sejati untuk menjadikan semua ini menjadi sederhana. Bisa tetap memandang semua secara sederhana dan menjadi merasa biasa-biasa saja adalah hal yang luar biasa. Para bijak yang berjiwa sederhana memandang segala hal secara sederhana dalam kerendahan hati, mereka selalu tetap berkepala dingin atau stabil dalam segala situasi. Mereka tidak terhanyut oleh kemenangan atau kekalahan, keuntungan dan kerugian, atau oleh kesenangan dan kesusahan dalam kehidupan material ini. Dengan demikian pikirannya menjadi tetap damai, tidak bergejolak oleh hal-hal material yang bertentangan. Mereka menikmati kedamaian ini, karena satu-satunya yang menjadi tujuan dari semua tindakan yang mereka lakukan adalah untuk mengungkapkan bhakti mereka kepada Tuhan, Kasih Abadi, untuk kemudian semakin terserap ke dalam Kasih itu sendiri, di mana kebahagiaan sejati tanpa semburat kesedihan berada.

Atasi Kekhawatiran tentang Masa Depan

January 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Mengapa kita khawatir tentang masa depan? Kita harus membuat rencana tentang kehidupan masa depan, tetapi sering kali rencana itu terkait dengan kecemasan. Bagaimana merencanakan sesuatu tanpa kecemasan? Jika kita berencana untuk melakukan suatu bentuk bhakti kepada Tuhan, akankah kita berada dalam kecemasan juga? Mari kita renungkan! Kita khawatir tentang masa depan karena kita belum mampu berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Orang yang sepenuhnya berserah kepada Tuhan tidak akan khawatir tentang masa depan. Hanya ketika membuat rencana untuk kepuasan material kita berada dalam kecemasan. Para bijak, ketika merencanakan suatu bentuk pelaksanaan bhakti, jika oleh keadaan di luar kekuasaan mereka dipaksa untuk mengubah rencananya, mereka akan mengubahnya sesuai dengan keadaan yang ada. Mereka memandang segala sesuatu berada dalam pengaturan yang sempurna dari Tuhan. Mereka mentolerir segala apa yang di luar kendalinya untuk kemudian mengambil suatu tindakan yang ada di dalam kendalinya, dan memahami bahwa kehendak bebas mereka dan kehendak Tuhan melalui hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya berlaku secara bersamaan. Ketika yang sedang berlangsung tidak sesuai dengan rencana, kita sering mendengar ungkapan: “Kita boleh berencana tetapi Tuhan yang menentukan.” Dari ungkapan tersebut timbul pertanyaan: Lalu apa gunanya kita berencana jika Tuhan yang menentukan? Atau, masih perlukah kita berencana jika Tuhan yang menentukan? Mari kita renungkan! Buatlah rencana sesuai ketentuan-Nya. Tuhan telah menentukan rasa pahit untuk teh dan kopi, dan manis untuk gula. Jika kita akan membuat secangkir minuman teh atau kopi manis, maka kita harus menyesuaikan rencana kita dengan ketentuan yang ada. Untuk mendapatkan secangkir minuman teh atau kopi manis, tentunya kita harus menambahkan gula, jangan keliru menambahkan garam yang asin atau tawas yang asam dan gara-gara sekilas tampak sama dengan gula. Demikian pula ketika merencanakan pencapaian kebahagiaan sejati, kita harus menyesuaikan dengan ketentuan Tuhan tentang kebahagiaan sejati yang mana tidak ditetapkan pada dunia material yang temporal. Jika kita merencanakan kebahagiaan sejati melalui perolehan dan penimbunan hal-hal material, maka itu akan sia-sia. Pahitnya penderitaan hidup harus dilalui dengan manisnya bhakti penuh kasih untuk menuju kebahagiaan sejati, tidak dengan cara yang lain daripada itu. Begitulah ketentuan-Nya.

Nikmati Sepi dalam Keramaian

January 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Mengapa para bijak mengingatkan dan mengajak kita untuk berusaha, berlatih, menemukan dan menikmati sepi dalam keramaian? Terkadang kita merasa jenuh melihat kehidupan di sekitar kita dan karenanya kita merasa kesepian di tengah hiruk-pikuk kehidupan ini. Teman-teman kita berubah; mereka kini memiliki kepentingan dan fokus pada hal-hal berbeda dengan kita. Kita juga melihat begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia oleh orang-orang dengan kegiatan tidak bermanfaat. Itu membuat kita merasa sedih dan kesepian, dan itu tidak menyenangkan dan tidak menenangkan sama sekali. Lalu mengapa para bijak mengajak kita berusaha, berlatih, menemukan dan menikmati sepi dalam keramaian, padahal sudah jelas kesepian itu tidak menyenangkan dan juga tidak menenangkan? Apakah kita tidak seharusnya menangani perasaan kesepian, bukannya malah berusaha menemukan dan menikmati sepi? Mari kita renungkan! Merasa kesepian bahkan ketika berada di tengah hal-hal yang sebelumnya menyenangkan bagi kita adalah salah satu parameter bahwa kebahagiaan yang didapatkan dari hal-hal material adalah bersifat temporal, tidak absolut. Selama ini kita sibuk mengejar hal-hal material yang kita anggap dapat mendatangkan kebahagiaan, dan ketika kita ada di titik jenuh, kita merasa semuanya menjadi tidak bernilai dan kita merasa kesepian karena ketiadaan nilai ini. Pamrih kita yang sangat besar terhadap hal-hal material telah membuat kita sepenuhnya hidup dalam kesadaran material, benar-benar tidak terhubung dengan kesadaran spiritual kita sendiri dan orang lain. Ketiadaan hubungan spiritual ini akan membawa kita kepada perasaan hampa dan sangat kesepian. Mahatma Gandhi mengatakan, Hubungan spiritual jauh lebih berharga daripada material. Hubungan material yang dipisahkan dari spiritual merupakan tubuh tanpa jiwa.” Apa yang dimaksud menikmati sepi dalam keramaian oleh para bijak adalah sepinya pamrih dalam semua aktivitas yang kita lakukan, sehingga kita bisa menikmati hubungan spiritual melalui aktivitas material tersebut, dan hubungan seperti itu akan mendatangkan kebahagiaan yang sesungguhnya kepada kita, karena kebahagiaan (anandam) adalah esensi dari spiritual kita. Maka dari itu para bijak yang menikmati hubungan dengan spiritual diri mereka sendiri dan orang lain, tidak pernah merasa kesepian bahkan dalam kesendiriannya.  Jika kita masih diliputi kekhawatiran untuk benar-benar melepaskan pamrih akan hasil dari kebaikan kita, itu karena kita belum tahu kebahagiaan seperti apa yang akan kita peroleh dari pelepasan tersebut.

Atasi Kebingungan Hadapi Dunia yang Membingungkan

January 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kita dihadapkan kepada dunia material yang membingungkan dan kebanyakan dari kita menghadapinya dengan kebingungan. Di suatu saat dunia membuat kita tertawa, tetapi tidak berselang lama dunia membuat kita menangis. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ditambah lagi kita dikelilingi oleh kehidupan yang semakin kacau akibat egoisme yang semakin merajalela.Terjebak dalam tubuh yang semakin tua dan mati dalam keadaan bingung adalah tidak menyenangkan. Lalu, bagaimana kita menjaga hati tetap damai, menjaga kepala tetap dingin, di tengah-tengah semua kebingungan dan kekacauan ini? Para bijak memberikan cara yang sangat sederhana, tetapi karena egoisme yang mengakar pada diri kita, membuat hal ini menjadi tidak sederhana lagi. Para bijak menyatakan bahwa kita hanya perlu memiliki sraddha atau keyakinan penuh kepada Tuhan: bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita adalah untuk keutamaan kita, bahwa Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita, bahwa Tuhan tidak pernah tidak adil terhadap kita, bahwa Tuhan sedang memberkati kita dengan pengalaman-pengalaman yang tampak baik atau buruk sebagai jalan pembebasan kita dari belenggu keduniawian. Orang-orang bijak meyakinkan kita bahwa, jika berpegang teguh kepada sraddha ini, bhakti kita pun akan terjaga dan semakin berkembang, semakin murni, dan kebingungan kita akan semakin terjawab oleh kasih-Nya bahkan di tengah-tengah situasi yang tampak sangat buruk sekalipun. Pikiran kita adalah sahabat terbaik atau musuh terburuk kita, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Jika kita menyerap pikiran kita pada kepuasan material, itu akan menyeret kita untuk berpusing pada cakra manggilingan—perputaran roda kehidupan material—di mana dualitas suka dan duka menjadi sifat dasarnya. Jika kita menyerap pikiran kita sepenuhnya dalam bhakti kepada Tuhan melalui berbagai sisi kehidupan yang kita jumpai, kita akan terserap menuju ke poros dari cakra manggilingan, hingga akhirnya benar-benar mencapai poros tersebut dan dari sana kita dapat menyaksikan perputaran roda kehidupan tanpa harus ikut berpusing dalam putaran. Apakah sekarang banyak orang edan karena sekarang adalah zaman edan? Tidak! Karena banyak orang edan zaman sekarang disebut zaman edan; bukannya karena disebut zaman edan maka sekarang banyak orang edan.

Rawat dan Gunakan Kendaraan dengan Baik

January 13, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Tubuh material ini adalah kendaraan bagi jiwa. Dengan ini jiwa melewati perjalanan kehidupan duniawi untuk menunaikan svadharmanya. Oleh karena itu tubuh ini harus dipelihara dengan baik. Namun demikian, sebaik apapun kita merawatnya, sang waktu terus berjalan detik demi detik mengantarkan kita kepada kematian. Demikianlah Sang Kala, raksasa yang tiada henti berjalan dan menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya, tak terhindarkan. Cepat atau lambat akan tiba giliran kita untuk menyerah; tidak bisa lagi mempertahankan kendaraan kesayangan kita. Oleh karena itu para bijak menggunakan tubuh material ini sebaik-baiknya selagi masih kuat untuk menunaikan svadharmanya menuju tujuan dari kelahirannya. Untuk apa tubuh yang lengkap dan sempurna jika tidak digunakan untuk melakukan kebajikan; bahkan tidak jarang malah terjadi sebaliknya, itu digunakan untuk melakukan hal-hal buruk yang merugikan tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga orang lain, sebagaimana seseorang yang secara ugal-ugalan mengendarai mobil Lamborghini miliknya dan akhirnya mencederai dan menewaskan banyak orang termasuk dirinya sendiri ketika terjadi kecelakaan. Selain merawat badan kasar (sthula sarira), kita juga harus merawat badan halus (suksma sarira) yaitu lapisan alam pikiran kita. Sebagaimana kendaraan, walaupun karoseri dan mesinnya bagus, tetapi jika kemudinya rusak atau remnya blong, maka itu akan sangat berbahaya untuk dikendarai. Orang-orang yang melakukan perjalanan jauh ingin mengendarai kendaraan yang tangguh agar lebih mudah ketika harus melewati medan yang berat. Demikian pula kita dalam melakukan perjalanan kehidupan yang panjang ini. Jika kita masih memohon dalam sembahyang, mohonlah agar diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan, bukan kemudahan. Dengan kekuatan, kesabaran dan ketabahan itulah kita bisa melewati tantangan hidup ini dengan lebih mudah. Bukan sebaliknya bahwa kemudahan akan memberi kita kesabaran, kekuatan dan ketabahan. Dalam perjalanan hidup ini ada begitu banyak tantangan dan rintangan. Ketika menemukan rintangan, kita berusaha menghindarinya. Tapi mengapa setelah berhasil menghindari suatu rintangan, kita senantiasa menemukan rintangan yang lain? Karena tidak ada jalan yang tanpa rintangan sama sekali. Semoga kita diberikan kesabaran, kekuatan dan ketabahan untuk melampaui semua rintangan.

Pelayanan Terbaik

January 3, 2016 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Seorang motivator mengatakan, “Jika anda mencari uang maka anda akan dipaksa untuk melakukan pelayanan yang terbaik, tetapi jika anda melakukan pelayanan yang terbaik maka uanglah yang mencari anda.” Timbul pertanyaan dalam benak saya: Apa yang anda lakukan setelah uang mencari anda? Dan, seandainya anda merasa terinspirasi oleh kata-kata tadi, kemudian melakukan pelayanan terbaik sambil membayangkan uang yang akan datang mencari anda, sesungguhnya anda sedang mencari uang, bukan melakukan pelayanan terbaik. Pelayanan terbaik adalah pelayanan tanpa pamrih. Jangan membiarkan pikiran kita tergelincir jauh dari Tuhan; pusat dari perputaran roda kehidupan ini. Dia adalah pusat perputaran yang bebas dari perputaran, sebagaimana poros dari roda yang berputar. Hanya dengan menempatkan pikiran di pusat perputaran roda kehidupan ini kita bisa “diam” menikmati ketenangan hati dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Jika kita mampu memanfaatkan setiap kesempatan yang kita dapatkan dalam berbagai sisi kehidupan yang kita jumpai untuk mengungkapkan bhakti kita kepada Tuhan, maka Dia akan memberikan lebih banyak kesempatan lagi kepada kita. Jika tangan mencoba untuk mendapatkan nutrisi yang dia butuhkan dengan meremas makanan di antara jari-jarinya, itu tidak akan berhasil; dia tidak akan mendapatkan nutrisi yang dia butuhkan. Hanya ketika tangan menyuapkan makanan ke mulut untuk diteruskan ke dalam perut dia akan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Demikian pula halnya ketika orang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan harapan dapat menikmati kebahagiaan, itu tidak akan berhasil. Hanya ketika dia mau berbagi kasih dengan yang lain sebagai ungkapan bhakti kepada Tuhan yang meresap di segala hal dia akan mendapatkan kebahagiaan sejati yang didambakannya selama ini. Zaman sekarang, di mana egoisme demikian merajalela dan itu adalah keadaan yang sangat menyedihkan, berbagai cara digunakan demi keuntungan diri sendiri. Keteguhan hati untuk tetap menapaki jalan kebajikan benar-benar diuji, karena dalam upaya peningkatan di sisi material jika tidak mengikuti kegilaan egoisme ini maka hal itu sangat sulit diperoleh. Jadi, kita memiliki pilihan, apakah ikut menjadi bagian dari kegilaan ini untuk menikmati kelimpahan material berupa jabatan, kekuasaan dan harta benda, ataukah tetap teguh melangkah di ranah dharma bhakti untuk menikmati kelimpahan spiritual berupa kedamaian hati?

Next Page »