Menghapus Keinginan

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Seorang sisya bertanya kepada gurunya, “Guru, jika anda diberi sebuah jimat yang dapat memenuhi tiga keinginan anda, apa yang akan anda inginkan?” Gurunya menjawab, “Saya akan menggunakannya cukup untuk satu keinginan saya.” Sisya itu penasaran, “Apa yang akan anda inginkan?” Sambil tersenyum gurunya berkata, “Saya akan menginginkan jimat tersebut dapat menghentikan semua keinginan saya.” Adakah jimat yang dapat memenuhi keinginan seseorang untuk menghentikan keinginan-keinginannya seperti yang diinginkan Guru dalam ilustrasi tersebut? Keinginan adalah benih bawaan lahir semua makhluk, dan dari benih inilah perputaran kelahiran dan kematian berasal. Para bijak menyatakan bahwa tidak adanya keinginan adalah kebajikan dasar dalam upaya peningkatan kesadaran spiritual semua manusia. Namun demikian, seseorang tidak bisa begitu saja meniadakan keinginannya. Pikiran sangat tidak mudah melepaskan keterikatannya pada alam material, karena dia sendiri adalah bagian dari alam material itu sendiri. Untuk itu, seseorang memerlukan upaya keras dalam melalui tahapan demi tahapan dari sadhana yang harus dilakukan. Jika ada yang menawarkan jalan pencapaian pencerahan dengan sangat mudah, yakin itu hanya propaganda bisnis semata. Satguru Sivaya Subramuniyaswami mengatakan, “Seseorang tidak secara tiba-tiba mencapai titik di mana keinginan hilang. Keinginan adalah hidup. Keinginan dapat diarahkan sesuai dengan kehendak pribadi. Melalui sadhana anda bisa mendapatkan penguasaan atas semua kekuatan pikiran dan tubuh anda.” Untuk menghapus keinginan, melalui sadhana, pikiran kita yang cenderung menaruh perhatiannya ke luar, pada hal-hal material, secara perlahan-lahan dan bertahap, sedikit demi sedikit dibalikkan arahnya menuju ke dalam, ke alam spiritual kita. Melalui sadhana, kita dengan penuh bhakti melayani Dia yang tidak butuh pelayanan, memuja Dia yang tidak butuh pemujaan, memikirkan Dia yang tak terpikirkan; membicarakan Dia yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Upaya yang aneh, tetapi itulah jalannya; aneh tapi nyata. Dalam Bhagavad Gita 8.9 ditegaskan, “Orang harus memusatkan pikiran kepada Dia yang  maha mengetahui, yang maha kawi, yang maha kuasa, yang lebih halus dari yang paling halus, yang mengendalikan segala hal, yang tak terbayangkan; Dia yang bercahaya bagaikan matahari transendental di atas segala kegelapan alam material ini.”

Pahami dan Kendalikan Keinginan

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Jika anda berharap Tuhan memudahkan jalan anda untuk memenuhi keinginan anda, bantulah Dia mewujudkannya dengan mengurangi dan menyederhanakan keinginanan anda, dengan memilah dan memilih keinginan yang benar-benar dibutuhkan untuk kelangsungan hidup, terlebih lagi demi perkembangan spiritualitas kita. Dengan mengembangkan pola hidup sederhana otomatis akan menyederhanakan keinginan kita; dan di dalam kesederhanaan tersebut, keinginan yang muncul akan banyak berkurang. Semasih kita hidup dalam kesadaran naluriah yang cenderung materialistis, keinginan sering menjadi sumber masalah, karena tidak semua yang diinginkan adalah apa yang dibutuhkan; dan, tidak semua yang dibutuhkan otomatis diinginkan, bahkan acapkali apa yang dibutuhkan tidak diinginkan. Dengan memahami dan mengendalikan semua keinginan yang muncul, kemudian melepaskan kepergiannya, akan menggerus penderitaan yang disebabkan oleh keinginan-keinginan itu. Semua keinginan adalah wujud dari keterikatan. Hanya dengan berserah, mengikatkan diri sepenuhnya kepada Dia yang tidak memiliki keterikatan dengan apapun, orang terbebas dari semua ikatan yang lain; dan hanya setelah itu orang benar-benar tidak memiliki keinginan. Orang yang terbebas dari segala keterikatan akan terbebas dari segala bentuk kesedihan. Keinginan adalah keterikatan; dan, keterikatan adalah penderitaan; lalu, bagaimana bisa kita mencapai kebahagiaan dengan segudang keinginan yang kita miliki? Mengapa untuk bahagia kita takut menanggalkan keinginan-keinginan kita? Apa keinginan untuk bahagia harus ditanggalkan juga? Perkataan Mahatma Gandhi berikut ini patut direnungkan: “Kebahagiaan akan menjauh dari kita jika kita mengejarnya. Sesungguhnya, kebahagiaan hanya datang dari dalam. Ini bukan komoditas yang diterima dari luar.” “Rame ing gawe sepi ing pamrih”, ini adalah inti dari karmayoga. Ketiadaan pamrih tidak akan menggagalkan hasil dari suatu kerja. Karena, sesuai hukum karmaphala, yang mendatangkan phala (buah atau hasil) adalah karma (gawe atau kerja) kita, bukan pamrih kita. Ketiadaan pamrih akan menghindarkan kita dari kesedihan akibat tidak terpenuhinya pamrih yang kita tempatkan pada suatu kerja yang kita lakukan. Landasan semangatnya adalah bhakti dalam penuntasan swadharma kelahiran kita di dunia ini.

Bebaskan Diri dari Perputaran Samsara

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Tirukkural 356 menyebutkan, “Mereka yang telah belajar dan memahami hakikat yang benar di sini, akan menemukan jalan yang tidak akan membawa mereka kembali ke sini.” Mereka yang dengan tekun, penuh kesungguhan dan semangat, belajar untuk menyadari kebenaran, akan baik-baik saja dalam perjalanan mereka membebaskan diri dari samsara—perputaran  kelahiran dan kematian. Dengan menyadari hakikat kebenaran, seseorang terbebas dari perputaran kelahiran dan kematian, dan segala bentuk penderitaan di dalamnya; yang tertinggal hanyalah kebahagiaan yang sesungguhnya; kebahagiaan tanpa semburat kesedihan; yang merupakan hakikat tujuan dari semua jiwa. Svetasvatara 1.7 menyebutkan, “Tuhan Yang Agung itu sendiri tak tersentuh oleh fenomena yang dicanangkan dalam Upanishad-Upanishad. Dalam Hal ini ditetapkan tiga serangkai: penikmat, obyek dan Tuhan yang adalah Sang Pengawas atau Pengendali. Tuhan adalah dasar yang kekal abadi; Dia tak terhancurkan. Para bijak, setelah menyadari Tuhan menjadi esensi dari fenomena, menjadi penuh bhakti kepada-Nya. Benar-benar terlarut dalam Tuhan, mereka mencapai kebebasan dari kelahiran kembali.” Tidak penting siapa diri kita di kehidupan yang lalu; itu sudah berproses dan menjadi kehidupan kita sekarang. Juga, tidak penting siapa diri kita di kehidupan yang akan datang; itu adalah hasil dari proses kehidupan kita sekarang. Jadi, yang penting adalah siapa kita di kehidupan sekarang. Nikmatilah dalam pengabdian, karena hanya dalam pengabdian diperoleh kenikmatan yang sesungguhnya. Kelahiran demi kelahiran adalah sebuah proses menuju ke sumber asal. Tidak ada yang perlu dibanggakan dan disombongkan dari sebuah kelahiran dan hal-hal lahiriah yang menyertai. Kesombongan adalah kesumbangan mental yang bisa menghambat proses kesadaran diri menuju kesadaran asal yang abadi, penuh pengetahuan dan kebahagiaan. Svetasvatara Upanishad 1.8 mengatakan, “Tuhan mendasari semua yang telah digabungkan ini—fana dan baka; yang terhancurkan dan tak terhancurkan;  yang mengejawantah, dampaknya dan yang tak termanifestasikan, penyebabnya. Tuhan yang sama, Diri Yang Agung, kehilangan Ketuhanan, menjadi terikat karena mengasumsikan sudut pandang atau sikap dari penikmat. Saat jiva kembali menyadari Diri Yang Agung, dia dibebaskan dari segala belenggu.” 

Melampaui Belitan Khayalan

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Para bijak yang tercerahkan, yang telah berhasil melampaui belitan keraguan, khayalan dan penderitaan di dunia ini akan lebih dekat kepada kebahagiaan jiwa, sukacita yang sesungguhnya, daripada semua kesenangan indriyawi terhadap hal-hal material yang bersifat sementara. Dalam Bhagavad Gita 7.28 disebutkan, “Orang-orang berperilaku mulia, yang dosanya telah berakhir; mereka terbebas dari khayalan terhadap hal-hal berpasangan yang berlawanan, memuja-Ku dengan sepenuh hati.” Semua pengetahuan yang diperoleh melalui indriya akan menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan pemahaman yang benar. Tanpa pemahaman yang benar, pikiran tidak bisa menjadi pusat kendali yang kuat atas aktivitas independen dari indriya. Bagi orang yang telah memiliki pemahaman yang benar, akan menjadikan pikirannya sebagai pusat kendali, di mana semua informasi yang diterima melalui indriya-indriya dikumpulkan, disusun, dikaji dan dievaluasi dalam pola terpadu dari pandangan murni dan pemahaman yang benar, tanpa prasangka. Jika tidak, bukannya pikiran yang menjadi pusat kendali dari semua informasi yang diterima, tetapi informasi-informasi itulah yang akan mengendalikan pikiran. Seorang bijak Jawa mengatakan, “Aja nyawang wonge, sawangen Uripe.” Artinya: “Jangan melihat orangnya, lihatlah Hidupnya—jati dirinya.” Tidak peduli seperti apa tampaknya, seperti apa sifatnya, kebijaksanaan terletak pada upaya untuk memahami jati dirinya. Orang tercerahkan yang telah memiliki pemahaman yang benar, akan dapat mengungkapkan Diri yang esa, yang merupakan hakikat dan imanen dari segala sesuatu yang beragam di dunia ini. Dalam Svetasvatara Upanishad 1.3 disebutkan, “Para bijak, terserap ke dalam meditasi melalui kemanunggalan pikiran mereka, menemukan kekuatan kreatif, yang merupakan keesaan dari Tuhan sendiri dan tersembunyi di dalam guna-Nya sendiri. Bahwa aturan main Tuhan yang esa atas semesta alam yang menyebabkan adanya waktu, Diri dan sebagainya.” Selama orang-orang masih terbelit oleh khayalan mereka, memandang sebatas pada sisi eksternal sebagai individu-individu yang terpisah antara “aku”, “kamu” dan “dia”, atau sebagai golongan “kita” dan “mereka”, tanpa memandang Tuhan yang mendasari semua keberagaman ini, akan tetap ada potensi konflik di antara mereka, dan siap menjadikan kehidupan mereka porak-poranda, hancur oleh prasangka khayalan yang tidak memahami kebenaran yang sesungguhnya.

At Hindu Temple in Hockessin, a Tour of India

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

DELAWARE, U.S., April 12, 2015 (Delaware Online):

From the brightly colored costumes to the traditional music to the jangling ankle bracelets worn by many dancers, a small portion of Delaware was taken on a tour of Indian culture Saturday. Nearly 500 people attended the event, called Maha Shakthi, at the Hindu Temple of Delaware. “It’s such a feast for the eyes and the ears and everything,” said Chitra Vaidyanathan, who was attending the event. “It’s so mesmerizing and uplifting just to see it.”

By honoring different Hindu Goddesses, the event recognized many different sects of Hinduism. “It gives the kids a sense of where you’re from and who you are,” Vaidyanathan said. “These kids very much belong to American culture, but this gives them a chance to know Indian culture, too.” The dance ceremony was also used to kick off more than a month of celebration up to Memorial Day, when the temple will recognize its 13th anniversary.

Brain Scans Show the Influence of Yoga and Meditation on Pain Perception and Aging

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

For the pain study, research subjects received light pain stimuli in the form of mild electrical shocks to one of their forearms. The meditation group experienced the pain in both an everyday state of mind and in a state of meditation. They turned out to experience the pain not as less strong, but as less unpleasant. In their brains, the reduced pain perception went hand in hand with increased activation in the posterior insula (the area involved in the sensation of pain) and decreased activity in the lateral prefrontal cortex (the area that regulates experiences). This pattern is the opposite of what happens in the brains of non-meditators. In other words, meditators were able to reduce their pain in a unique way by tolerating the pain sensations instead of exerting mental control over them.

More at source.

Big Temple Car Set for a Glorious Comeback after 100 Years

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

THANJAVUR, INDIA, April 10, 2015 (The Hindu):

All is set for the trial run of the brand new temple car crafted for the internationally famed Sri Brihadeeswarar temple (“Big Temple”) here on April 20. The actual car festival is slated for April 29, an event Thanjavur is poised to witness after nearly a century. Besides the new temple car, the roads of the four main thoroughfares on which the car is to be drawn have been paved afresh to facilitate a smooth run.

More than 30 sthapathis have been handcrafting the towering car for close to 15 months now. Around 25 tons of Iluppai and country teakwood are being used to make the 18-foot tall temple car. The new temple car would be a three-tiered wooden structure atop which rests the devasanam on which the simhasanam is perched. On that simhasanam, the processional Deity would be ensconced. “The specialty of the car work is that we have incorporated the global image of the Big Temple, the steep tower, and the maha Nandi as icons on the car. Besides, the sthapathis are taking particular care to ensure that the work reflects the Big Temple’s grandeur in every possible sphere,” say C. Varadaraja Sthapathy and C. Sivadurai Sthapathy, entrusted with the task of crafting the temple car.

“Commander Selvam” Sentenced in Georgia Temple Fraud Case

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

ATLANTA, GEORGIA, April 14, 2015 (Associated Press):

Federal prosecutors say the former leader of a Hindu Temple in Georgia has been sentenced to more than 27 years in prison for defrauding his followers and the temple’s creditors. Annamalai Annamalai of Baytown, Texas, was convicted in 2014 of 34 counts including fraud and obstruction–related charges. Prosecutors say Annamalai demanded fees for spiritual services and then charged members’ credit card numbers for more than the agreed amount. Prosecutors say he sent false documents to credit card companies and filed lawsuits against the followers who challenged him. He also was convicted for sending a false email to an IRS agent and submitting false statements to a grand jury and a bankruptcy court. Annamalai is also known as Dr. Commander Selvam and Swamiji Sri Selvam Siddhar.

Ganesha Temple Opens in Norway

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

NORWAY, March 24, 2015 (NRK):

Norway’s fourth Tamil temple has opened, in Alesund. Three priests, from England, Denmark and Oslo, came to do a “water vessel ceremony” to consecrate the place, which will be repeated every twelve years. “In order for a building to be considered a temple it must be consecrated. If it has not been blessed there won’t be any spiritual power.” says Rasathurai Sathinalingam who is chairman of the board at Alesund Hindu Cultural Center. “Now that we have a permanent meeting place it will be easier to give a religious education to our children,” explains Mrs. Suki Ponnuthurai.

About 350 Hindus live in the surrounding More and Romsdal coastal district. Even though the temple is primarily for Hindus, people of other faiths are welcome. “Yes, everyone can come here,” Sathinalingam exclaims. Among those who came to express congratulations to the Hindu community on this occasion was Oystein Engas, head of the Norwegian Lutheran Mission. Despite the fact that Engas is head of the local missionary work, he says that it is good for Christians to practice tolerance for other religions and he emphasizes that there will be no attempts to try to convert any of the Hindus here.

US Congressional Representative Tulsi Gabbard Marries in a Hawaiian Hindu Wedding

April 18, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

WASHINGTON, D.C., April 11, 2015 (Times of India):

In an event unique in the history of US politics and of Hawaii, the country’s 50th state, a lawmaker from the famed island was married in a Hindu ceremony on Thursday, with the chanting of Vedic mantras and the dappling backwaters of the Pacific bouncing off lush green mountains in the backdrop. In a sylvan, secluded spot on the eastern shore of Oahu, at a historic site that native Hawaiian people used as a fish pond, Hawaii Congresswoman Tulsi Gabbard, 33, and her fiance Abraham Williams, 26, a cinematographer she met on the campaign trail, were married by a Hindu priest.

The ceremony, according to those who attended it, concluded with a traditional yoga kirtan with friends and family celebrating the newly married couple with Hawaiian song and dance, followed by a vegetarian meal. The event was attended by the couple’s closest friends and a smattering of lawmakers, including both Democratic and Republican leadership in Congress. Guests included BJP general secretary Ram Madhav, who flew in from India with a special message and gift from PM Narendra Modi, and India’s acting ambassador and charge d’affairs in Washington, Taranjit Sandhu.

Although the number of Hindus living in Hawaii is relatively small, with only a few Hindu temples in the entire state, Gabbard has been vocal and transparent about her faith. She took oath in Congress on the Bhagavad Gita, and presented the same copy to PM Modi when she called on him in New York.

Next Page »