Poros Cakra Manggilingan

August 26, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Esensi dari jiwa kita adalah satchitananda—keberadaan yang abadi penuh pengetahuan dan kebahagiaan sejati. Itu adalah gudang simpanan sukacita tak terbatas yang ditemukan di dalam kemurnian hati kita. Pada hakikatnya semua orang ingin bahagia dan berupaya untuk itu. Tetapi kebanyakan dari kita mengupayakan hal tersebut dengan memusatkan perhatian dan perjuangan kita kepada hal-hal material yang temporal tanpa pernah berupaya menemukan gudang penyimpanan kebahagiaan yang sejati, sehingga kita tetap berada dalam keadaan menderita, terombang-ambing oleh perputaran dualitas suka dan duka alam material. Untuk dapat menikmati kebahagiaan itu kita harus memurnikan hati kita; bebas dari keegoisan. Selama egoisme masih mendasari pemikiran kita, selama itu pula kita akan tertahan untuk dapat benar-benar turun menyusuri jalan bhakti dan jalan-jalan berikutnya dari jalan yoga; jalan kemerdekaan kita yang sesungguhnya, bebas dari segala penderitaan. Alam material selalu dihiasi dengan perputaran suka dan duka yang datang silih berganti, tidak kekal. Kita tidak bisa terhindar dan menghentikan cakra manggilingan atau perputaran roda suka-duka yang sudah menjadi hukum dasar dari alam material ini. Jika kita tidak bisa menghentikan perputaran roda, untuk tidak ikut berpusing dalam perputarannya, maka kita harus berusaha mencapai dan berdiri di poros roda tersebut; pusat dari peputaran yang tidak ikut berputar. Demikian pula halnya jika kita ingin bebas dari agitasi cakra manggilingan, maka kita harus berpaling ke dalam batin kita untuk menemukan Diri, diri kita yang sejati. Penyelidikan batin akan membawa kita menuju penghayatan akan keesaan Tuhan; Diri yang menjadi esensi dari segalanya; poros dari semua perputaran kehidupan. Hanya setelah benar-benar menghayati keesaan ini kita benar-benar merdeka, bebas dari segala penderitaan. Hanya dalam penghayatan akan kemanunggalan ini kita dapat melakukan bhakti dengan sempurna, oleh karena lenyapnya keegoisan. Kita telah bersama Tuhan sejak awal, tetapi hanya dalam bhakti murni, tanpa keegoisan, kita benar-benar dapat menikmati kebersamaan itu. Adi Shankaracharya mengatakan, “Apa penyelidikan atas Kebenaran itu? Ini adalah keyakinan yang teguh bahwa Diri adalah sejati, dan semua, selain itu, adalah tidak sejati. Ada kesedihan dalam keterbatasan. Jati Diri melampaui waktu, ruang dan obyek. Itu adalah tak terbatas dan Itu adalah hakikat kebahagiaan yang absolut.”

Seperti Lentera di Tempat Tak Berangin

August 26, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Dalam Atharva Veda 9.2.25 disebutkan, “Dalam berbagai bentuk kebajikan, Oh Kasih, Engkau menunjukkan wajah-Mu. Karuniakanlah agar berbagai bentuk kebajikan ini dapat menembus ke dalam hati kami, melempar jauh segala kedengkian!” Tuhan adalah kasih yang selalu menyertai dan ada di dalam diri kita. Kita tidak bisa menikmati hidup dengan sukacita yang sesungguhnya tanpa kasih. Kasih adalah hidup dari kehidupan. Kasih adalah cahaya yang jika dimunculkan akan melenyapkan kegelapan yang menyelimuti batin. Jika kita menghadirkan kasih dalam pikiran, ucapan dan tindakan, kita akan dapat mengatasi dualitas alam material yang temporal dengan lebih tenang. Semakin banyak kasih yang dihadirkan, hati pun akan semakin menikmati ketenangan. Ketenangan yang dibawa oleh kasih itu sendiri. Dan dalam ketenangan kita dapat menghayati dan menikmati kesejatian kita, yang adalah Anandam—Kebahagiaan Sejati, yang kita cari-cari selama ini. Sementara, selama pikiran, ucapan dan tindakan kita tidak didasari dengan kasih, maka selama itu pula kita akan berpusing dalam pusaran dualitas alam material, tercengkeram oleh karma, sehingga jiwa kembali lagi dan lagi mengalami samsara dan mengalami penderitaan buah dari karma yang harus dipetik dalam kehidupan material ini. Sebagaimana api lentera di tempat tak berangin, demikian halnya hati seseorang yang dipenuhi dengan kasih, bebas dari terpaan hawa nafsu egois, menjadi tenang. Ketika seseorang telah menikmati ketenangan dalam kasih, kesenangan tidak lagi menjadi prioritas. Karena kualitas kenikmatan dari ketenangan jauh lebih baik daripada kesenangan. Tidak akan ada paksaan untuk memilih kenikmatan ini; ketenangan hati, di mana kebahagiaan yang sesungguhnya berada. Ini adalah kebangkitan alami dari kesadaran murni yang telah ada selama ini di dalam diri kita. Namun, dalam avidya; kegelapan dalam ketidaktahuan, kita cenderung lebih memilih dan terus berusaha memperoleh kesenangan daripada ketenangan. Catur purusartha: dharma, artha, kama dan moksha bisa kita resapi sebagai tujuan utama manusia dalam perjalanan kesadarannya. Pertama-tama, melalui pelaksanaan dharma atau kewajiban-kewajiban seseorang bertujuan untuk memperoleh artha. Dengan artha yang dimiliki dia ingin menikmati kama atau kesenangan. Dan seiring perkembangan kesadarannya, ada satu hal yang paling didambakan, ketenangan hati.

Kesombongan adalah Awal dari Keterpurukan Batin

August 26, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kesombongan merupakan suatu perasaan yang biasanya mengacu pada perasaan meningkatnya status atau prestasi seseorang. Orang sombong menilai dirinya lebih dari kenyataannya dan haus pujian. Walaupun kadang dia merendahkan dirinya, tetapi sesungguhnya di balik itu dia mengharapkan pujian dari orang lain. Semakin seseorang yang sombong merendahkan dirinya, semakin banyak dia mengharapkan pujian atas kepalsuan yang menyedihkan itu. Ketika orang mengalami perkembangan hidup, baik material maupun spiritual, keduanya bisa memancing kesombongan. Untuk apa upaya keras dalam memperjuangkan kehidupan material maupun spiritual, jika dalam tahapan pencapaiannya menjadikan kita sombong. Tidak ada yang dapat dibanggakan dari sebuah kesombongan, karena itu awal dari keterpurukan yang hanya akan membawa batin kita ke dalam kegelapan. Orang yang menyombongkan diri ketika merasa telah menimba ilmu spiritual yang mendalam adalah sama seperti orang yang menimba air di sumur dengan menggunakan timba bocor. Makin besar kebocorannya, makin sedikit air yang berhasil didapatkan. Bahkan, jika kebocorannya sudah parah, dia tidak akan mendapatkan air sama sekali dari kegiatannya menimba air. Demikian pula halnya orang yang menyombongkan dirinya karena merasa telah menimba ilmu spiritual yang mendalam, tidak akan mendapatkan kenikmatan kasih karunia Tuhan, sedalam apapun ilmu spiritual telah dipelajarinya. Ajaran dharma adalah tuntunan bagi manusia untuk melakukan sweeping; menyapu, membersihkan kekotoran di dalam batinnya seperti egoisme, keserakahan, kemarahan, kebingungan, kesombongan dan iri hati. Dengan mengikuti ajaran dharma kita akan terberkati dengan kebersihan hati. Kebersihan lingkungan akan memberikan kesenangan dan kenyamanan; kebersihan hati akan memberikan ketenangan dan kedamaian. Untuk menikmati kebahagiaan kita harus menghapus semua jejak penderitaan kita dengan pelaksanaan dharma. Sebagaimana matahari terbit menghilangkan kegelapan dunia, demikianlah orang yang tekun melaksanakan dharma menghilangkan kegelapan batinnya, menikmati kebahagiaan jiwa dalam pencerahan. Adi Shankaracharya mengatakan, “Kegelapan tidak ada lagi saat matahari terbit. Demikian pula, ketika seseorang telah mencicipi kebahagiaan yang tak terdiferensiasi, tidak ada lagi belenggu atau jejak penderitaan tersisa.”

Kasih Tingkatkan Keutamaan

August 26, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kemuliaan seseorang adalah cinta kasih yang ada dalam dirinya. Dalam cinta kasih terkandung kerendahan hati dan bhakti. Kekuatan cinta kasih mendorong dan meningkatkan segala keutamaan dalam diri kita. Ketika cinta kasih berkembang sempurna memenuhi setiap sudut relung hati, tidak ada lagi egoisme, kebencian, kedengkian dan parasit hati lainnya yang mengganggu dan menghambat perkembangan kesadaran rohani kita. Hubungan manusia yang sehat didasarkan pada cinta kasih; hubungan yang membawa kebahagiaan. Tanpa adanya cinta kasih semua sifat buruk: egoisme, keserakahan, kemarahan, kebingungan, kemabukan, dan iri hati, secara bertahap akan semakin menjadi dan membuat kehidupan seseorang semakin menyedihkan. Semakin banyak orang melakukan hubungan tanpa didasarkan pada cinta kasih, sungguh kehidupan masyarakat manusia akan semakin memprihatinkan. Oleh karena itu misi dharma adalah untuk menginspirasi semua orang untuk menumbuhkan hubungan cinta kasih penuh bhakti berdasarkan pada hubungan cinta dengan Tuhan, sumber utama semua eksistensi. Para bijak memandang segala sesuatu sebagai anugerah  Tuhan. Oleh karena itu, secara mental, mereka tidak pernah terganggu dalam situasi apapun; dengan hati sabar mereka menghadapi semua dualitas alam material ini dengan tenang. Karena karma terdahulunya, para bijak juga menerima penderitaan. Namun demikian, yang membedakan mereka dengan kebanyakan orang, mereka tidak menderita dalam penderitaan yang diterima. Mereka bisa menerima penderitaan itu sebagai buah dari karma mereka sendiri, dan itu adalah jalan pembebasan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Keikhlasan adalah alat untuk mengendurkan cengkeraman karma; oleh karena itu, menerima penderitaan hidup secara ikhlas adalah cara meminimalkan penderitaan. Jadi, pada saat kita menemukan diri kita dalam kesulitan, cobalah untuk melihat penderitaan kita sebagaimana pandangan para bijak yang telah berhasil menghadapi penderitaan hidup dengan tenang dalam kesabaran hati, maka penderitaan kita akan mencair. Jika kita menemukan hikmah dari penderitaan, itu adalah harta, bekal kita dalam perjalanan menuju tujuan utama kita: kebahagiaan yang sesungguhnya. Keikhlasan terkandung dalam cinta kasih. Kekuatan cinta kasih mendorong dan meningkatkan segala keutamaan dalam diri kita. Oleh karena itu, menumbuhkan cinta kasih adalah kewajiban kita yang harus dipenuhi.

Keprihatinan kepada Pergolakan

August 1, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kita merasa prihatin dengan berbagai berita tentang pergolakan di luar sana, karena sangat mengganggu kedamaian hati kita. Keprihatinan seperti itu adalah baik, apalagi kemudian ada upaya untuk ikut serta membangun perdamaian di masyarakat melalui hal-hal yang mungkin untuk dilakukan. Pertentangan antar pikiran yang masih terjebak di antara dikotomi dualitas alam material menimbulkan pergolakan. Makin besar pertentangan yang terjadi, akan makin besar pula pergolakan yang ditimbulkan. Ketika pikiran meyakini sebuah konsep kebenaran, betapapun kuat dan besarnya keyakinan yang dimiliki, tanpa pengalaman langsung atas apa yang diyakini, itu tidak dapat dikatakan sebagai benar adanya, apalagi sebagai yang paling benar. Jika kita meyakini suatu konsep kebenaran, maka tugas kita adalah membuktikan apa yang kita yakini benar adalah benar adanya, bukannya sibuk mempertentangkannya dengan yang lain dengan berkesimpulan di awal: “Kamu salah, aku yang benar.” Kesimpulan membabi buta yang selama ini telah banyak menimbulkan bencana kemanusiaan. Sebagaimana lalu-lintas kendaraan di jalan raya, demikian pula lalu-lintas pikiran antar manusia yang terefleksi ke dalam kata-kata dan tindakan, memerlukan adanya aturan dan rambu-rambu untuk menjaga ketertiban, kelancaran dan kenyamanan berlalu-lintas. Bagaimana kita mengendalikan pikiran kita dan kemudian merefleksikannya ke dalam perkataan dan tindakan adalah seperti halnya mengendarai kendaraan, di mana etika menjadi aturan dan moralitas sebagai rambu-rambunya. Berbagai pergolakan yang kerap terjadi adalah kecelakaan lalu-lintas pikiran. Dominan kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran aturan dan rambu-rambu lalu lintas. Pelanggaran dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang berlaku ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pula pura-pura tidak tahu. Selain itu manusia sebagai pengguna jalan raya sering sekali lalai bahkan ugal ugalan dalam mengendarai kendaraan, tidak sedikit angka kecelakaan lalu lintas diakibatkan karena membawa kendaraan dalam keadaan mabuk, mengantuk, dan mudah terpancing oleh ulah pengguna jalan lainnya yang mungkin dapat memancing gairah untuk balapan. Sesungguhnya pergolakan terjadi di dalam diri kita ketika kita melanggar aturan dan rambu-rambu yang ada, yang jika diabaikan dan tidak ada perbaikan diri, pergolakan akan terus berlanjut, dan kita tetap tidak akan dapat menikmati kedamaian hati.

Tongkat untuk Tunanetra

August 1, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Ajaran agama adalah ibarat tongkat bagi seorang tunanetra. Seorang tunanetra mempergunakan tongkatnya untuk alat bantu saat menyusuri jalan sehingga tidak menabrak sesuatu atau terperosok ke dalam lubang atau terhindar dari hal-hal lain yang patut untuk dihindari. Walaupun tongkat itu dirasakan sangat membantunya untuk sampai ke tujuan dengan selamat, dia tidak pernah mengacung-acungkan tongkatnya dan berseru kepada orang lain bahwa itu adalah tongkat terbaik yang ada di dunia ini. Hanya penjual tongkat yang melakukan propaganda seperti itu. Seandainya kita yang buta ini masih belum bisa menahan diri untuk tidak mengacung-acungkan tongkat kesayangan kita, jangan sampai tongkat itu menonjok kepala orang lain di samping kita. Namun demikian, kelakuan seperti itu tetap akan tampak menggelikan bagi mereka yang melihat dengan jelas. Kebanggaan adalah kelemahan kita, dan kerendahan hati adalah kekuatan kita. Tidak ada yang layak dibanggakan di tengah kebutaan kita akan kesejatian. Daripada terus memelihara kelemahan kita dengan berbangga diri dalam kebutaan, membayangkan bahwa kita kuat dalam segala hal, lebih baik jujur mengakui kelemahan kita. Sungguh merupakan sebuah keberuntungan jika kita menemukan seorang bijaksana yang bisa jujur dan akurat menentukan kelemahan kita, dan kita bisa belajar dari orang tersebut. Dengan demikian kita akan menjadi semakin kuat dan akhirnya benar-benar kuat. Jujur mengakui kelemahan kita adalah salah satu wujud dari kerendahan hati. Jujur mengakui kelemahan adalah kekuatan. Untuk menjaga suasana hati yang rendah hati ini kita secara teratur bersujud dan berbhakti kepada Tuhan melalui berbagai upacara keagamaan dan juga pelayanan kemanusiaan melalui berbagai profesi dalam berbagai kesempatan. Dengan cara ini konsistensi dan stabilitas bhakti kita kepada Tuhan akan semakin terjaga, dan dalam bhakti yang konsisten dan stabil kita akan menikmati ketenangan hati kita. Sebagai sesama orang buta, kita mungkin memiliki tongkat yang berbeda. Gunakanlah tongkat masing-masing sebagai alat bantu untuk menyusuri jalan yang dilalui hingga sampai di tujuan dengan selamat, bukannya sibuk membanggakan tongkat milik sendiri dan bermain anggar menyerang yang lain. Swami Satchidananda mengatakan, Seseorang yang percaya pada kekerasan dan terus mencederai atau menyakiti orang lain—melalui pikiran, ucapan atau tindakan—tidak akan pernah bisa menemukan kedamaian dirinya.”

Bersatu Kita Teguh

August 1, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Pepatah ini sudah tidak asing bagi kita. Tetapi, egoisme yang terus meningkat membuat bangsa terancam tercerai-berai dan terpuruk. Egoisme merupakan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain. Egoisme akan membuat orang-orang menjadi lembaran-lembaran kertas terpisah yang mudah dirobek. Tetapi jika mereka bersatu, ibarat lembaran kertas yang disatukan, semakin banyak rangkap kertas semakin sulit dirobek bersamaan. Anda mungkin juga pernah melihat tayangan pertunjukan sulap di mana seorang pesulap merobek buku telepon lumayan tebal menjadi dua bagian. Hal ini membuat penonton kagum dan berpikir betapa kuatnya pesulap itu sehingga mampu merobek buku setebal itu. Tetapi, kenyataannya tidak demikian. Perhatikanlah, sebelum dirobek buku ditekuk di bagian tengah, lalu dengan gerakan tertentu tekukan bagian atas dikencangkan sehingga kertas terpisah dari tekukan di bawahnya. Hal ini membuat bagian tersebut dengan mudah dapat dirobek. Bagian atas tersebut dirobek sekaligus mengencangkan tekukan di bawahnya yang membuatnya terpisah dari tekukan di bawahnya lagi, sehingga bagian itu pun mudah dirobek. Demikian seterusnya sampai tekukan paling bawah, sehingga seluruh ujung buku robek dan dilanjutkan merobeknya hingga ke sisi lainnya, dan jadilah buku telepon yang tebal itu terbagi menjadi dua. Demikian pula halnya bangsa ini, belakangan tampak begitu mudah dikoyak oleh para tirani. Apakah itu terjadi karena para tirani itu sangat hebat? Tidak! Mereka hanyalah para pesulap yang berupaya memainkan teknik sulap merobek buku telepon. Semakin mudah bangsa ini ditekuk-tekuk, semakin mudah terkoyak, dan pesulap konyol berharap mendapat tepuk tangan penonton sebagai bintang panggung pertunjukan yang layak dikagumi. Waktunya telah tiba bagi bangsa yang berketuhanan ini bersatu. Meskipun Tuhan disebut dalam bahasa dan dengan nama berbeda, tidak berarti bahwa Dia menjadi terbagi menjadi hal berbeda. Tuhan, meskipun banyak nama, Dia tetap esa sebagai esensi dari kita semua. Oleh karena itu, kita seharusnya menjaga persatuan dan jangan sampai ideologi bangsa ini tertekuk agar tidak mudah terpecah-belah. Kita semua seharusnya merangkul tujuan bersama: menikmati kebahagiaan dalam kasih Tuhan. Jika tidak, perpecahan dan degradasi moralitas akan terus dan semakin menggerogoti bangsa ini.

Kebijaksanaan Lebih Utama daripada Kehebatan

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Tidak sedikit orang hebat dan ingin menjadi hebat di dunia ini dengan kemampuan material atau intelektual, dengan kekuatan natural atau supranatual, dengan jabatan tinggi dan besarnya kekuasaan. Tapi berapa banyak orang bijaksana di antara orang-orang yang hebat itu? Selama ini, apa yang telah dihasilkan dari kehebatan tanpa kebijaksanaan? Kehancuran! Ego atau keakuan yang mengharapkan pengakuan dan pujian memunculkan keinginan untuk menjadi orang hebat. Keinginan seperti itu merasuki pikiran kebanyakan orang di seluruh dunia ini. Tapi, betapapun hebatnya seseorang, kedamaian dan nama baik tetap diperoleh dari kebaikan yang muncul dari kebijaksanaannya. Maka dari itu, kebijaksanaan lebih utama dari kehebatan, dan berusaha untuk menjadi orang yang bijaksana jauh lebih penting daripada menjadi orang hebat. Bagi mereka yang mendambakan kedamaian, kebijaksanaan adalah kehebatan sesungguhnya. Bagi orang kebanyakan, kehebatan cenderung mendatangkan kebanggaan dan kesombongan. Ketika masih dominan hidup dalam kesadaran material, setiap orang memiliki kecenderungan untuk menjadi bangga atas apa pun yang dia miliki. Oleh karena itu, mereka yang berusaha untuk menjadi orang bijaksana sangat berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam perangkap kebanggaan. Kita harus sangat berhati-hati untuk tidak menjadi bangga atas apa pun kemajuan, baik material maupun spiritual, yang telah kita peroleh. Untuk menaklukkan kebanggaan orang bijaksana selalu menjaga kerendahan hatinya; menghormati orang lain tanpa pernah menuntut penghormatan yang sama dari orang lain untuk dirinya. Ini adalah ajaran luhur, kebijaksanaan dari para rshi agung, kehebatan sesungguhnya. Orang yang merasa berbhakti kepada Tuhan yang dipujanya melalui ritual-ritual keagamaan yang diyakini, tanpa mampu berbhakti kepada pemuja lain, apalagi merendahkan dan berbuat semena-mena, sesungguhnya dia tidak benar-benar berbhakti kepada-Nya. Oleh karena itu, kedamaian hati tidak akan pernah diperolehnya. Untuk memurnikan bhakti kepada Tuhan, yang kita butuhkan adalah kebijaksanaan hasil dari kerendahan hati, bukan kehebatan kemampuan material atau intelektual, kekuatan natural atau supranatual, tingginya jabatan atau besarnya kekuasaan, besarnya pengaruh dan banyaknya pengikut. Tanpa kebijaksanaan semua kehebatan itu tidak ada gunanya bagi kebahagiaan kita.

Kegiatan yang Sama dengan Orientasi Berbeda

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Waktu adalah hal yang paling berharga yang kita miliki. Setiap waktu yang terbuang percuma tidak akan pernah ditemukan kembali. Oleh karena itu para bijaksana selalu menggunakan waktu mereka untuk hal-hal yang bermanfaat. Yang benar-benar bermanfaat dari semua adalah menggunakan waktu untuk keuntungan abadi dalam kehidupan rohani mereka. Ini tidak berarti bahwa kita harus mengabaikan kebutuhan tubuh material yang temporal. Kita harus melihat tubuh material yang temporal ini sebagai alat untuk dimanfaatkan dengan cara-cara yang bermanfaat untuk mencapai tujuan utama kelahiran kita. Mereka dirawat untuk dapat dengan nyaman terserap dalam melakukan bhakti melalui berbagai sisi kehidupan yang kita jumpai. Setiap waktu adalah kesempatan yang sangat berharga, dan sangat disayangkan jika itu disia-siakan dalam kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, yang merugikan bagi perkembangan kehidupan rohani kita. Para bijak mengabdikan hidup mereka untuk mereformasi diri, mengubah arah perjuangan dari perjuangan eksternal belaka ke perjuangan untuk kepentingan internal. Orang-orang mungkin melakukan kegiatan yang sama dengan orientasi berbeda. Oleh karena itu, setiap orang mungkin tidak merasakan hal yang sama ketika melakukan kegiatan yang sama. Jika kita tidak merasakan kebahagiaan ketika melakukan kebajikan-kebajikan, kita harus memperhatikan kembali orientasi kita saat melakukan kebajikan-kebajikan tersebut, untuk menemukan keinginan, selain keinginan untuk mengungkapkan bhakti, yang berpotensi mengakibatkan terlepasnya kebahagiaan dari genggaman hati kita. Orientasi yang berbeda dari suatu bentuk kebajikan yang dilakukan akan membawa dampak yang berbeda pula. Pemberian kecil yang penuh kasih dan tepat sasaran akan memberi dampak positif yang jauh lebih besar pada hati si penerima daripada pemberian besar yang memiliki orientasi bisnis semata, di mana pemberian dilakukan dengan harapan itu akan membawa keuntungan material kembali kepada si pemberi. Tepat sasaran dan keikhlasan penuh kasih dari si pemberi adalah letak nilai sesungguhnya dari suatu pemberian, bukan seberapa besar pemberian yang diberikan. Karena itu, Amritanandamayi Devi  mengatakan, “Jika anda tidak mampu memberikan bantuan materi kepada mereka yang membutuhkan, berikanlah senyuman, kata-kata dan ekspresi penuh kasih.” Itu adalah pemberian mulia.

Jatuh dari Tebing Lebih Mudah daripada Memanjatnya

July 11, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Setiap orang ingin hidupnya meningkat, baik secara material maupun spiritual. Tidak ada hubungan langsung antara peningkatan material dan spiritual; bahwa, peningkatan material tidak bisa membuat seseorang mengalami peningkatan spiritual; dan, peningkatan spiritual tidak bisa membuat seseorang mengalami peningkatan material. Namun demikian, bagi orang-orang yang peduli dengan peningkatan spiritualnya, mereka akan mengedepankan dharma dalam mendapatkan dan menggunakan hal-hal material. Maka dari itu, tidak semua orang yang giat bekerja berupaya memperoleh hal-hal material adalah orang yang materialistis. Bahkan, para bijak pun, selama itu memungkinkan, tetap berupaya memperoleh hal-hal material untuk dapat digunakan melakukan suatu kebajikan terhadap orang lain. Memang benar, tidak ada hubungan langsung antara peningkatan material dan spiritual, tetapi semakin teruji keikhlasan seseorang dalam melakukan kebajikan-kebajikan melalui hal-hal material, akan semakin sedikit mengalami gangguan mental dalam melakukan sadhana untuk peningkatan spiritualnya. Untuk mencapai puncak tebing yang tinggi, jauh lebih sulit daripada terjun bebas dari puncak tersebut. Demikian pula dalam hal material maupun spiritual, untuk mengalami keterpurukan jauh lebih mudah daripada mencapai peningkatan. Kita harus berupaya keras dan tak kenal putus asa untuk mencapai peningkatan, tetapi untuk jatuh dan mengalami kehancuran sangat mudah. Kita harus menggunakan waktu secara bijaksana untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk mencapai tujuan kelahiran kita: kebebasan sejati dalam pencerahan spiritual, di mana kebahagiaan sesungguhnya berada. Dalam Sarasamuccaya 6 ditekankan, “Kesimpulannya, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia. Ini kesempatan yang sungguh sulit diperoleh; yang merupakan tangga untuk pergi menuju ke alam surga. Segala sesuatu yang menyebabkan menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.” Istilah surga berasal dari kata “svarga” dalam Bahasa Sanskrit. “Svarga” terbentuk dari kata “svar” yang berarti cahaya dan “ga” yang berarti pergi, menuju atau ada di dalam. Jadi “svarga” berarti menuju atau ada di dalam cahaya. Kemudian kita mengenal istilah “svargaloka” atau “svarloka” atau “svahloka” yang berarti alam cahaya; alam pencerahan; alam cahaya kesadaran spiritual.

Next Page »