Kesabaran Bukan Kelemahan

January 16, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kebanggaan pada hal-hal duniawi adalah benih kesombongan, yang menyebabkan seseorang cenderung melakukan hal-hal yang tidak dapat dibenarkan, tidak adil, merugikan atau menyakiti yang lain. Tetapi kesombongan seseorang bisa diatasi dengan kesabaran hati. Mereka yang memiliki kesabaran hati akan terbukti lebih berharga dan memberikan banyak manfaat dan hal ini menyadarkan orang-orang sombong yang memang mau belajar akan penghargaan yang sesungguhnya. Kesabaran bukanlah kelemahan, tetapi merupakan pendekatan positif yang bisa membuat orang-orang yang sombong menjadi terbungkam tanpa harus mencederainya. Namun, hal ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang berjiwa besar, yang mampu mempertahankan kesabarannya ketika tersakiti. Menjadi tetap sabar dan bijaksana ketika tersakiti sungguh adalah pukulan yang sangat telak bagi yang menyakiti. Membalas suatu kejahatan dengan kebajikan adalah pembalasan yang terbaik dan terindah. Kebanggaan duniawi adalah awal dari kehancuran dan tinggi hati adalah awal dari kejatuhan, keterpurukan spiritual karena tersesat dari jalan yang benar, menyebabkan jiwa terus terbelenggu oleh maya dan terlunta-lunta dalam  kesadaran material. Dari kerendahan hati tumbuh kesabaran, yang merupakan syarat mutlak bagi peningkatan spiritual kita, dan itu adalah penjaga dan pendorong semangat kita dalam melewati tahap demi tahap perjalanan spiritual kita. Untuk itu Anandamayi Ma berpesan, “Miliki kemauan teguh dan kesabaran sepenuhnya.” Orang yang tetap sabar menerima kata-kata kasar penuh penghinaan bisa jadi adalah lebih murni daripada seorang pertapa yang hidup menyendiri. Seorang pertapa, betapa pun lamanya dia bertapa, tidak akan bisa mencapai kebijaksanaan tertinggi jika masih terprovokasi oleh penghinaan. Ada kata-kata bijak mengatakan, “Berbuat salah adalah manusiawi, memaafkan adalah kesucian.” Para bijak mampu memaafkan dengan memandang kesalahan seseorang sebagai sebuah kewajaran, manusiawi, karena dia masih diliputi avidya; kebodohan, kegelapan dalam ketidaktahuan. Ketika menerima tuntunan untuk tetap bersabar dan memaafkan saat kita menerima penghinaan, pertanyaan yang sering muncul dari kita yang belum memiliki kesabaran sepenuhnya adalah: “Bagaimana kalau seseorang menghina kita berulang kali?” Jawaban para bijak, “Jika kita dihina berulang kali, maafkanlah dia berulang kali.” Jawaban sederhana yang sungguh sulit untuk direalisasikan.

The Friction of Meditation

January 16, 2015 by · Comments Off
Filed under: Inspiration 

The visible form of fire, while it lies latent in its source, the fire-wood, is not perceived; yet there is no destruction of its subtle form. That very fire can be brought out again by means of persistent rubbing of the wood, its source. In like manner, Atman, which exists in two states, like fire, can be grasped in this very body by means of Om. By making the body the lower piece of wood and Om the upper piece and through the practice of the friction of meditation, one perceives the luminous Self, hidden like the fire in the wood.

– Svetasvatara Upanishad 1.13-14

Don’t Touch Me on My Religion…or Identity

January 16, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

SOUTH AFRICA, December 14, 2014 (Times Live by S. Makhanya):

Rarely do we in South Africa have a year in which someone does not touch someone else on their religion, race, culture or ethnic heritage. We have reported on recurring disputes such as the spat over fireworks during Diwali every year.

In 2002, Hindu vets Vis Pillay, Ramona Rambally, Sanil Singh and Vis Govender – who lost an eye during a fireworks display – called for a ban on “big bang” fireworks. Their call followed the tabling of an Explosives Bill, with Hindu leaders Ram Maharaj and Ashwin Trikamjee blasting policy-makers for not consulting the Hindu community before declaring that people wanting to use fireworks would have to apply for permits. In 2007, the bill was still being debated, and by 2013 nobody was sure whether a national ban on the use of fireworks at private homes was in place.

Conflicts over religious issues have not been restricted to adults. Children have often found themselves at the centre of religious and cultural battles, mostly at schools. In November 2012, we reported on a row over a Johannesburg private primary school exam set on the same day as Diwali. The matter was reported to the Commission for the Promotion and Protection of the Rights of Cultural, Religious and Linguistic Communities by a mother whose son attended the school.

Commission CEO Pheagane Moreroa said at the time that the matter would be cited in a report that would form part of the recommendations for a Public Holidays Act, which would propose seven more religious holy days converted to public holidays. The act remains in the works at the Home Affairs Department.

Facing Intolerance, Many Sikhs and Hindus Leave Afghanistan

January 16, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

KABUL, AFGHANISTAN, January 14, 2015 (Rawa News):

Rawail Singh, a leader of Kabul’s Sikh community, is a big supporter of recently sworn-in President Ashraf Ghani. But despite Mr. Ghani’s pledge to make Afghanistan more inclusive, Mr. Singh says he worries that his tiny religious minority could disappear as more Sikhs and Hindus leave their homeland because of persistent discrimination. “If the new government of Afghanistan doesn’t pay attention to this issue, obviously one day there will be no Sikh or Hindu left in Afghanistan,” he said.

Islam is Afghanistan’s official religion. Though the country’s constitution recognizes the right of members of other faiths to practice freely, and many moderate Afghan Muslims embrace diversity, Sikhs and Hindus say they often face intolerance of their religious practices and customs here.

One autumn evening, Sikhs and Hindus lit candles as they gathered in a temple in Kabul for Diwali, the festival of lights that is their most important annual celebration. Every year, members of the community say, attendance at Diwali dwindles. So does their population in the country. No official data exists, but community members say they are down to around 7,000 people, the majority of whom are Sikhs, from roughly 200,000 before the country’s civil war began in 1992.

Much more of this interesting article at ‘source’.

Kesabaran adalah Udara Segar bagi Penyelam Kehidupan Rohani

January 15, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kebanyakan orang yang kehilangan kesabaran, dan mulai dirundung amarah, kemudian berkata, “Kesabaran orang juga ada batasnya.” Ketika kita melakukan sadhana, berlatih dan menjaga kesabaran, dan tentu saja, belum benar-benar bisa menanggalkan selimut egoisme, itu seperti menyelam dengan berbekal oksigen satu tabung, yang mana oksigennya akan habis dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, para bijak selalu memberi bimbingan dan motivasi agar kita terus berusaha untuk mendapatkan kesabaran yang sempurna, yang tak terbatas, dan menikmati kebahagiaan sesungguhnya di sana. Ibarat orang menyelam, berusaha untuk mendapatkan selang yang selalu terhubung dengan udara segar tak terbatas, sehingga bisa terus menyelam tanpa khawatir kehabisan oksigen. Tuhan adalah Udara Segar tak terbatas. Penyelam kehidupan spiritual berupaya mendapatkan saluran yang terhubung dengan Udara Segar tak terbatas itu melalui meditasinya hingga pada akhirnya mencapai Samadhi, yaitu keadaan di mana si penyelam sudah menemukan selang yang dimaksud dan terhubung dengan Udara Segar tak terbatas itu, yang membuat si penyelam tidak akan pernah kehabisan oksigen kesabaran untuk bisa tetap menyelam menikmati keindahan di kedalaman samudera kehidupan ini. Pesan dari para bijak, “Jika suatu kejahatan dilakukan kepadamu, lebih baik untuk tidak membenci si pelaku, apalagi membalasnya dengan kejahatan pula.” Bagi kita yang belum mencapai kebijaksanaan penuh kesabaran, pesan bijak ini mungkin terasa lebih menyakitkan daripada kejahatan yang kita terima. Tetapi keuntungan besar yang dihasilkan dari mengamalkan prinsip kebajikan ini telah benar-benar dirasakan oleh para bijak, karenanya dalam hal ini mereka selalu memberi pesan yang sama agar kita merasakan keuntungan yang sama seperti apa yang telah mereka nikmati dalam kesabarannya. Ketika merasa tersakiti, berdoalah untuk mendapatkan kesabaran itu: “Ya Tuhan, yang ada dalam segalanya, tunjukkanlah kepada hamba bagaimana cara melihat-Mu pada orang-orang ini. Tunjukkan jalan terang-Mu kepada hamba. Ya Tuhan, ampunilah mereka yang telah menyakitiku. Karena kebodohannya, mereka tega melakukan semua ini. Mereka tidak tahu apa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan yang akan merugikan dirinya sendiri. Ampunilah mereka dan tunjukkanlah jalan yang terang bagi mereka.” Sungguh doa yang indah.

All This is Nothing But Brahman

January 15, 2015 by · Comments Off
Filed under: Inspiration 

The enjoyer (jiva), the objects of enjoyment and the Ruler (Isvara)-the triad described by the knowers of Brahman-all this is nothing but Brahman. This Brahman alone, which abides eternally within the self, should be known. Beyond It, truly, there is nothing else to be known.

– Svetasvatara Upanishad 1.12

Jangan Mata Dibalas Mata

January 14, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Para bijak tidak akan menghargai mereka yang pendendam, yang mana pembalasan menjadi pandangan hidup mereka, betapa pun tingginya status yang mereka miliki. Para bijak sangat menghargai kesabaran sebagai hal tak ternilai melebihi emas dan permata; karenanya mereka memuji orang-orang yang memiliki kesabaran sebagai orang yang budiman, betapa pun rendah status yang mereka miliki. Di antara orang-orang yang memiliki kesabaran, para bijak akan sangat menghargai mereka yang mampu memaafkan; benar-benar tidak lagi mempermasalahkan suatu kesalahan, ketidakadilan atau kejahatan yang dilakukan kepada mereka, dan di sisi lain mereka tidak akan menghargai orang yang melakukan pembalasan dendam, apapun alasannya. Hal ini sungguh kebajikan yang sangat langka. Tetapi, itulah jalan menuju pencerahan di mana terletak kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Melakukan pembalasan dendam sesungguhnya menunjukkan seseorang sama saja dengan yang menyakitinya; masih didominasi oleh egoisme. Apalagi jika hal itu didasarkan pada fanatisme kelompok, pembalasan dendam akan menjadi rangkaian mata rantai yang panjang dan hanya berujung pada kehancuran. Mahatma Gandhi mengatakan, “Mata dibalas mata hanya akan membuat buta seluruh dunia.” Sukacita dari balas dendam berlangsung sangat singkat, dan hal itu tidak benar-benar dapat mengobati sakit hati para pendendam. Sedangkan jika seseorang mampu mengembangkan kesabarannya dengan sempurna, maka kemuliaan buah dari kesabaran akan dinikmatinya dan berlangsung sampai akhir zaman. Melakukan pembalasan dendam demi kepuasan sesaat adalah kebodohan, karena telah mengorbankan kemuliaan buah dari kesabaran, yang abadi. Dengan pembalasan dendam orang mungkin untuk sementara merasa puas, karena terpenuhi keinginannya, tapi dalam kurun waktu yang panjang, hanya menghasilkan kehancuran. Mengorbankan kemenangan besar hanya demi kesenangan sesaat bukanlah hal yang bijaksana. Prinsip-prinsip kesabaran sempurna dari para bijak sungguh tidak lazim di tengah zaman di mana begitu banyak orang dengan egoisme yang tinggi lebih lantang dan lebih puas meneriakkan prinsip mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, nyawa dibalas nyawa, walaupun telah terbukti bahwa di mana pun prinsip ini dipedomani dan dikobarkan hanya menghasilkan kehancuran yang sangat menyengsarakan. Namun demikian, dari pengalaman yang demikian nyata, orang-orang bebal ini tetap kesulitan untuk belajar.

When the Lord is Known

January 14, 2015 by · Comments Off
Filed under: Inspiration 

When the Lord is known all fetters fall off; with the cessation of miseries, birth and death come to an end. From meditation on Him there arises, after the dissolution of the body, the third state, that of universal lordship. And lastly, the aspirant, transcending that state also, abides in the complete Bliss of Brahman.

– Svetasvatara Upanishad 1.11

Kesabaran adalah Kekayaan

January 13, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Kesabaran adalah kekayaan tak ternilai yang menjadi bekal utama dalam melewati tahap demi tahap perjalanan spiritual kita. Kebajikan utama adalah tetap sabar terhadap hinaan seseorang. Untuk perkembangan spiritual kita, melawan kesalahan, ketidakadilan atau kejahatan dengan kesabaran adalah hal yang utama dan mendasar. Ketika ada orang yang melanggar batas-batas kesusilaan dan berperilaku buruk tanpa alasan, atau dengan alasan yang keliru kepada kita, itu adalah saat yang tepat untuk berlatih kesabaran. Kebajikan di atas kesabaran adalah memaafkan, dan kebajikan tertinggi adalah melupakannya sepenuhnya atau tidak mempermasalahkannya sama sekali. Ini sungguh tidak gampang tetapi harus diupayakan sebagai dharmasadhana kita. Tidak mempedulikan seorang teman yang bodoh adalah kelemahan hati yang belum memiliki kesabaran. Sebaliknya, mereka yang memiliki kekuatan hati karena kesabarannya akan mampu untuk tetap peduli kepada orang-orang bodoh. Para bijak mempersembahkan keutamaan dari kesabaran tanpa pengecualian, bahkan ketika terasa memberatkan dan melelahkan berurusan dengan orang-orang bodoh. Hanya mereka yang memiliki kekuatan hati dapat menanggung beban berat dan melelahkan seperti itu. Jika kita ingin menjalani hidup penuh kebajikan, kita harus melatih dan mempertahankan kesabaran. Bahkan dalam melatih kesabaran dibutuhkan kesabaran. Karena itu tidak serta merta didapatkan dalam sekali latihan. Itu membutuhkan keseriusan dan ketekunan dalam berlatih, dan waktu untuk proses perkembangannya. Dengan kesabaran kita dapat meningkatkan kualitas pengendalian diri untuk menghindari apa yang harus dihindari dan menghargai apa yang harus dihargai. Para bijak yang telah memiliki kesabaran sempurna, hatinya seluas semesta, tetapi tidak ada ruang sedikitpun di dalam wilayah hatinya yang seluas itu untuk menyimpan bahkan hanya satu niat jahat sekalipun, karena semua ruang yang ada telah dipenuhi dengan karunia kasih Tuhan. “Kesimpulannya, kesabaran hati merupakan kekayaan yang sangat utama. Itu adalah bagai emas dan permata yang dimiliki oleh orang-orang yang mampu memerangi kekuatan hawa nafsu, yang tidak ada melebihi kemuliaannya. Itu juga adalah puncaknya pathya. Pathya disebut pathadanapeta; tidak tersesat dari jalan yang benar, dan merupakan pedoman untuk mencapai setiap apa yang akan dituju di sepanjang waktu dan yang di luar waktu.”—Sarasamuccaya 93.

Constant Meditation on Him

January 13, 2015 by · Comments Off
Filed under: Inspiration 

Prakriti is perishable. Hara, the Lord, is immortal and imperishable. The non-dual Supreme Self rules both prakriti and the individual soul. Through constant meditation on Him, by union with Him, by the knowledge of identity with Him, one attains, in the end, cessation of the illusion of phenomena.

– Svetasvatara Upanishad 1.10

Next Page »