Keraguan adalah Kehilangan

June 23, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Pertimbangan dan keraguan adalah dua hal yang berbeda. Pertimbangan adalah pemikiran yang muncul dari kebijaksanaan untuk menghindari ucapan atau tindakan yang sekiranya membawa dampak yang merugikan, membahayakan atau menyakiti orang lain, dan pada akhirnya juga memberi dampak yang sama kepada diri sendiri. Sementara, keraguan muncul dari tidak adanya kemantapan hati oleh karena ketidaktahuan kita. Orang yang tidak memiliki kemantapan hati selalu diliputi keraguan. Mempertimbangkan sebelum berucap atau bertindak sama seperti perencanaan matang suatu program sebelum melaksanakan program tersebut. Kita mungkin mengambil sedikit waktu untuk melakukan pertimbangan, tetapi akan memberikan banyak manfaat dalam menggunakan waktu selanjutnya. Sementara, keraguan akan membuat kita benar-benar kehilangan kesempatan. Apalagi, ketika kita memperoleh kesempatan untuk melakukan suatu kebajikan, kita harus mengambil manfaat dari kesempatan itu segera. Kita mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan seperti itu lagi di kemudian hari. Kesempatan melakukan suatu kebajikan adalah kesempatan untuk menikmati hubungan kasih dengan Tuhan yang selama ini kita mengaku menyembah-Nya. Apakah kita benar-benar menyembah Dia yang adalah Energi Kasih, jika kita masih memiliki keraguan untuk berbagi kasih? Kabir mengatakan, “Seruling dari Yang Tak Terbatas dimainkan tanpa henti, dan suaranya adalah kasih: Ketika kasih menolak semua batas, ia mencapai kebenaran. Betapa luas keharuman menyebar! Ia tidak memiliki akhir, tidak ada yang menghalangi jalannya.” Para bijak tidak memiliki keraguan untuk mengikuti jalan dharma, karena mereka telah menikmati manfaat dari itu—kedamaian. Meresapi Tuhan sebagai jiwa agung semesta, kesadaran universal dan energi kasih murni, yang merupakan esensi dari semua keberadaan, adalah keharusan utama bagi semua orang yang ingin menaklukkan egonya sendiri. Kedamaian yang diperlihatkan para bijak seharusnya sudah cukup untuk memotivasi diri kita sendiri untuk mengikuti jejak langkah mereka menapaki jalan dharma. Menikmati kebahagiaan sejati adalah hak semua orang. Itu bukan hak waris dari suku, agama atau ras tertentu, sebagaimana semua orang berhak menikmati tidur lelap. Orang yang menyatakan dirinya sebagai ahli waris dari tidur lelap, dan bukan orang lain, malah tidak akan pernah menikmati tidur lelap. Dia akan terus gelisah akibat dari keserakahannya sendiri.

What’s in a Hindu Name?

June 23, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

UNITED STATES, June 7, 2015 (Lassi With Lavina by Lavina Melwani):

Recently US Congresswoman Tulsi Gabbard got married in a Vedic ceremony in Hawaii. A Hindu, she has even taken her congressional oath on the Bhagavad Gita. Her name Tulsi means the Holy Basil which is so central to Hindu belief. Her mother Carol Gabbard was brought up in the Brahma Madhva Gaudiya tradition and named her five children Bhakti (worship), Jai (a Hindu salutation), Aryan (noble one), Tulsi (sacred plant) and Vrindavan (Lord Krishna’s abode).

It got me thinking – what’s in a name and how can one use such a simple device to enhance the spiritual lives of one’s children? It certainly has deeper connotations than naming a child after candy or a jewelry store! Hindus often name their children after Gods, kings and wonderful attributes. The namakarana or naming ceremony is a powerful one where the name of child is whispered to the child by the father or chosen relative after prayers.

For female children there are powerful Mother Goddesses to emulate, from Durga to Kali to Devi to Parvati. Saraswati is the Goddess of Learning and Lakshmi is the Goddess of Wealth. Sita is the incarnation of the perfect woman and Radha, the beloved of Krishna, is also a popular name because she depicts Cosmic Love, the striving of the soul for the Supreme Being.

Great kings and noble attributes are also popular choices

Bhagavad Gita Debuts in Communist China

June 23, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

CHINA, June 20, 2015 (Hindustan Times):

The Bhagavad Gita has made its debut in China with the release of a Chinese version during an international yoga conference being held in the Communist nation. Translated by professor Wang Zhu Cheng and Ling Hai of Zhejiang University in Shanghai and published by Sichuan People’s Publications, the book was launched at a function attended by eminent yoga teachers from India who had converged at Dujiangyan in southwestern Sichuan province to attend the Yoga Festival.

This is perhaps the first time a well-known Hindu ancient religious text has been published in China. Last year, scholars from India and China published an Encyclopaedia on the age-old cultural contacts between the two countries, tracing back their history to over 2000 years.

Kita Harus Memiliki Sraddha dan Bhakti

June 22, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Jika Tuhan ada dimana-mana; Dia ada di dalam segala hal, dan segala hal ada di dalam Dia, lalu mengapa kemanunggalan dengan Tuhan harus menjadi tujuan? Bukankah Dia sudah ada di dalam kita dan kita ada di dalam Dia, bahkan jelas dinyatakan dalam Upanishad bahwa, pada esensinya, Diri kita adalah Tuhan itu sendiri—Tat tvam asi; Itu adalah engkau. Kita terpisah dengan Tuhan bukan dalam pengertian fisikal, tapi kesadaran. Selama pikiran terus bergerak, terombang-ambing ke sana ke mari, kita tetap ada dalam kesadaran material; dan kita akan merasakan sebagai eksistensi yang terpisah, tidak mampu menghayati kemanunggalan jiwa semesta. Hanya ketika vritti atau pergerakan pikiran berhenti, ada dalam keheningan yang stabil, pikiran dapat merefleksikan kesadaran jiwa semesta, sebagaimana air yang benar-benar tenang dapat merefleksikan cahaya rembulan dengan sempurna. Kita dengan mudah tertarik dan termotivasi untuk mengikuti jejak langkah perjuangan orang-orang yang telah mencapai kesuksesan material. Tetapi, mengapa kita tidak mudah tertarik dan termotivasi untuk mengikuti jejak langkah perjuangan para bijak yang telah mencapai kesuksesan spiritual? Karena pikiran kita dengan mudah memahami sukacita seperti apa yang dirasakan mereka yang telah mencapai kesuksesan material. Sementara, ketika masih dominan hidup dalam kesadaran naluriah, kita tidak memahami sukacita seperti apa dinikmati para bijak yang menarik diri dari kesenangan indriyawi yang selama ini cenderung menjadi dambaan kita. Setelah merasakan kelelahan mental karena sekian lama terombang-ambing oleh dualitas permanen dari dunia material yang temporal, kita mulai tertarik kepada ketenangan sempurna yang diperlihatkan oleh para bijak, dan tumbuh keyakinan bahwa sesungguhnya itulah yang kita dambakan selama ini, tapi kita mengupayakannya melalui hal-hal yang tidak menyediakan itu. Kita harus memiliki sraddha; keyakinan penuh untuk mengikuti para bijak yang selalu setia memedomani dharma dalam menjalani hidupnya. Pemahaman yang benar memberi kita keteguhan hati. Keteguhan hati untuk memedomani dharma akan membawa kita kepada kerendahan hati, dan kerendahan hati membawa kita kepada bhakti; pengabdian tanpa pamrih, dan pengabdian tanpa pamrih membawa kita menuju ketenangan penuh kebahagiaan yang telah dinikmati oleh para bijak.

The Aryan Imbroglio

June 22, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

INDIA, June 15, 2015 (Mydigitalfc by Michel Danino):

Surprisingly, whether Vedic literature, the earliest in India, begins before, during or after the Indus-Sarasvati civilisation remains an unsettled question after almost a century of Harappan archaeology. The answer hinges on whether one accepts or rejects the mainstream view that Aryan-speaking tribes swept into the Indian subcontinent around 1500 BC, some four centuries after the decline of the Harappan cities, and settled in northwest India to compose the Vedic hymns. In that perspective, the Indus-Sarasvati civilisation would be pre-Vedic and would therefore have little to do with subsequent developments in the Ganges plains, where, in the first millennium BC, a new civilisation emerges that will soon give rise to the kingdoms and empires we are familiar with, and ultimately to ‘classical’ India.

Mainstream or not, the Aryan theory has seen many avatars, from a brutal and massive conquering invasion swamping the indigenous people to a largely peaceful immigration limited to a few waves of ‘trickling-in’ Aryans. This tactical retreat — a dilution, rather — has been necessitated by the failure of archaeology, anthropology and genetics to support the old scenario, and their occasional success in opposing it. It would have completely faded away but for linguistics, which still insists on the origins of the Sanskritic branch of the Indo-European family of languages being located outside India — but where and when, there seems to be no agreement in sight.

We cannot go deeper here into the complex question of the origins of Vedic culture, except to point out that the characterization (‘demonization’ would be more appropriate) of critics of the Aryan scenario as ‘hindu chauvinists’ or ‘hindutva communalists’ is deeply dishonest, although widespread in India as in the West. In reality, strong opposition to the Aryan paradigm was first voiced not by Indians but by European scholars such as British archaeologist and philologist Isaac Taylor (1890) or French archaeologist Salomon Reinah (1892). Several noted Indian scholars did follow suit — PT Srinivasa Iyengar (1914), BN Datta (1936), AD Pusalker (1950), PV Kane (1953) — as well as prominent public figures: Swami Vivekananda (1897), Sri Aurobindo (1914) or BR Ambedkar (1946), none of whom can invite the above invectives.

In recent decades, British anthropologist Edmund Leach, US bioanthropologist Kenneth AR Kennedy, US archaeologist Jim Shaffer, French archaeologist Jean-Paul Demoule, Italian linguist Angela Marcantonio, Estonian biologist Toomas Kivisild, all of them accomplished academics, have vigorously argued against the Aryan paradigm. Expectedly, our ‘demonizers’ have studiously ignored them, exerting themselves instead to create an impression in the public mind that hindu fanatics alone oppose the Aryan invasion/migration theory.

Preparations for New Kailash Pilgrimage Route in Place: China

June 22, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

BEIJING, CHINA, June 17, 2015 (Daily Pioneer):

China is pressing ahead with preparations to open the new second Kailash Manasarovar Yatra road route to Indian pilgrims on June 22 despite difficulties caused by the recent devastating earthquake in Nepal which has badly affected the border regions in Tibet. The first batch of the pilgrims was expected to travel through the new land route through Nathu La in Sikkim on June 22. Several Indian and Chinese officials were expected to take part in the event.

Cintai Diri, Jangan Bunuh Diri

June 21, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Dualitas adalah karakteristik dari dunia material ini. Secara alami semua orang akan mengalami suka dan duka dalam perjalanan hidupnya. Tidak ada orang yang hanya mengalami hal-hal yang menyenangkan atau yang menyusahkan saja di sepanjang hidupnya. Kehidupan material ada diistilahkan sebagai cakra manggilingan atau “roda yang berputar” mengingat suka dan duka yang selalu datang silih berganti. Suka dan duka dalam kehidupan material adalah hal yang wajar, dan kita harus menerimanya dengan wajar sebagai sebuah kewajaran. Ketika suka dan duka tampak sebagai hal yang wajar, karena pikiran cenderung tidak tertarik kepada sesuatu yang wajar-wajar saja, maka dia menjadi lebih mudah dialihkan perhatiannya dari dualitas yang selama ini telah membuatnya terombang-ambing. Dan, pada saat di mana semua tampak sebagai kewajaran, secara alami pula orang akan beralih perhatiannya, lebih fokus kepada kehidupan spiritual, yang esa, untuk menikmati kedamaian yang sesungguhnya. Cintailah diri, jangan bunuh diri. Kata atmaha dalam bahasa Sanskrit bisa berarti bunuh diri, membunuh jiwa, dalam arti orang yang tidak mempedulikan kebutuhan jiwa; tidak memanfaatkan kesempatan terlahir menjadi manusia untuk meningkatkan kesadaran jiwa sebagai Diri yang abadi penuh pengetahuan dan kebahagiaan. Dalam kondisi mental seperti itu, seseorang menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Kita seharusnya tidak menjadi pembunuh bagi jiwa kita sendiri dengan hanya sibuk mengejar artha dan kama untuk kepuasan indriya material tanpa pernah mempedulikan kehidupan spiritual kita. Kita seharusnya mencintai Diri kita, diri kita yang sesungguhnya, dengan melibatkan diri secara konsisten dalam pelayanan-pelayanan penuh bhakti terhadap kemanusiaan, sebagai ungkapan bhakti kita kepada Tuhan; Diri dari segalanya. Kebahagiaan yang dirasakan karena memperoleh hal-hal material adalah relatif, tidak mutlak. Oleh karena dulaitas sudah menjadi karakteristik dunia material, maka kebahagiaan yang dirasakan karena perolehan hal-hal material hanya bersifat sementara. Sukacita seperti itu akan secara berangsur-angsur, bahkan terkadang seketika, memudar. Hal itu bisa terjadi karena kebosanan atau situasi tertentu yang tidak memenuhi kriteria kepuasan indriya, atau situasi yang berlawanan dengan kriteria tersebut. Oleh karena itu, para bijak selalu menghimbau agar kita mengalihkan pusat perhatian ke sisi dalam, jiwa kita sendiri, untuk menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya.

Hinduism in America: The Looming Crisis and How to Avert It

June 21, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

UNITED STATES, June 15, 2015 (Dharma Civilisation Foundation, by Vamsee Juluri):

The American Hindu community has to make some vital decisions soon on what it holds important, if not sacred, for its children and grandchildren. There is at the moment a fundamental challenge to the existential validity of Hinduism that many Hindus have not fully comprehended. Surrounded as we are by the trappings of our own seeming success as a community in America, proud of our culture and temples, we don’t quite grasp that we have left ourselves incredibly vulnerable to a problem that can easily erase whatever we cherish in two generations.

There are some academicians who understand and sympathize with the everyday Hindu practitioners’ views, but they do not have the support they need from the community as of now to help change the old and flawed mindsets among many of their colleagues. Despite its many achievements, the Hindu American community has been dismally poor in engaging academia. We have many successful academicians from our community no doubt, but most of them are not in positions to change the current discourse about Hinduism or about India. A professor of engineering, medicine, or management who happens to be Hindu will not be called on CNN or CSpan to counter those “experts” who insist that Hinduism is responsible for rapes and violence in India. Neither can our temple priests step up to this role. Contrast this situation with that of other major religious communities in the US: usually an expert on a religion steps up to offer positive, or at least sympathetic views of that religion, when it is under fire for real or perceived ills. We are perhaps the only major community that does not have that simple privilege.

For more of this important essay, go to source

One Million Nepalese Slip Below Poverty Line Due to Earthquakes

June 21, 2015 by · Comments Off
Filed under: Uncategorized 

KATHMANDU, NEPAL, June 15, 6, 2015 (by Shirish B Pradhan, Outlook India News):

Nearly one million people have slipped below poverty line in Nepal due to two powerful earthquakes that left about 9,000 people dead and a trail of destruction across the country. “The earthquakes have pushed 982,000 more people back into poverty due to the loss of assets and income generating opportunities,” according to a report by Nepal’s National Planning Commission. The draft report on Post Disaster Needs Assessment (PDNA), which will be given final shape soon, has put the needs estimate of the country at USD 6.66 billion or nearly one third of the country’s Gross Domestic Product.

The draft PDNA, prepared by the NPC working with some 250 Nepali and international experts, divides the damage assessment into 21 sectors. It has calculated the damage extent in housing and human settlements, the sector suffering the most damage, at US$3.2 billion. Damage to education and tourism is estimated at $274 million and $176 million respectively. NPC handed over the PDNA draft report to Prime Minister Sushil Koirala on Friday. Vice Chairman of NPC Govind Raj Pokharel claimed that the report will be finalised by June 18 and will include inputs from broader consultations to be organised in Kathmandu on Saturday, as well as donors’ comments thereafter. The report will be tabled before the donor community at an international donors conference here on June 25 to collect resources for the post \quake rebuilding and reconstruction.

Pandita Sejati Tetap Seimbang dalam Dualitas Dunia Material

June 19, 2015 by · Comments Off
Filed under: Renungan Suci 

Pandita sejati adalah orang yang rendah hati oleh karena kebijaksanaannya, dan oleh karena itu dia memiliki keseimbangan mental yang mantap, yang tetap tenang dalam suka dan duka, pujian dan hinaan, panas dan dingin, dan dualitas dunia material lainnya. Dalam Bhagavad Gita 5.18 dikatakan, “Seorang pandita yang arif bijaksana melihat semuanya sama, baik terhadap seorang cendikiawan, seekor sapi, gajah, anjing, ataupun seorang nestapa yang terabaikan.” Pandita sejati tidak bisa dilihat dari penampilannya, tidak dari bagaimana cara dia bicara, berjalan atau duduk, tidak dari tingginya pendidikan, gelar atau banyaknya referensi pemahaman spiritual yang dia miliki, juga tidak dari banyaknya pengikut yang setiap hari sungkem mencium tangan atau kakinya, tapi dari kerendahan hatinya yang penuh kasih dalam kebijaksanaan. Perputaran musim terus berlangsung, tak terelakkan. Awal musim panas menjadi hal yang indah bagi kita setelah melewati periode musim hujan dengan segala kendala yang diberikan. Sebaliknya, awal musim hujan menjadi hal yang indah bagi kita setelah melewati periode musim panas dengan segala kendala yang diberikan. Kita merindukan cahaya dan terik matahari ketika hujan menjadi kendala dalam aktivitas kita; dan kita merindukan mendung atau hujan ketika terik matahari sudah menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi indriya kita. Kita berharap cuaca dalam musim mau bersahabat dan mendukung semua aktivitas yang kita lakukan dengan harapan apa yang diinginkan melalui aktivitas tersebut dapat tercapai. Ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan, keluhan dab kesedihan kita mulai muncul. Sementara, para bijaksana memandang dan menerima perputaran musim dan segala perubahan cuaca sebagaimana adanya; mereka tidak menuntut alam menyesuaikan diri dengan apa yang diinginkannya, tetapi merekalah yang menyesuaikan diri dengan segala perubahan alam material, sehingga pikiran mereka tetap harmonis dengan alam material ini, menjalani apa adanya, dengan tenang. Demikianlah para bijak tetap seimbang dalam suka dan duka, pujian dan hinaan, panas dan dingin, dan dualitas lainnya dari dunia material ini. Rabindranath Tagore mengatakan, “Awan datang melayang ke dalam hidupku, tidak lagi membawa hujan atau mendatangkan badai, tapi untuk menambah warna langit senjaku.” 

Next Page »